[SERANG] Menteri Pertanian Anton Apriyantono menemukan berbagai jenis pupuk palsu baik dari sisi kemasan maupun kandungan kimiawinya saat memantau ketersediaan pupuk di sejumlah wilayah di Provinsi Banten, Rabu (2/1).
Hal itu ditemukan secara mengejutkan saat mengunjungi sebuah kios di Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. Mentan sangat menyayangkan lemahnya pengawasan terhadap peredaran pupuk palsu tersebut karena sangat merugikan petani.
Uniknya baik pengecer tidak mengetahui jika pupuk yang dijualnya palsu. Mentan menduga para pemalsu pupuk memanfaatkan kelemahan sistem distribusi terbuka di lini IV, dari pengecer ke konsumen, dengan mengelabui para pengecer dan petani. "Ini sangat merugikan. Petani membeli pupuk lebih mahal dari pupuk bersubsidi namun kandungan kimiawinya palsu," ujar Mentan.
Pengamatan SP, untuk mengelabui konsumen, tulisan dalam kemasan seolah pupuk tersebut diproduksi PT Pupuk Kujang dan PT Petrokimia Gresik, namun jika diteliti lebih seksama, nama produsen yang tertera tidak ada kaitannya dengan dua BUMN tersebut.
Dalam kandungan kimiawi juga terdapat perbedaan menyolok. Misalnya dalam kemasan tertera kandungan phosphate 18 persen padahal pupuk SP36 yang diproduksi Petrokimia Gresik minimal 36 persen. Demikian juga jika secara fisik, phosphate palsu berwarna putih dengan suhu yang terasa dingin. Padahal phosphate yang asli warnanya hitam hingga ke bagian dalam dengan suhu yang lebih hangat. Begitu juga dengan kandungan KCL, pada kemasan tertera 38 persen, padahal KCL produksi PT Pupuk Kujang minimal mengandung 62 persen.
Penyerapan Rendah
Sementara itu tingkat penyerapan pupuk di Provinsi Banten dinilai Anton terlalu rendah yakni hanya sekitar 80 persen. Jika terus rendah, jatah pupuk untuk Banten akan dikurangi dan dialihkan ke daerah lain yang lebih membutuhkan.
Mentan meminta Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten lebih aktif mengamankan dan memperlancar distribusi pupuk di wilayahnya. "Permintaan dari daerah terhadap pupuk naik terus, tapi kok realisasinya sangat rendah," ujar dia.
Sementara itu, Supervisor Pengadaan dan Penjualan Pupuk PT Pusri untuk wilayah Banten, Iwan Kuswandi mengatakan, rendahnya penyerapan pupuk disebabkan perubahan iklim 2007. Iwan tidak sependapat jika penyerapan pupuk di Banten rendah, karena realisasinya hingga Desember 2007 mencapai 89 persen. Dari target 68.998 ton terealisasi sebanyak 74.770 ton.
Ditambahkan, sesuai edaran Mentan, pihaknya membatasi penggunaan jumlah masing-masing jenis pupuk di tingkat petani. Untuk urea dibatasi maksimal 200 kilogram (kg) per hektare (ha), SP36 maksimal 28 kg/ha, dan pupuk ZA maksimal 50 kg/ha. Sementara itu jika menggunakan. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten, Egy Djaniswati mengatakan tidak semua jenis pupuk tingkat penyerapannya rendah. [L-11]