SUARA PEMBARUAN DAILY

171 Rumah di Tawangmangu Terancam Longsor Susulan

[YOGYAKARTA] Risiko tanah longsor susulan, masih menghantui warga Dusun Mogol, Desa Ledogsari, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan sekitarnya. Satu-satunya cara untuk menghindari korban jiwa, adalah relokasi atas warga yang menghuni 171 rumah di Tawangmangu yang terancam longsor susulan.

Hal itu diungkapkan anggota Tim peneliti Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Danang Srihatmoko dalam sebuah diskusi di Kantor PSBA UGM, Rabu (2/1).

Dipastikan suatu saat, bencana tanah longsor di daerah itu masih akan terjadi. Faktor kunci yang selalu menyertai bencana tanah longsor yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia khususnya di Tawangmangu, Karanganyar adalah hujan dan manusia.

"Intensitas hujan saat terjadi tanah longsor di Kabupaten Karanganyar rata-rata 240 mm per hari, dan terjadi tiga hari secara berturut-turut sementara sebelumnya tidak pernah terjadi hujan," katanya.

Curah hujan dengan intensitas seperti itu, belum pernah terjadi dalam kurun waktu 16 tahun terakhir. "Biasanya paling besar hanya 150 mm per hari. 240 mm tersebut biasa terjadi untuk satu bulan," katanya.

Sementara, manusianya juga tidak luput dari faktor penyebab longsoran tersebut. Saat ini sudah tidak ada lagi tebing alami di Tawangmangu. "Hampir semua tebing sengaja dibuat terasering, dengan alasan untuk mengatasi erosi. Padahal dengan terasering dan tanaman hortikultura itu, daya lekat tanah menjadi berkurang," katanya.

Hal lain, Danang juga menyoroti jumlah korban jiwa akibat bencana tanah longsor di Pulau Jawa dalam tiga tahun terakhir meningkat secara signifikan dan dalam setahun rata- rata terjadi 62 kematian.

Berdasarkan data yang ada pada 2003, jumlah korban meninggal dunia akibat longsor hanya 54 orang. Namun jumlah ini terus meningkat menjadi 110 orang pada 2004, 188 orang pada 2005 dan 312 pada 2006.

Sementara pada 2007 sampai Mei jumlah korban meninggal mencapai 164 orang. Jumlah ini belum termasuk korban longsor Karanganyar yang mencapai 65 orang.

Pada 1990-2006 telah terjadi sekitar 1.045 longsor di Jawa yang mengakibatkan 1.424 orang meninggal dunia dan 493 orang luka- luka. Dari jumlah kejadian longsor tersebut, 700 keja-dian longsor terdistribusi pada bulan November, Desember, Januari, Februari, dan Maret.

Ditemukan

Sementara itu, pada Rabu (2/2), tim evakuasi korban longsor di Dusun Mogol Ledogsari Tawangmangu, menemukan satu jasad korban bernama Suhar (60). Dengan demikian masih tersisa dua korban lagi dari total 34 korban tewas.

Kasi Penanggulangan Bancana Alam Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristianto mengatakan, korban ditemukan dari reruntuhan bangunan rumah yang tertimpa longsor sekitar pukul 17.30 WIB. Selain jasad korban yang sudah mulai membusuk, tim juga menemukan serpihan-serpihan anggota tubuh dari korban lainnya berupa tangan dan organ perut.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Solo, Amsori mengatakan, 281 siswa Sekolah Dasar (SD) Plalan I, hanya 75 persen yang datang.

Empat SD itu, SD Karengan, SD Muhammadiyah, SD Kampung Sewu, dan SD Widya Wacana yang ber- lokasi di daerah banjir di Kecamatan Jebres.

Masyarakat Jateng diminta mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor sedini mungkin, dengan tidak menempati daerah aliran sungai (DAS) dan lereng-lereng pegunungan. Masyarakat juga diminta bergotong-royong melakukan gerakan penanaman pada lahan-lahan kritis dengan tanaman pelindung.

"Jangan melakukan penebangan pohon-pohon pelindung, karena dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor pada musim hujan," kata Gubernur Jawa Tengah, Ali Mufiz, di Semarang, baru-baru ini. [152/142]


Last modified: 3/1/08