![]()
Foto-foto SP/Dewi Gustiana
Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk membangun Kabupaten Tangerang, seperti yang dilakukan masyarakat di Kecamatan Kemiri, yang bergotong royong memperbaiki saluran air di kampung mereka.
emekaran sebuah wilayah dipastikan membawa banyak konsekuensi, di antaranya pendapat daerah induk dipastikan hilang bersamaan dengan berdirinya wilayah baru. Namun, jika daerah induk sudah mempersiapkan diri, tentu pelepasan itu tidak akan berpengaruh banyak.
Seperti yang bakal dihadapi Kabupaten Tangerang, yang pada 27 Desember lalu genap berusia 64 tahun. Dari 36 kecamatan yang ada sekarang ini, lima kecamatan akan memisahkan diri dan menjadi sebuah kota tersendiri, bernama Kota Tangerang Selatan atau disingkat Tangsel.
Kelima kecamatan yang jadi kota baru itu adalah Ciputat, Serpong, Pamulang, Pondok Aren, dan Kecamatan Setu, yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Cisauk.
Setiap tahun, Pemkab Tangerang meraih pendapatan asli daerah (PAD) dari lima kecamatan itu rata-rata Rp 600 miliar. Jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan PAD keseluruhan Kabupaten Tangerang, yang mencapai Rp 1 triliun.
Dengan kata lain, Pemkab Tangerang akan kehilangan pendapatan sekitar 60 persen dari PAD-nya dengan lepasnya Tangerang Selatan. Namun, justru Bupati Tangerang, Ismet Iskandar sendiri yang berjuang untuk membentuk Kota Tangerang Selatan. Hal itu tentu sempat mengundang keheranan, sekaligus pujian dari berbagai pihak.
Biasanya, pemimpin suatu daerah akan merasa keberatan jika daerahnya dipecah, karena berarti selain akan berkurangnya wilayah kekuasaan juga akan berkurangnya sumber pendapatan daerah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Ismet Iskandar. Dari kerja kerasnya bersama komponen masyarakat, berkas usulan Kota Tangerang Selatan itu kini sudah selesai dibahas di DPR.
Ketua DPR Agung Laksono, tanggal 10 November 2007 lalu, telah mengusulkan kepada Presiden agar RUU Kota Tangerang Selatan ditetapkan menjadi UU. Maka, dapat dipastikan pada tahun 2008, Kota Tangerang Selatan akan terbentuk.
Bupati Tangerang, Ismet Iskandar, saat menyerahkan dokumen Tangerang Selatan di DPRD Banten, mengisyaratkan alokasi anggaran sekitar Rp 20 miliar bagi persiapan berdirinya kota baru tersebut. Modal awal dari daerah induk ini dilandaskan pada fakta bahwa PAD dari calon wilayah baru tersebut memang cukup besar. Kendati demikian diakuinya, pemekaran wilayah berdampak terbaginya PAD.
Kepala Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Tangerang, Benyamin Davnie menyatakan, persiapan pembentukan wilayah baru juga sudah dibarengi dengan penunjukan kawasan bekas Kewadanan Ciputat di Kelurahan Serua Ciputat sebagai pusat perkantoran. Kata Benyamin, dalam perjalanan selanjutnya nanti, pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Dalam Negeri, akan meninjau ke lapangan untuk menentukan tempat mana yang layak bagi pusat Ibu Kota Tangerang Selatan.
Tidak Rugi
Dalam jangka pendek, hal itu mungkin akan dipandang sebagai sebuah kerugian bila suatu daerah memperjuangkan kemajuan daerah lain. Namun, bila dipandang dalam suatu kerangka wawasan yang lebih luas dan berjangka panjang, maka perjuangan untuk memajukan daerah lain justru akan menjadi daya dukung terhadap kemajuan daerah yang turut memperjuangkannya.
Kerumitan yang dihadapi Jakarta, seperti banjir, kemacetan, sampah, polusi, kekumuhan dan masalah sosial lainnya, bisa jadi contoh. Kemajuan yang begitu pesat di Jakarta tidak disebar ke daerah lain, sehingga Jakarta yang terus bermolek dengan megaproyek infrastrukturnya kian menjadi daya tarik untuk menyedot urbanisasi dari daerah-daerah yang miskin.
"Secara hukum dan administrasi, daerah Tangerang Selatan akan terpisah dari Kabupaten Tangerang. Namun secara visi dan orientasi masa depan, tetap satu membangun manusia yang produktif dan sejahtera," kata Ismet.
Kemajuan Tangerang Selatan dalam jangka panjang akan menopang dan mendorong kemajuan di daerah-daerah lain, bahkan di luar Kabupaten Tangerang, termasuk DKI Jakarta.
