
[JAKARTA] Iklim usaha untuk industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di 2008 diperkirakan belum kondusif, sehingga target pertumbuhan ekspor industri yang diperkirakan meningkat 10 persen tahun ini menjadi US$ 11,06 miliar sulit tercapai. Hal tersebut dipengaruhi fenomena global yang kian terpuruk karena banyaknya bencana alam dan perlambatan ekonomi dunia.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) MS Hidayat, mengemukakan hal tersebut kepada SP, Rabu (2/1) malam. Dikatakannya, dengan kondisi pertumbuhan perekonomian Indonesia yang tidak lebih dari angka 6,5 persen tiap tahunnya, maka pertumbuhan industri TPT diperkirakan sama dengan 2007 atau bahkan menurun.
"Faktor bencana alam juga memberikan kontribusi penurunan yang besar pada industri TPT. Apalagi industri TPT sangat bergantung pada infrastruktur. Apabila infrastruktur rusak karena faktor alam, maka ekspor impor industri TPT terganggu, akibatnya target pertumbuhan tidak tercapai," ujar Hidayat.
Menurut Kadin, industri TPT merupakan industri yang sudah mulai redup pertumbuhannya. Sebab, dukungan pemerintah terhadap industri ini belum maksimal. Ditambah lagi produk tekstil dari Tiongkok masuk ke Indonesia tanpa ada batasan, baik legal maupun ilegal.
Dia mengemukakan, upaya peremajaan mesin tekstil yang baru aktif dilaksanakan September 2007 lalu belum efektif mendongkrak pertumbuhan industri TPT. Untuk itu, ke depannya pemerintah tidak bisa menjalankan (seperti biasanya), mengingat kondisi perekonomian dunia melambat akibat harga minyak mentah.
"Target ekspor terkait dengan komoditi industri. Diharapkan pemerintah bisa memberi kebijakan yang fokus pada pertumbuhan industri. Berikan insentif dan tax holiday kepada industri yang berorientasi ekspor jauh-jauh hari, untuk menarik minat pengusaha lokal dan asing," tambahnya.
Optimistis
Sementara ditempat terpisah, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno optimistis industri TPT akan tumbuh 10 persen di tahun 2008. Sebelumnya di 2007 nilai ekspor mencapai 10,6 miliar. Pada 2008 ditargetkan meningkat menjadi US$ 11,06 miliar.
Target pertumbuhan ekspor tersebut didukung penguasaan pasar domestik sampai 60 persen dari sebelumnya hanya 22 persen. Target ekspor akan dicapai dengan tambahan kapasitas produksi sebesar lima persen dan peningkatan utilisasi produksi sekitar 80 persen.
Optimisme API akan pertumbuhan ekspor itu didukung tambahan investasi industri TPT di akhir 2007 lalu sebesar US$ 300 juta dan pada 2008 sebesar US$ 500 juta. Investasi tersebut akan dipakai untuk peremajaan mesin tekstil berupa mesin spinning dan weaving. Melalui investasi industri akan menambah kapasitas produksi knitting, finishing, dan garment.
Benny berasumsi, pertumbuhan target ekspor industri TPT bisa tercapai jika pemerintah dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga konsumsi TPT dari 1,2 juta ton (2007) naik menjadi 1,3 juta ton (2008). Sampai saat ini, konsumsi TPT dunia mulai naik perlahan dari 56 juta ton (2007) meningkat 0,6 juta ton menjadi 5,6 juta ton (2008). Pangsa pasar utama terbesar tetap pada negara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Dikatakan Benny, konsumsi TPT dunia naik sekitar tiga persen. Pada 2006 konsumsi dunia mencapai 8,37 kilogram (kg) per kapita. Sementara pada 2007 konsumsi perkapita dunia mencapai 8,48 kg.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri TPT dalam neraca perdagangan barang di 2007 menyumbangkan devisa bersih sebesar US$ 8,01 miliar atau sebesar 24,33 persen dari total devisa bersih Indonesia (US$ 39,92 miliar). Nilai ekspor industri TPT naik 6,4 persen menjadi US$ 10,06 miliar. [EAS/Y-4]