
aktu terus tergelar di hadapan kita. Tahun yang lama sudah pamit. Ada sedikit cerita sukses. Ada hembusan harapan. Ada sketsa keberhasilan. Tahun yang baru sudah datang menantang kita. Ada prospek. Ada proyeksi. Tak kurang bayangan akan derita yang tak pernah tuntas.
Di penghujung 2007, dunia menangis saat menggelar konferensi internasional tentang perubahan iklim dunia di Bali. Seolah manusia baru sadar betapa bumi sudah makin remuk dihajar kerakusan dan ketamakan. Di titik kulminasi kecemasan ini terbersit harapan agar bumi diselamatkan sebelum segalanya punah.
Mesin Kerakusan
Bruce Rich, satu dekade lalu, menulis buku Mortgaging The Earth: The World Bank, Environmental Impoverishment and The Crisis of Development. INFID, tahun 1999, menerjemahkan dan menerbitkan buku ini, Menggadaikan Bumi: Bank Dunia, Penghancuran Lingkungan dan Krisis Pembangunan. Buku ini menyimpan refleksi yang sangat penting tentang pembangunan dengan kisah kegagalan yang lengkap. Pembangunan hanya menyisakan tangisan panjang atas kehidupan yang semakin mengerut tak berbentuk.
Sepanjang hampir dua dekade terakhir, tangisan-tangisan serupa semakin kuat menggema. Luka bumi terus membusuk. Usia yang semakin tua membuat bumi makin remuk. Sistem dan struktur politik yang bekerja di dalamnya telah menghancurkan bumi dan kehidupan dalam sekejap. Sangat sering, struktur-struktur ekonomi politik dan sistem pembangunan memicu kerusakan akut.
Subjek, mekanisme, dan pola yang menggerakkan sistem dan struktur politik pembangunan ini merintis objektivikasi terhadap kehidupan sekadar lumbung pemuas dahaga ketamakan. Arogansi struktural ini hanya memperbesar kelompok miskin dan melarat di pelosok-pelosok bumi. Sementara, segelintir orang berpesta pora di atas keruntuhan ini. Bumi sedang berada dalam genggaman para pedagang dan tengkulak yang tidak pernah puas mengeruknya hingga ambruk.
Di ruang semacam ini, tidak pernah ada kecemasan suci akan masa depan kehidupan. Tidak ada lagi keheningan untuk tumbuhnya keyakinan bahwa nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan niscaya ada di tahta tertinggi segala pertimbangan mesin pembangunan. Kini, sejarah dengan mudahnya membuntungkan kuncup-kuncup kehidupan kemanusiaan.
Sepanjang lima dekade pascaperang dunia, aksi pengerukan dan perusakan dianggap sebagai sebuah kebenaran demi kemakmuran dan kesejahteraan manusia. Sebuah justifikasi atas teror untuk lingkungan. Hutan dibabat. Isi perut bumi dikeruk habis-habisan.
Struktur-struktur sosial-politik yang menyembunyikan kebengisan di balik jubah argumentasi suci untuk menolong kemanusiaan, justru melemparkan kehidupan jauh di kegelapan. Jalan pulang menuju masa depan yang lebih baik terasa makin terjal. Dunia menjadi wilayah yang hampa kehangatan. Seperti sebuah kotak mati, tanpa belas kasih dan cinta.
Materi adalah nilai tertinggi, seolah menjadi Dewa atau Tuhan. Dan, manusia tidak pernah puas merengkuh materi. Segenap proses pembangunan yang menyilaukan pada akhirnya hanya menjadi bagian dari sejarah pengagungan materi. Kekuasaan yang berada di balik proses-proses bengis ini membuat dunia makin sempit, sesak dan sumpek untuk kehidupan yang merdeka.
Kritik yang Tidak Bergigi
Philip Quarles van Uffor dan Ananta Kumar Giri (ed), dalam buku A Moral Critique of Development menyebut tiga konsep penting pembangunan sesudah perang dunia menghajar kehidupan. Pertama, pembangunan sebagai karya harapan (1944 - 1947). Perang dunia mengirim kehidupan pada kehancuran total. Harapan akan sejarah yang lebih baik adalah keniscayaan.
Kedua, pembangunan sebagai upaya politik dan administrasi (sejak 1949). Episode penuh harapan ini membutuhkan intervensi pembangunan yang lebih konkret. Pembangunan berkaitan dengan politik, mekanisme, dan administrasi. Ranah ini berhubungan dengan penguasa dan pelaku yang menjalankan tujuan pembangunan. Namun upaya ini terjungkal dalam kerakusan politik yang turut melukai bumi.
Ketiga, pembangunan sebagai pemahaman kritis (sejak 1990). Tinjauan kritis atas politik pembangunan merupakan langkah mutlak untuk menyelamatkan bumi dari hajaran eksploitasi masif sebelumnya. Namun, kritik pembangunan tidak pernah menyentuh kesuksesan yang gemilang karena agenda-agenda global sudah terpenjara dalam perhitungan politik-ekonomi para tengkulak internasional.
Bukan hal yang mengejutkan lagi betapa sekian banyak kehidupan yang terlahir tidak menjanjikan harapan, selain menguatnya tanda kemunduran. Ada pertanyaan, apakah sejarah akan menyejukkan atau menjadi isyarat matinya nurani kehidupan? Gugatan ini semakin penting sebab ada alasan yang kuat untuk menganggap ziarah kita di tengah sejarah yang tak ramah ini akan berakhir tragis.
