Pengantar
Gegap gempita dunia pariwisata Provinsi Jambi sempat mampu merangsang kunjungan wisatawan mancanegara ke daerah itu medio 1995 - 2000 kini nyaris tinggal kenangan. Popularitas pariwisata daerah itu kian pudar, dan kunjungan wisata pun tak memuaskan. Otonomi daerah (Otda) sebenarnya diharapkan mampu kembali menggairahkan pariwisata daerah itu. Namun, harapan itu tinggal sekadar impian. Potret buram pariwisata Jambi tersebut dilaporkan koresponden SP di Jambi, Radesman Saragih.
![]()
foto-foto: SP/Radesman Saragih
Sarana wisata di kebun binatang atau Taman Rimba Kota Jambi kini banyak yang rusak karena tidak terawat. Sarana penginapan di taman itu kini berubah menjadi "rumah hantu".
mbisi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi membangun kawasan pariwisata berkelas dunia yang tertuang dalam Program 100 Hari Gubernur Jambi, H Zulkifli Nurdin tahun 2000, ternyata masih jauh panggang dari api. Itu masih sebatas angan-angan. Tujuh tahun sudah berlalu sejak program Pariwisata Jambi Menuju Pesona Dunia tersebut dikumandangkan. Dua periode sudah Zulkifli menduduki jabatan Gubernur Jambi.
Geliat pariwisata Jambi belum tampak. Impian sang gubernur pilihan rakyat tersebut menjadikan pariwisata sebagai wadah jaring pengaman sosial (JPS) melalui pariwisata inti rakyat juga belum terwujud.
Di tengah ambisi membangun pariwisata berkelas dunia itu justru terjadi kondisi ironis dunia pariwisata Jambi. Pariwisata di wilayah ini cenderung semakin karut-marut. Objek-objek wisata di daerah itu kian merana. Kondisi itu terjadi karena banyak objek wisata yang tidak dikelola secara serius, bahkan ditelantarkan.
Sebagian besar wisata Jambi yang pada masa Orde Baru mulai mampu mendongkrak kunjungan wisata, kini justru nyaris tak ditoleh wisatawan karena kondisi objek tersebut hancur.
Salah satu objek wisata andalan Provinsi Jambi yang kini sangat merana dan nyaris mati suri, yakni Kebun Binatang Taman Rimba Aneka Ria di Kota Jambi. Pesona objek wisata yang disandingkan dengan lokasi Taman Mini Jambi dan arena Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-18 tahun 1997 kini pudar sudah.
Pantauan SP di Taman Rimba Kota Jambi baru-baru ini, sebagian besar sarana wisata di objek wisata itu rusak berat. Benar-benar kian merana. Satwa yang berada di Taman Rimba Kota Jambi itu juga bagai teraniaya karena kurang terurus. Sedangkan berbagai fasilitas wisata di taman tersebut sudah banyak yang rusak, termasuk penginapan, kandang satwa, dan sarana telepon.
Penanganan Taman Rimba semakin terabaikan pascagagalnya proyek water boom (permainan seluncur air) di taman itu. Proyek bernilai Rp 6,5 miliar tahun anggaran 2005/2006 tersebut tersandung kasus korupsi yang melibatkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Syamawi Darahim, sejumlah pejabat dinas tersebut dan pengusaha. Kasus korupsi tersebut membuat proyek itu dihentikan sejak Januari 2006.
Kerusakan objek wisata tersebut juga terjadi di beberapa kabupaten. Salah satu di antaranya kerusakan berbagai objek wisata di Kota Bangko, Kabupaten Merangin. Taman Sungai Misang Indah yang dibangun menjadi arena lintas alam tahun 1997, sudah lama berubah menjadi terminal truk. Objek wisata itu tak lagi terawat, sehingga wisatawan enggan singgah menikmati keindahan dan kesegaran alam di taman yang ditumbuhi pepohonan rindang tersebut.
