![]()
Foto-Foto : SP/Ignatius Liliek
Salah satu karya fotografi yang dipamerkan berjudul "Merahnya Pemetik Teh" karya Ratna Juwita.
ebuah pentas seni digelar menyambut pameran fotografi. Sesuai tema yakni Hari Buruh Migran Internasional (18 Desember) dan Hari Kebangkitan Perempuan In-donesia (22 Desember, acara ini ingin menginspirasi pengunjung tentang pe-rempuan.
Pameran fotografi yang diadakan United Nations Development Fund for Women (Unifem) itu berlangsung hingga 2 Januari di Senayan City, Jakarta. Pada hari terakhir pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari pameran fotografi dan kegiatan penggalangan dana, yang ingin mengajak orang untuk memperhatikan keberadaan perempuan tersebut, digelar kegiatan berupa pembacaan puisi serta pertunjukan Tari Saman.
Saat acara dimulai, pengunjung diajak untuk duduk di atas karpet dekat panggung kayu warna cokelat yang cukup unik dengan corak etnik. Beberapa gerabah, meja kayu, dan lemari buku kayu diletakkan di panggung dengan pencahayaan minimalis yang membuatnya tampak lebih menarik. Di dinding panggung terdapat tulisan ajakan untuk menginspirasi pengunjung "There are no human rights without women's rights. Speak againts sexual abuse".
Pengunjung yang datang berasal dari berbagai kalangan dan lebih didominasi oleh perempuan. Mulai dari remaja hingga dewasa, rata-rata dari mereka tertarik dengan keberadaan pameran fotografi yang diadakan organisasi di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memberi perhatian khusus pada hak-hak perempuan dan kesetaraan gender tersebut.
Salah satunya adalah Becky (15), siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-Izhar. Malam itu, ia datang bersama empat orang teman sekolahnya.
"Acaranya bagus dan saya tertarik dengan foto-foto yang ada. Tapi pembacaan puisinya juga bagus dan menarik," ujarnya.
Pameran fotografi itu sendiri menampilkan karya fotografer seperti, Ng Swan Ti, Sumaryanto Bronto, Yuniadhi Agung, Bambang Tri Atmojo, A Lucky DJ, Arbain Rambey, dan Gembong Riyadi Nurrasa. Foto-foto tersebut, yang jumlahnya sekitar 29 buah, disumbangkan kepada UNIFEM, yang kemudian dijual dan hasilnya akan disumbangkan. Harga foto-foto tersebut berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 10 juta.

Aktris, Jajang C Noer membaca puisi pada saat pameran fotografi dan penggalangan dana Unifem di Jakarta, Rabu (2/1). Pameran bertajuk "Care For Others-You and I Can.." ini menampilkan foto-foto buruh perempuan karya fotografer muda indonesia serta untuk memperingati Hari Buruh Migran dan Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia pada bulan desember yang lalu.
Spontanitas
Sebagian besar pembaca puisi adalah perempuan dan dilakukan secara spontanitas. Beberapa pengunjung bahkan baru diminta kesediaannya untuk membacakan puisi sesaat sebelum acara dimulai.
Puisi yang dibacakan diambil dari dua buku kumpulan puisi yang masing-masing berjudul Forest Highs and Turning Tides - Songs for My Sisters karya Debra H. Yatim dan Lampion yang terdiri dari banyak penulis. Kedua buku puisi tersebut juga merupakan bagian dari penggalangan dana.
Salah satu pembaca puisi yang menarik perhatian adalah Diatra Zulaika (17), siswi SMA Al-Izhar yang juga anak dari Debra H Yatim. Keterlibatan Diatra dalam acara adalah atas ajakan dari ibunya. Da- lam kegiatan sosial yang diikuti bersama sang ibu, ia lebih sering terlibat dalam pembacaan puisi dan menyanyi.
"Saya tertarik dengan kegiatan seperti ini karena masih ada hak-hak perempuan yang tidak diperhatikan. Acara seperti ini bisa membantu untuk terlibat dalam perjuangan yang kita tahu terjadi, tapi kadang-kadang tidak ada akses menuju ke sana," ujar siswi kelas dua SMA.
Mengenai perdagangan manusia, terutama perempuan dan anak-anak, Jajang C Noer menekankan esensi pendidikan untuk memperluas wawasan, khususnya di desa-desa.
"Harus ada penerangan dan penyuluhan kepada semua orang, terutama yang ada di kampung-kampung. Banyak dari mereka yang terjebak karena kemiskinan. Mereka tergoda untuk bekerja, ternyata kerjanya tidak benar," ujarnya.
Malam itu, Jajang membacakan empat buah puisi dari buku karya Debra. Aksinya diawali dengan pembacaan puisi berjudul No Issue. Sementara itu, Debra yang juga penulis salah satu buku ikut tampil sebagai pembawa acara.
"Saya diundang Unifem sehari sebelum acara. Mereka menawarkan untuk melanjutkan peluncuran buku ini. Saya tidak boleh menjual buku-buku itu, akhirnya saya menyumbangkan kepada Unifem dan hasilnya untuk penggalangan dana mereka," tambahnya.
Penampilan yang ditunggu-tunggu malam itu adalah pertunjukan Tari Saman yang dibawakan oleh siswi-siswi SMA Al- Izhar. Saat pertunjukan tarian akan dimulai, penonton yang semula duduk di karpet merah diminta pindah karena ternyata karpet itu adalah panggung bagi penari.
Suasana ruang langsung hening saat lagu pengiring dinyanyikan oleh seorang pria dan penari masuk ke tempat pertunjukan. Enam belas penari tersebut menyita perhatian pengunjung. Sesekali penonton bertepuk tangan saat jeda antar gerakan tarian.
Gerakan lincah tarian asal Aceh yang dilakukan para penari tersebut nyaris sempurna, hanya saja sempat terjadi beberapa kesalahan kecil. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa kagum penonton yang menyaksikan. [DMP/U-5]