
Ibu-ibu rumah tangga, membawa jeriken dan kompor saat berunjuk rasa memprotes kelangkaan minyak tanah di Makassar. Aksi itu semula berlangsung di halaman DPRD Sulsel, namun mereka tergusur ke tepi jalan oleh massa pendemo pemilihan kepala daerah Sulawesi Selatan. SP/M Kiblat Said
[BANDUNG] Antrean pembeli minyak tanah di Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), masih terjadi hingga Kamis (3/1) pagi ini. Rencana Pertamina Cabang Bandung untuk menggelar operasi pasar di empat titik, masih belum terlihat. Operasi pasar itu rencananya digelar di Jalan Ir H Juanda, Samoja, Surapati, dan Dipati Ukur. Setiap titik mendapatkan jatah minyak tanah 5.000 liter.
Berdasarkan pantauan SP, antrean itu terjadi antara lain di Pangkalan Jalan Sekeloa, dan juga Jalan Ir H Juanda, Bandung. Para calon pembeli minyak tanah itu mulai berdatangan sekitar pukul tujuh pagi. Mereka kemudian mengikatkan jerikennya dengan tali sebagai tanda posisi antrean.
"Saya sudah seminggu tidak berjualan, baru sekarang kebagian minyak tanah," kata Wahyudin (35) yang sehari-hari menjadi pengecer minyak tanah di daerah Sekeloa, Kota Bandung.
Djuhari (58), warga RW 10 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong mengaku sudah seminggu ini tidak memasak untuk kebutuhan berjualan di Kantin Bu Olis, miliknya. "Minyak tanahnya tidak cukup. Ini juga antre untuk kebutuhan rumah tangga saja," katanya.
Dijelaskan, untuk bisa mengoperasikan kantin, dia membutuhkan setidaknya 15 hingga 20 liter minyak tanah setiap hari. "Mau beli di pengecer juga sudah tidak kebagian. Kalau ada juga harganya lebih mahal sampai Rp 3.500 per liternya," katanya.
Sebelumnya, Wira Penjualan Pertamina Cabang Bandung, Zimbali Hisbul Masih mengatakan, operasi pasar untuk mengatasi antrean.
Namun demikian, kenyataan di lapangan berbicara lain. Maman (57), warga yang mengantre di pangkalan Jalan Ir H Juanda mengaku tidak memiliki kupon untuk mendapatkan jatah minyak tanah sebanyak lima liter. "Saya datang pagi tadi, kuponnya sudah habis. Sekarang tinggal menunggu sisa," katanya.
Aksi Protes
Sementara itu, puluhan ibu rumah tangga yang melakukan aksi protes kelangkaan minyak tanah di Makassar, terpaksa angkat kaki dari gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan (Sulsel) karena tergusur oleh massa yang berdemo soal sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sulsel.
Kepedulian warga terhadap sengketa pilkada lebih besar dibanding persoalan minyak tanah. Ibu-ibu rumah tangga yang datang ke DPRD menumpang angkutan kota sambil menenteng jeriken, Rabu (2/1). Belum sempat menyampaikan aspirasi kepada anggota dewan, ratusan massa telah mengepungnya.
Puluhan pengunjuk rasa yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Miskin Kota itu memilih membubarkan diri setelah melihat massa pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang kalah dalam pilkada, Amin Syam-Mansyur Ramly mulai membanjiri gedung DPRD Sulsel. [148/149/080/153/106]