
Bupati Tangerang, Ismet Iskandar (kiri) memperhatikan seorang ibu yang tengah menikmati pengobatan gratis.
awasan Pantai Utara (Pantura) Tangerang merupakan kawasan yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra bisnis di wilayah Kabupaten Tangerang. Kawasan pantura selama ini memang dikenal sebagai daerah yang berpenduduk nelayan dan miskin.
Wilayah pantai daerah ini juga banyak yang terkena abrasi air laut, hampir mencapai panjang 52 km. Abrasi pantai Kabupaten Tangerang itu sendiri terjadi di 11 desa yang berada di tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Kosambi, Teluk Naga, Mauk, Kronjo, Paku Haji, dan Suka Diri.
Lebar pantai yang terkikis sekitar 15-50 meter dan luas pantai yang terabrasi mencapai 193 hektar lebih. Hampir 26 persen dari luas pantai telah terkikis akibat penggalian pasir yang terus terjadi.
Pasir pantai digali untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan di Jakarta dan Tangerang. Meski- pun sudah dilarang Pemerintah Kabupaten Tangerang, penggalian pasir di wilayah tersebut masih sering terjadi.
Pemkab kemudian merevisi tata ruang dan wilayah Pantura hingga nantinya bisa menjadi daerah yang menghasilkan pendapatan buat daerah, dengan membangun kota seperti Roterdam Belanda. Di kawasan pantai utara telah disetujui untuk membangun pelabuhan ikan terbesar di perkampungan Cituis dan pelabuhan peti kemas untuk kapal niaga dengan investor dari luar negeri di Kosambi.
Pengembangan ini didukung oleh jalan lingkar utara (JLU), yang menghubungkan wilayah pedesaan dan kecamatan di Pantura dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dan untuk penerangan kota tersebut, juga akan dibangun pembangkit listrik tenaga uap di Desa Lontar, Kecamatan Kemiri.
Rencana pembangunan kawasan Pantura Tangerang murni berasal dari Pemerintah Kabupaten Tangerang dan akan melibat- kan pihak swasta untuk membangunnya.
"Pembangunan kawasan perkotaan baru ini bisa menjadi jaminan kepada investor yang akan menggarap Pantura ke arah kota baru yang berwawasan lingkungan. Dilihat dari posisi strategis, wilayah Pantura amat berpotensi menjadi kawasan andalan, sehingga diperlukan upaya penataan dan keterpaduan pembangunan, baik dari sisi perairan maupun daratannya," kata Bupati Tangerang, Ismet Iskandar.
Ismet mengakui, kawasan Pantura perkembangannya lamban karena terbatasnya sarana dan prasarana infrastruktur, seperti jalan yang tidak memadai. Oleh karenanya, dengan lepasnya Tangerang Selatan, maka kawasan Pantura yang akan diberi perhatian khusus dengan menjadikan seperti daerah perkotaan.
Pemkab Tangerang telah memulainya dengan merevisi rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) di wilayah tersebut, sehingga di sana akan berkembang kawasan perumahan, industri, jasa, dan perdagangan. Kawasan baru ini akan berdiri di atas lahan seluas 8.000 hektare dan akan dibangun membentang di tiga kecamatan pesisir utara, yaitu Teluk Naga, Kosambi, dan Sukadiri.
Megaproyek ini membutuhkan investasi sedikitnya Rp 20 triliun. Dana sebesar itu dibutuhkan untuk membangun pelabuhan terpadu ekspor-impor, infrastruktur, dan pendukung lainnya, termasuk air bersih.
Diminati
Menurut Benyamin Davnie, Kepala Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Tangerang sejumlah investor asal Eropa dan Asia telah menyatakan berminat menanamkan modalnya dalam pembangunan megaproyek kota baru dan pelabuhan di Pantura Kabupaten Tangerang. Pemodal asing tersebut, di antaranya dari Belanda, Malaysia, Jepang, dan Singapura.
Selain itu, terdapat investor swasta nasional, yang juga siap ambil bagian dalam pengembangan Pantura. "Mereka berminat terhadap pembangunan fasilitas kawasan pelabuhan, seperti terminal peti kemas (dry port)," kata Benyamin Davnie.
Kawasan terminal peti kemas direncanakan berlokasi maksimal 30 km dari pantai dan nantinya bakal dihubungkan melalui infrastruktur jalan yang cukup memadai. "Kebutuhan pembiayaan tersebut, sangat tidak mungkin ditanggung Pemkab Tangerang melalui APBD, sehingga harus menggandeng pihak swasta," katanya.
Pantai Utara Tangerang meliputi tujuh kecamatan yaitu, Kosambi, Teluk Naga, Pakuhaji, Kronjo, Sukadiri, Kemiri, dan Mauk, yang mempunyai luas lahan 29.165 hektare, atau 30 persen dari luas Kabupaten Tangerang. Diperkirakan, kerusakan alam akibat kikisan abrasi mencapai luas sekitar 291 hektare dan ditemukan sedikitnya 25 titik.
Nantinya, Pemkab akan mereklamasi 18 kilometer pesisir Pantura dari jumlah keseluruhan 51 kilometer. Dari panjang pantai Tangerang dari Pantai Dadap ke Pantai Kronjo, tingkat abrasi sudah mencapai 18 kilometer.
Sementara sedimentasi sudah mencapai satu kilometer dari bibir pantai. Dana APBD maupun APBN sudah tidak mampu menangani kerusakan lahan di Pantura ini sehingga diperlukan keikutsertaan pihak swasta.
Untuk mematangkan rencana pembangunan kawasan Pantura Tangerang saat ini pemerintah daerah segera melengkapi infrastruktur jalan lingkar sejauh 64 km yang menghubungkan wilayah utara dengan Bandara Soekarno-Hatta, dengan dana pinjaman Bank Jabar sebesar Rp 125 miliar. Jalan tersebut, akan dibangun melingkar dimulai dari Kecamatan Sukadiri, Pakuaji, Sepatan, Tanjung Burung (karantina hewan), Teluknaga, Kosambi, dan berakhir di Kecamatan Selapajang, Kecamatan Benda Kota Tangerang atau pintu masuk bandara.
"Nantinya, wilayah Pantura akan berubah dari jauh tertinggal menjadi kota modern," ujar Hermansyah, Kepala Dinas PU dan Bina Marga.
Dampak lain dengan pembangunan jalan itu, kata Hermansyah, akan mengundang investor-investor menanamkan modalnya untuk membangun wilayah Pantura sehingga secara bertahap fasilitas penunjang perekonomian dapat dipenuhi.
Untuk menerangi kota baru itu, PLTU berkapasitas 3 X 300 Megawatt sedang dibangun di Desa Lontar, Kecamatan Kemiri. "Kota Pantura nanti bakal menjadi primadona Kabupaten Tangerang," kata Hermansyah. [132]