Sebenarnya, Kabupaten Tangerang, yang wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Serang, Bogor, dan DKI Jakarta itu, setelah lepasnya Tangerang Selatan perlu lebih menata diri lagi. Dengan luas wilayah 111.038 ha, Kabupaten Tangerang menjadi lokasi strategis jalur lintas interaksi Jawa-Sumatera dengan dapat ditempuhnya melalui jalan tol Jakarta-Merak.
Sebagai daerah yang merupakan penyangga Ibukota, wilayahnya berkembang sebagai daerah pemukiman, perindustrian, perdagangan, dan jasa.
Dalam perkembangan penduduknya, peta penduduk dan budaya di Tangerang terbilang unik. Daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan Tionghoa, serta berbudaya Melayu Betawi.
Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi. Daerah Tangerang Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangerang Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa.
Dalam konteks keseluruhan pemerintahan di wilayah Tatar Sunda, kedudukan Tangerang mengalami beberapa kali perubahan dalam tingkat dan struktur pemerintahan, hingga akhirnya Tangerang berdiri sendiri di bawah Provinsi Banten.
Dampak yang menonjol, berubahnya segala bidang kehidupan masyarakat Tangerang adalah, semula mereka hanya mengandalkan kegiatan bidang pertanian, kemudian mereka mengerjakan berbagai bidang kegiatan ekonomi, terutama bidang industri, perdagangan, dan jasa, yang tentu mengubah orientasi dan pola hidup masyarakat.
Sebagai gambarannya, kini di Tangerang terdapat beberapa kawasan industri, ditambah dengan Bandara Internasional Sukarno-Hatta. Hal itu kian meningkatkan mobilitas penduduk, bahkan migrasi penduduk.
Pemindahan Ibukota Kabupaten ke Kecamatan Tigaraksa, sesuai dengan keputusan pemerintah tahun 1995, seiring dengan pesatnya pembangunan di Kabupaten Tangerang telah mendorong perkembangan di sektor lainnya.
Di sektor pemukiman, tumbuhnya beberapa kota mandiri di daerah Serpong dan Karawaci, yang menyediakan kebutuhan perumahan dari berbagai tipe. Di sektor pendidikan, pusat-pusat pendidikan tumbuh pesat, baik pendidikan dasar, menengah, lanjutan dan kejuruan, serta universitas swasta maupun universitas dengan standard internasional.
Di daerah Curug, terdapat PLP Curug, sebagai kawah candradimuka bagi pelatihan penerbangan yang telah meluluskan lebih dari 2.000 siswa sejak tahun 1958. Perkembangan industri yang cukup signifikan dalam masa sebelum krisis ekonomi nasional telah memacu perkembangan kawasan industri, seperti yang terdapat di kawasan Kosambi, Cikupa, dan Balaraja.
Investasi di Kabupaten Tangerang merupakan salah satu yang terbesar di Provinsi Banten. Lebih dari US$ 1,2 miliar tertanam di Kabupaten Tangerang. Limpahan industri saat ini merupakan sektor dominan di Kabupaten Tangerang.
Luas lahan industrinya mencapai kurang lebih 3.398 ha, yang terdiri dari kawasan industri dan zona industri. Jumlah perusahaannya sampai tahun 2000 mencapai 655 buah dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 200.644 orang. Sehingga sebagian besar penduduk Kabupaten Tangerang memiliki pekerjaan di sektor industri ini.
Dalam hal pemukiman, saat ini Kabupaten Tangerang memiliki enam buah perumahan skala besar, yaitu Bumi Serpong Damai (BSD) City dengan luas areal sekitar 6.000 ha, Alam Sutra (PT Alfa Goldland) dengan luas sekitar 700 ha, Citra Raya (PT Citraland Estate) dengan luas sekitar 3.000 ha, dan Bintaro Raya (PT Jaya Real Property) seluas sekitar 1.500 ha, Summarecon Serpong dan Paramount yang bersama-sama mengembangkan kawasan Gading Serpong serta Perumahan Lippo Karawaci.
Belum lagi maraknya kawasan pergudangan strategis di Kecamatan Kosambi sebagai Penyangga bandara. Hal tersebut ditunjang dengan sarana dan prasarana, seperti Jalan
Tol Jakarta-Merak, jalur kereta api Jakarta-Rangkas, Bandara Soekarno-Hatta, dan kemudahan transportasi Tangerang-DKI Jakarta.
Kabupaten Tangerang juga menyimpan potensi di sektor pendidikan, di mana banyak berkembang perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Dengan masih banyaknya potensi di wilayah Tangerang, dan berbagai rencana pembangunan yang sudah disusun oleh Pemkab Tangerang, memang daerah ini tidak perlu khawatir tidak memiliki pendapatan yang lebih banyak. Tinggal saja bagaimana bisa mengelolanya dengan baik. (SP/Dewi Gustiana)