Dam Betuk dan Taman Buaya juga kini tidak terawat, sehingga tak lagi dilirik wisatawan. Agenda wisata arung jeram di Sungai Batang Merangin, Kabupaten Merangin yang sempat menghentak dunia pariwisata Jambi tahun 1998, kini tak lagi terdengar gaungnya. Wisata arung jeram di sungai tersebut kini tinggal kenangan.
Kontras
Pudarnya pesona wisata Jambi setelah otonomi daerah (otda) ini kontras dengan kondisi pariwisata Jambi sebelum otda beberapa tahun lalu. Gairah wisata Jambi saat ini benar-benar lesu. Sebelum otda, pariwisata Jambi senantiasa semarak karena ada banyak paket wisata. Paket wisata tersebut membuat wisatawan berlomba-lomba menikmati pesona wisata Jambi. Baik wisata sejarah, agama, wisata lingkungan dan alam serta agro wisata.
Setelah otda, paket wisata itu hilang. Para pejabat daerah "produk" otda di daerah tersebut terkesan tak lagi menaruh perhatian serius terhadap pembangunan pariwisata. Hal tersebut tampak dari tidak masksimalnya pembangunan objek wisata serta sarana dan prasarana pendukung pariwisata. Akibatnya, pariwisata Jambi semakin dipandang sebelah mata oleh para wisatawan nusantara dan mancanegara.
Buramnya potret pariwisata Jambi tersebut diakui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi (Disbudpar), Hj Mualimah. Pariwisata Jambi setelah otda ini memang kurang menggairahkan. Kondisi itu secara gamblang dapat dilihat dari kunjungan wisata yang masih relatif rendah.
Yang berkunjung ke Jambi tahun 2006 misalnya hanya 649.300 wisatawan nusantara dan 5.664 wisatawan mancanegara. Jumlah ini masih terpaut jauh dari target kunjungan wisata di daerah itu rata-rata satu juta wisatawan setahun. Kemudian wisatawan yang berkunjung ke Jambi itu pun hanya segelintir wisatawan murni yang ingin menikmati pesona wisata alam dan budaya Jambi.
Sedangkan 90 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jambi tersebut hanya untuk kepentingan bisnis. Wisatawan pebisnis ini banyak berasal dari dari negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Sekitar 82,6 persen dari 4.700 orang wisatawam mancanegara yang berkunjung ke Jambi itu berasal negara-negara tetangga tersebut. Sisanya berasal dari Taiwan, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Eropa, dan Amerika Serikat.
Hal senada diakui Tour Manager Biro Perjalanan Wisata PT Saung Bulian Jambi, Lina. Wisatawan mancanegara yang murni ingin berwisata ke Jambi sangat rendah. Selama tahun 2006, pihaknya hanya mendapatkan 40 wisatawan mancanegara dibawa berkunjung ke objek-objek wisata di Jambi. Indikator rendahnya kunjungan wisata ke Jambi ini dapat juga dilihat dari jumlah kamar yang dihuni wisatawan di hotel-hotel dan penginapan (home stay).
Kepala Seksi Akomodasi Disbudpar Provinsi Jambi, Hasan Basri mengatakan, jumlah kamar hotel berbintang yang terjual untuk wisatawan di Jambi sejak 2005 - 2006 hanya rata-rata 25 kamar per hari. Sedangkan kamar hotel melati dan home stay yang terjual di kota tersebut hanya dua kamar per hari. Hunian hotel itu sangat rendah bila dibandingkan 1.883 buah kamar yang tersedia di 122 hotel dan tujuh home stay.

Situs purbakala Candi Muarojambi yang merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Kabupaten Muarojambi hingga kini belum layak "jual" kepada wisatawan karena belum dikelola secara profesional.
