andangan wanita iu begitu hampa. Tubuhnya pun terlihat begitu lemah. Dia hanya memandang tubuh kaku yang terbujur di hadapannya. Duka telah menghampiri Vivi Wahyuni, istri Komandan Pangkalan Udara TNI AL Sabang. Di rumah duka Jl Abadi No 22 Medan, Sumatera Utara (Sumut), wanita usia 33 tahun ini hanya terisak, meratapi kesedihan atas kepergian suaminya.
Namun, tidak ada lagi air mata yang mengalir. Yang terlihat hanya matanya memerah, dan sedikit membengkak. Di samping Vivi, dua anaknya, Firda Aiga (7) dan Muhammad Fadli (6), juga menangis. Kesedihan mereka terpancar menyusul kepergian Mayor Laut (P) Suwito, korban musibah jatuhnya pesawat Nomad P-883 milik TNI AL di perairan Sabang, dua hari sebelum penyambutan tahun 2008.
Tiga hari belakangan ini, kediaman mereka memang sudah ramai dikunjungi tetangga maupun kerabat terdekat. Mereka berdatangan setelah mendengar musibat tersebut. Sebuah tenda dan kursi-kursi sudah berjejer, tersusun begitu rapi. Pelayat datang dan pergi silih berganti. Namun, mereka kembali berdatangan setelah mobil ambulans tiba di depan rumah duka, sekitar pukul 17.50 WIB.
Peti jenazah pun dikeluarkan, kemudian diangkat. Peti tersebut diselimuti bendera merah putih, ditandu oleh anggota TNI sampai ke dalam ruang tamu. Tidak tertahankan, jeritan dari seluruh keluarga pun merobek suasana, ketika peti jenazah mulai dibuka. Mereka tak kuasa melihat jenazah Suwito, yang sudah dalam keadaan terbujur kaku tersebut. Mereka menangis dan menjerit, sekeras-kerasnya.
Jenazah Suwito diterbangkan dari Sabang, Aceh menggunakan pesawat Cassa NC - 212 milik TNI AL. Mulai dari pemberangkatan tersebut, sampai tiba di rumah duka, Vivi Wahyuni bersama dengan Firda Aiga dan Muhammad Fadli, setia mendampingi orangtuanya tersebut.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Yang terdengar hanya suara sesenggukan, ratapan karena kepergian orang tercinta. Mereka juga tidak menyangka, musibah itu datang menerpa keluarganya. "Sabarlah Nak, memang ini sudah kehendak Allah," begitulah nasihat yang diberikan tetangga, saat bergantian menyalami keluarga Vivi Wahyuni.
Duka yang menimpa keluarga Vivi memang sangat menyentuh perasaan tetangganya, apalagi mengingat kedua anaknya masih kecil. Firda baru kelas satu sekolah dasar (SD), sementara adiknya belum sekolah. Tidak dapat dibayangkan, kedua anak itu dibesarkan tanpa kasih sayang ayahnya. Dan sekolah dengan mengandalkan gaji pensiunan almarhum. Terkecuali sang ibu bekerja memperjuangkan mereka.
Tanpa Pesan
Suwito pergi begitu saja, tanpa ada pesan maupun sepatah kata pun. Supraptono, orangtua almarhum, sangat terpukul begitu mendengar musibah tersebut. Suwito, yang dari kecilnya bercita-cita menjadi tentara, akhirnya dipanggil saat melaksanakan tugasnya. Setelah menjadi tentara, Suwito juga sering membantu keluarga, termasuk dalam perawatan Supraptono, yang kini menderita stroke.
"Tidak ada tanda-tanda apa pun. Firasat buruk sekalipun tidak ada. Semuanya berlalu begitu saja," kata Supraptono melalui keponakannya, Sunarko.
Sunarko mengkhawatirkan, kepergian Suwito mempengaruhi kondisi kesehatan Supraptono. "Dia sangat terpukul, sedihnya bukan kepalang setelah mendengar Suwito tewas dalam musibah jatunya pesawat yang ditumpanginya," ujarnya.
Menurut Wakil Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) I Belawan, Kolonel (Mar) Denny Kurniadi, jenazah Suwito ditemukan sekitar 30 meter dari bibir pantai di Desa Sumut Tiga, Kecamatan Sukajaya, Sabang. Lokasi persisnya, Suwito ditemukan sekitar 3 mil dari lokasi jatuhnya pesawat. Sebelum musibah itu datang, mereka berencana berangkat sari Sabang tujuan Medan.
"Pemakaman akan dilaksanakan dengan upacara militer," kata Denny. Pemakaman Suwito rencananya dilakukan di Pekuburan Muslim di kawasan Setiabudi, Tanjung Sari Medan, Kamis (3/12) siang. Sampai tengah malam, lokasi di rumah duka masih dipenuhi pelayat, baik itu dari kerabat terdekat, tetangga maupun dari aparat. Vivi terus meratapi wajah suaminya tersebut.
Sesekali suara tangisan pun masih terdengar. Tidak lama berselang, dia jatuh pingsan, tak kuasa menghadapi cobaan tersebut. Sepertinya dia tidak menyangka, kebersamaan mereka begitu singkat. Hari-hari indah, penuh canda dan tawa, ternyata sirna begitu saja. Suwito lebih duluan dijemput Yang Kuasa. Vivi bersama kedua anaknya seakan tak kuasa menerima kenyataan pahit tersebut.
Keluarga yang ditinggalkan hanya dapat menyampaikan kata akhir, selamat jalan. Dan berdoa, semoga Suwito diterima di sisi-Nya. [SP/Arnold H Sianturi]