Ikhtiar membangun kritik total atas manajemen pembangunan global selalu kandas di hadapan motivasi-motivasi sesat kekuasaan.
Manusia sedang mengalami penderitaan pada semua ukuran. Sejarah di kekinian mendefinisikan kesengsaraan secara absolut. Sekian juta anak manusia lahir pada saat bumi terpanggang dalam kerusakan mengerikan. Belum lagi api dendam dan amarah politik yang menyala-nyala tanpa dapat dihentikan lagi. Lingkaran kekerasan dan jeruji kekasaran meringkus manusia dalam ketidakberdayaan. Kehidupan kehilangan keindahan.
Menyiasati Dilema
Indonesia kontemporer adalah bagian dari sejarah dunia yang sedang terjungkal di kawah kecemasan. Seolah terjebak dalam kepungan dilema-dilema mematikan. Bagaimana menghadirkan kemakmuran tanpa melukai bumi Indonesia? Sejak korupsi menjadi bagian dari manajemen pembangunan, Indonesia tidak mempunyai kemampuan mencukupi untuk menumbuhkan kesejahteraan tanpa melakukan eksploitasi raksasa.
Pascareformasi, lanskap pembangunan masih dihiasi kultur lama yang tetap menancapkan kekuatannya. Pertumbuhan ekonomi yang menjadi orientasi pembangunan nasional terus menghadirkan masalah-masalah sosial- kemanusiaan serius.
Sejarah Indonesia masa kini adalah sebentuk kristalisasi eksklusi sosial di ruang kemasyarakatan. Salah satu ciri yang amat dominan adalah kesenjangan sosial yang terus menguat. Jarak sosial antara kelompok yang memiliki akses pada sumber-sumber sosial, ekonomi, dan politik, dengan kelompok lemah, semakin lebar.
Kesenjangan sosial ini mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Terkait hal itu, ada beberapa poin penting. Pertama, ketidakadilan distribusi sosial dan ekonomi. Kemakmuran dan kesejahteraan masih berkisar pada segelintir masyarakat yang memiliki modal ekonomi besar.
Kedua, hancurnya lingkungan hidup (ekologi). Lingkungan hidup mengalami kehancuran akibat pembabatan hutan yang meluas. Kehancuran kualitas tanah untuk pertanian dengan cepat menimbulkan kemiskinan sosial.
Ketiga, sebagian besar masyarakat tidak mendapatkan jaminan untuk memperoleh pendidikan dan kesehatan yang baik. Program-program pemerintah yang memberikan jaminan sosial kepada kelompok paling miskin ternyata tidak berjalan efektif.
Keempat, ketidakadilan gender telah menimbulkan sekian banyak persoalan sosial bagi komunitas perempuan. Perempuan tetap menjadi komunitas sosial yang terpinggirkan.
Pada era Orde Baru, pemerintah percaya bahwa dengan membuka peluang investasi sebesar-besarnya, maka akan terjadi trickle down effect dan multiplier effect. Tetesan-tetesan keuntungan bisa dinikmati masyarakat sekelilingnya. Ternyata harapan itu tidak menjadi kenyataan. Bahkan, di saat krisis multidimensi melanda, kepercayaan itu runtuh. Persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial menyimpan energi kekerasan sosial laten yang pada saatnya nanti dapat meledak tak terkendali. Kriminalitas akan meningkat, kuantitas dan kualitasnya.
Problematika kemiskinan di negeri ini seperti menatap benang kusut akibat kompleksitas persoalan. Ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi untuk membongkar kesenjangan ini. Pertama, negara harus mempunyai visi yang kuat dalam membangun masyarakat. Kedua, harus ada rasa kebangsaan yang kuat di tengah masyarakat. Prasyarat pertama nyaris mutlak, sementara prasyarat kedua bisa dibangun secara simultan dengan upaya menutup celah kesenjangan dan mengurangi kemiskinan.
Tahun 2008 sudah membentang di hadapan kita. Tahun ini merupakan sebuah pilihan untuk meraih kesuksesan yang mengalami penundaan di kesilaman. Sejarah bukan ruang vakum, di mana setiap orang yang memiliki kekuasaan mutlak bisa seenaknya mengatur alur kehidupan dengan kerakusan dan ketamakan. Sejarah adalah ruang yang penuh dengan perjumpaan sosial, di mana kita membutuhkan kesegaran dan kesejukan. Kita membutuhkan moralitas baru dengan merefleksikan bumi dan Nusantara yang makin rusak dan remuk ini.
Alberto Melucci dalam bukunya The Playing Self: Person and Meaning in The Planetary Society (1996), memberikan penegasan eksistensial bahwa keberanian dan harapan selalu melindungi kita dalam membangun sejarah yang mengutamakan kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan. Keberanian tanpa harapan cenderung menumbuhkan kekacauan, sementara harapan tanpa keberanian hanya menyisakan kebosanan. Tahun 2008 akan menjadi titian menuju sejarah masa depan yang berkelimpahan kesejahteraan kalau ada keberanian memperbaiki kesalahan masa lalu dan harapan yang membawa perjuangan di masa depan.
Penulis adalah mahasiswa Program Pasca Sarjana Departemen Sosiologi Universitas Indonesia, PARHESSIA INSTITUTE
(Institute for Nation State Building) Jakarta