Miskin Paket
Rendahnya kunjungan wisata ke Jambi banyak dipengaruhi miskinnya paket wisata serta kurang profesionalnya pengelolaan objek wisata. Tidak adanya paket wisata tersebut membuat wisatawan buta peta wisata Jambi. Keadaan itu diperburuk pula oleh keadaan sarana dan prasarana wisata yang miskin. Baik sarana rekreasi, akomodasi, transportasi, jalan, pemandu wisata dan kenang-kenangan. Kondisi pariwisata Jambi yang kurang baik itu banyak tersiar ke pasar wisata nasional dan internasional.
Terabaikannya penanganan pariwisata tersebut banyak dipengaruhi kurangnya kepedulian pemerintah daerah pasca-Otda. Setelah Otda bergulir, pemerintah kabupaten dan kota di Jambi cenderung kurang mau bekerja sama dengan pemerintah provinsi membangun pariwisata. Akibatnya pembangunan pariwisata terkotak-kotak.
Menurut Kadisbudpar Provinsi Jambi, Mualimah, rendahnya kepedulian pemerintah kabupaten di Jambi terhadap pembangunan pariwisata ini tampak dari pengelolaan objek-objek wisata yang kurang profesional. Perhatian terhadap pembangunan sarana dan sarana wisata, khususnya jalan menuju objek wisata juga minim.
Kemudian pembinaan terhadap para pengusaha yang bergerak di bidang pariwisata cenderung terabaikan, baik terhadap agen wisata, pengusaha transportasi, pengusaha hotel, restoran, dan perajin.
Selain itu keseriusan pemerintah kabupaten dan kota di daerah tersebut dalam pencatatan dan pelaporan hasil pembangunan pariwisata dan kunjungan wisata juga kurang. Kunjungan wisata ke Jambi tidak bisa disajikan secara aktual kepada wisatawan hingga saat ini karena pemerintah kabupaten dan kota enggan melaporkan kunjungan wisata di daerah masing-masing secara rutin.
"Kondisi ini membuat kita kesulitan mengetahui informasi mengenai perkembangan pariwisata dan kunjungan wisata di setiap kabupaten dan kota," katanya.
Lina mengatakan, pengelolaan wisata di Jambi benar-benar belum profesional. Hal ini tampak dari keterbatasan sarana dan prasarana wisata. Misalnya, sarana transportasi atau angkutan pariwisata belum ada.
Para pengusaha jasa pariwisata di daerah tersebut hingga kini masih sulit mendapatkan bus pariwisata. Padahal ketersediaan bus pariwisata itu sangat mendukung jasa pariwisata. Jalan dan jembatan menuju objek-objek wisata di Jambi masih banyak yang rusak.
"Hingga kini biro-biro perjalanan di Jambi masih kesulitan membawa wisatawan menjelajahi objek wisata di daerah ini. Kita kesulitan bus atau mobil khusus wisata. Belum ada swasta yang menyediakan bus atau mobil wisata di Jambi. Kita masih mengandalkan bus atau mobil travel umum untuk membawa wisatawan. Ini yang perlu diperhatikan pemerintah. Seharusnya pemerintah menyediakan bus wisata untuk disewakan," katanya.
Selain itu, katanya, pemerintah dan masyarakat Jambi juga kurang siap mengembangkan wisata. Keadaan ini tampak dari tidak adanya restoran khusus untuk wisata. Wisatawan di Jambi masih sering makan di restoran umum. Selain itu cendera mata khas juga kurang.
Tidak adanya mobil wisata, restoran, dan cendera mata ini membuat pihak biro perjalanan sulit menyusun anggaran untuk satu paket wisata. Padahal biaya satu paket wisata ini penting agar wisatawan tahu pasti biaya yang harus mereka keluarkan dalam satu kali kunjungan.
"Hal ini penting karena wisatawan yang kita tangani umumnya sistem kelompok atau grup, bukan perseorangan. Mereka menginginkan kejelasan biaya perjalanan," katanya. *