SUARA PEMBARUAN DAILY

Lantunan Angklung di Antara Gunung Sampah

Keceriaan tampak di wajah-wajah mungil yang bercanda di sebuah saung di antara gunungan-gunungan sampah. Mereka asyik membunyikan angklung. Musik bambu itu menghasilkan bunyi ritmis dari tangan-tangan kecil yang biasa mengais sampah.

Begitulah suasana Sekolah Alam Tunas Mulia di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi siang itu. Anak-anak pemulung di sekitar TPA tersebut sebelumnya tak berminat mengecap bangku sekolah. Tapi, sejak Tunas Mulia didirikan, mereka antusias bergabung untuk belajar di sekolah alam tersebut.

Siswa Tunas Mulia tak hanya diajar mengenai pelajaran sekolah yang mengasah kemampuan otak kiri, tapi juga mempertajam otak kanan melalui seni bermain musik. Seni bermain angklung menjadi sarana untuk mengenalkan anak-anak pada budaya tradisional yang banyak ditinggalkan di negeri ini.

Di sekolah formal, langka diberikan pelajaran musik tradisional. Kalaupun diberikan, siswa hanya menganggap sebagai keharusan, tidak menikmatinya sebagai karya seni. Berbeda halnya dengan siswa Tunas Mulia. Mereka merasa menemukan dunia baru dengan bermain angklung.

"Saya suka angklung karena bunyinya rame, apalagi jika dimainkan bersama teman menambah semangat. Siang hari, kami mainkan angklung dulu supaya tidak ngantuk ketika masuk kelas," ujar Rohadi, siswa SMP kelas dua.

Bunyi ritmis yang dihasilkan angklung menjadi daya tarik bagi anak-anak pemulung yang terbiasa dengan kehidupan keras. Maklum, sehari-hari mereka hanya mendengar deru truk sampah yang lalu-lalang. Belum lagi bunyi teriakan pemulung yang saling berebut saat truk berhenti di pangkalan TPA.

Anak-anak di lingkungan TPA ikut berbaur dengan pemulung lain yang berbadan lebih besar begitu truk sampah datang. Mereka ikut memperebutkan barang-barang bekas yang masih bisa dijual, seperti botol bekas, kardus, tembaga, dan kabel.

Hanya untuk mencari sesuap nasi dan membantu ekonomi keluarga, anak-anak pemulung itu rela menghadapi hidup yang keras. Belajar angklung sedikit mengalihkan kepenatan. "Anak-anak itu diajar untuk memiliki sensitivitas. Sensitivitas bisa memudar karena kerasnya kehidupan keseharian mereka. Apalagi kondisi psikologis anak yang sebenarnya masih belum layak untuk ikut mencari nafkah di lingkungan seperti itu," tutur Kepala Sekolah Tunas Mulia, Nadham.

Ia mengakui sulit mendirikan sekolah di lingkungan yang sebagian besar masyarakatnya tidak memedulikan pendidikan. Berawal dari 35 siswa, sekarang Tunas Mulia memiliki 75 siswa aktif. "Sebenarnya siswa yang bergabung mencapai 90-an, tapi sebagian ada yang mengikuti orangtuanya, sering berpindah kota untuk mulung," tutur Ita, guru kelas 1 dan 2.

Bersekolah di Alam

Berawal dari Taman Pendidikan Quran (TPQ), Nadham menggagas perlunya menyediakan wadah untuk mendidik anak-anak pemulung tersebut. Pada 13 Oktober 2006, berdirilah Sekolah Alam Tunas Mulia atas dukungan Yayasan Portalinfaq di daerah Pangkalan 2 Bantargebang.

Konsep sekolah alam dengan waktu dan tempat yang lebih fleksibel memang relevan dengan keseharian siswa-siswinya yang hampir semua mengais sampah pada pagi hari. Anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) masuk kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang setara TK. Waktu luang sekitar tengah hari dimanfaatkan anak-anak seusia SD dan SMP mengikuti aktivitas belajar-mengajar.

Walau lesu, penuh debu, bau anyir sampah, tak menyurutkan niat untuk belajar. Aktivitas belajar-mengajar dipandu guru-guru yang memang tak digaji. Enam guru bergantian mengajar, pagi untuk kelas PAUD, siang hari giliran mengajar kelas SD dan SMP dengan kurikulum Kejar Paket A dan B.

Tak ada gedung sekolah di tempat itu. Hanya ada dua saung beratapkan daun kelapa kering, yang masing-masing bisa menampung sekitar 70-an siswa. Satu saung di dekat pintu masuk berukuran lebih kecil dari dua saung lainnya digunakan untuk Taman Bacaan Tunas Mulia. Siswa dapat menikmati buku-buku cerita anak di taman bacaan yang difasilitasi Komunitas 1001 Buku pimpinan Ariyo Faridh.

"Awal sekolah ini berdiri, kami sempat bingung mengenai buku pelajaran untuk siswa. Tapi Ariyo mengajak komunitasnya mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku cerita anak untuk mendukung ketersediaan buku di sekolah kami," ungkap Nadham.

Satu saung lagi didirikan relawan dari PT NEC Indonesia, Yayasan Portalinfaq, dan Komunitas 1001 Buku, baru-baru ini. Saung itu berisi lima mesin jahit dan buku-buku cerita anak yang disumbangkan PT NEC Indonesia untuk sekolah tersebut.

Beberapa siswa perempuan dan ibu rumah tangga di sekitar tempat itu memang membutuhkan keterampilan untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik. Aktivitas itu akan dibimbing instruktur berpengalaman dan terutama ditujukan untuk siswa perempuan yang telah selesai menempuh pendidikan SMP di Tunas Mulia.

Selain keterampilan menjahit, siswa juga diajar mengolah sampah sayuran dan buah untuk pupuk kompos. "Mereka sengaja diberi keterampilan yang dekat dengan keseharian mereka sebagai pemulung. Keterampilan mengolah sampah dan menanam tanaman obat tradisional relevan dengan aktivitas mereka," tutur Bambang Tri Puspito General Manager PT NEC Indonesia.

Perusahaan tersebut juga memberikan sekitar 30-an bibit tanaman obat tradisional yang langsung ditanam di halaman samping sekolah alam. "Sejak dini, anak-anak diajar untuk gemar menanam, terutama tanaman obat yang memiliki khasiat beragam," Wening Pusparini, Asisten Manajer Legal perusahaan tersebut.

Keterampilan untuk mengolah sumber daya alam di sekitar mereka memang menjadi bekal bagi anak-anak di sekitar kawasan TPA untuk kehidupan yang lebih baik kelak, seperti kata Nadham. [Maya Saputri]


Last modified: 3/1/08