[BANDUNG] Inflasi yang terjadi di Jawa Barat (Jabar) selama 2007 sebesar 5,10 persen. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan angka inflasi pada tahun 2006 sebesar 6,15 persen. Tingkat inflasi yang lebih terkendali di tahun 2007 ini, salah satunya disebabkan oleh pergerakan harga beras yang relatif stabil.
"Penyebab lainnya, tidak adanya kenaikan harga pada administered price yang memiliki dampak terhadap kenaikan harga komoditas lain dan berdampak besar terhadap inflasi, misalnya bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat (Jabar), Lukman Ismail di Bandung, Rabu (2/1).
Dalam 12 bulan ini, papar dia, inflasi terjadi pada sepuluh bulan. Dengan inflasi tertinggi di bulan Agustus sebesar 0,90 persen. Sedangkan yang terendah pada November dengan 0,13 persen. Sementara itu, deflasi terjadi pada dua bulan lainnya, April (0,33 persen) dan Mei 2007 (0,15 persen).
"Sumbangan inflasi terbesar berasal dari kenaikan harga kelompok bahan makanan yang memberikan andil inflasi sebesar 1,96 persen," katanya.
Setelah itu, sambungnya, kenaikan inflasi diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rook dan tembakau sebesar 0,91 persen. Sementara lima kelompok lain non makanan, memberikan andil inflasi sebesar 2,23 persen.
Rendahnya tingkat inflasi di 2007 karena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak pada akhir 2005 sudah terlewati. "Dampak itu terasa di awal-awal tahun 2006, sedangkan sekarang kondisinya sudah lebih stabil," katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar, Maman Sukherman. Rendahnya tingkat inflasi itu tidak terlepas dari tingkat inflasi yang terjadi pada bulan Desember 2007 sebesar 0,58 persen. [153]