SUARA PEMBARUAN DAILY

Wartawan Masih Jadi Korban Kekerasan

[PARIS] Bagi wartawan, 2007 masih menjadi momok. Sepanjang tahun itu, sedikitnya 86 wartawan yang tewas dan merupakan jumlah terbanyak sejak 1994. Irak, Somalia, dan Pakistan menjadi negara-negara yang masih berbahaya bagi para wartawan.

Hal itu terungkap dalam laporan Reporters Without Borders (RSF) yang dirilis di Paris, Prancis, Rabu (2/1). Berbagai bentuk kekerasan terhadap wartawan juga masih terjadi di tahun 2007, seperti penculikan, penyanderaan, dan sensor media.

Menurut catatan RSF, sebanyak 48 wartawan tewas di Timur Tengah, 17 di Asia, 12 di Afrika, tujuh di Amerika, serta dua di Eropa dan bekas Uni Soviet. Selain itu, sebanyak 20 staf media massa juga tewas saat menjalankan tugas mereka.

Irak masih menjadi negara yang paling mematikan bagi wartawan. Sebanyak 47 wartawan tewas di negara itu dan hanya satu yang merupakan warga asli Irak. Angka itu menambah panjang kematian pekerja pers di Irak. Sejak invasi Amerika Serikat pada 2003, sudah 207 pekerja pers yang tewas.

"Tidak ada negara yang paling membahayakan bagi wartawan kecuali di Irak. Jumlahnya bahkan lebih besar dibandingkan pada masa Perang Vietnam, pertempuran di bekas Yugoslavia, pembantaian di Aljazair, atau genosida di Rwanda," ujar RSF.

Lembaga itu mendesak Pemerintah Irak dan Amerika Serikat (AS) untuk lebih memperhatikan keselamatan wartawan. Pemerintah Irak dan AS diminta untuk mengambil langkah-langkah nyata untuk menghentikan kekerasan terhadap wartawan.

Tempat lain yang cukup berbahaya bagi pekerja pers adalah Somalia. Sedikitnya 8 wartawan terbunuh saat meliput konflik antara kelompok pemberontak dengan pasukan pemerintah.

Sedangkan di Pakistan, enam wartawan tewas akibat serangan bunuh diri dan pertempuran hebat antara militer dan kelompok-kelompok garis keras.

Sejak 2002, wartawan yang tewas di seluruh dunia terus bertambah. Jumlah wartawan yang tewas paling banyak pernah terjadi pada 1994, tercatat 103 wartawan tewas. Hampir separuh jumlah itu terjadi di Rwanda. [AFP/O-1]


Last modified: 2/1/08