SUARA PEMBARUAN DAILY

Saatnya Film Fiksi Ilmiah Naik Kelas

istimewa - Film ÒBack to The FutureÓ.

Tak bisa dimungkiri, film fiksi ilmiah selalu mampu menarik minat para peminat film. Ide cerita yang tak biasa, plus efek-efek canggih yang kerap ditampilkan ke layar perak membuatnya selalu sukses memancing rasa penasaran, dan ujung-ujungnya, mendongkrak angka penjualan tiket bioskop. Sayangnya, meski sukses di pasaran, film dengan genre tersebut kerap dipandang sebelah mata, terutama dari sisi sejarah maupun budaya.

Namun, hal tersebut kini berbeda. Kamis (27/12) lalu, lembaga Library of Congress menambahkan 25 judul film ke dalam daftar film yang patut dilestarikan dalam sejarah perfilman AS. Di antaranya, masuk beberapa film fiksi ilmiah seperti Back to the Future dan Close Encounters of the Third Kind.

"Kami memang kurang memasukkan genre film tersebut ke dalam daftar kami sebelumnya. Tahun ini, kami ingin memasukkan beberapa film dari era 1970-an," tutur direktur staff National Film Preservation Board, Stephen Leggett, seperti yang dilansir oleh Reuters.

Film-film lain yang masuk daftar adalah Bullitt (1968), The Man Who Shot Liberty Valance (1962), Dances with Wolves (1990), The Naked City (1948), In a Lonely Place (1950), Oklahima! (1955), Grand Hotel (1932), Wuthering Heights (1939) dan Now, Voyager (1942).

Film-film yang terpilih tadi sebenarnya bukanlah yang paling baik atau paling popular. Menurut pihak Library of Congress, film-film tadi dipilih atas karakter yang artistik, makna historis atau refleksi sejarah Amerika dari sisi baik maupun buruk.

Liberty Valance mengeksplorasi akhir masa liarnya wilayah barat, dimana peradaban mulai diadopsi. Sementara Dances with Wolves mengambil tema yang sangat berbeda, menulis ulang mitos Amerika Barat atau masyarakat Indian dan membantu menghidupkan kembali mitos-mitos tadi di layar perak.

"Peradaban Amerika Barat telah mati. Dances with Wolves dan kemudian, The Unforgiven menghidupkannya kembali. Kevin Costner menghabiskan banyak waktu dan uang untuk menyelesaikannya," tutur Leggett.

Sementara The Naked City memberikan sudut pandang tersendiri mengenai pembunuhan dan upaya penyelidikannya. Sutradara Jules Dassin menangkap semangat dari film gelap, menggunakan teknik dokumenter untuk menceritakan kedua hal tersebut. Ini berhasil mengubah bagaimana polisi kerap digambarkan di film dan bagaimana kejahatan fiksi diungkap. Salah satu contohnya bisa dilihat pada serial laris, CSI.

"Tak seorang pun yang pernah membuat film dimana pahlawan sebenarnya adalah seorang detektif polisi yang gemar bekerja keras, seperti yang saya kenal di Brooklyn. Kami tahu kami telah membuat sebuah genre baru yang menjadi prosedural polisi," tutur Malvin Wald, salah satu penulis The Naked City.

Wald mengungkapkan kepada The Hollywood Reporter bahwa terdapat beberapa faktor yang membuatnya bisa mendapatkan akses ke beberapa kasus kejahatan. Faktor-faktor tadi adalah pengetahuannya mengenai Brooklyn, kemauan para pembuat film untuk belajar bagaimana polisi beroperasi dan fakta bahwa ia pernah menjadi seorang abdi negara.

Sementara itu, film karya Disney, The Three Little Pigs yang diproduksi pada 1933 juga ikut dipilih. Film animasi pendek ini menunjukkan bagaimana perkembangan sinematografi dalam diri Walt Disney. Babi-babi yang popular tersebut memberikan bukti karena tiap karakternya memiliki kepribadian berbeda. Film tersebut memberikan sebuah lagu yang terus dikenang selama era Depresi di Amerika, yakni Who's Afraid of the Big Bad Wold.

"Bahkan kala masyarakat AS membanjiri bioskop untuk menonton film-film terbaru, hanya beberapa orang yang sadar bahwa separuh film yang diproduksi negeri ini sebelum 1950, dan sekitar 90 persen yang diproduksi sebelum 1920, hilang selamanya. National Film Registry tak hanya ingin menghargai film-film tersebut, namun juga menjamin bahwa mereka dilestarikan agar bisa dinikmati generasi masa depan" tutur Librarian of Congress, James Billington.

Dengan berlalunya waktu, kian banyak film yang menghilang akibat berkurangnya stok nitrat yang terkandung dalam materi film-film lama. Atau, karena sindrom cuka yang baru-baru ini ditemukan, yang mengancam stok berbahan dasar asam asetat.

Our Day adalah salah satu film yang memiliki risiko tinggi. Film tersebut merupakan sebuah film rumahan yang diproduksi Walace Kelly pada 1938, menampilkan satu hari kehidupan keluarganya yang ditunjukkan dalam sisi ideal dan komikal. Film bisu 16mm itu menggunakan teknik editing kreatif, pencahayaan dan kamera yang sebanding dengan para sineas profesional Hollywood. [D-10]


Last modified: 3/1/08