
Warga tidur di kamar yang terendam banjir di Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (1/1). Sementara itu regu penyelamat terus mengevakuasi warga dengan helikopter dan perahu karet. REUTERS/Sigit Pamungkas
lun-alun Kota Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), dan jalan-jalan tampak sunyi-sepi pada malam pergantian tahun. Tidak ada penerangan listrik. Tidak terdengar bunyi terompet. Hanya terdengar suara dengkuran tidur pengungsi yang lelah, setelah rumahnya tergenang luapan banjir Bengawan Solo.
Kota Bojonegoro yang dikenal dengan produksi makanan ledre terbuat dari pisang ini, mirip mangkuk terletak di bawah tanggul Bengawan Solo. Luberan air Bengawan Solo menggenangi sebagian besar wilayah kota sejak Minggu (30/12) setelah beberapa pintu tanggul Bengawan Solo jebol sehari sebelumnya.
Tidak ada hujan dan tiada badai, kiriman air dari Waduk Gajah Mungkur menenggelamkan Kota Bojonegoro serta desa-desa di bantaran Bengawan Solo. Genangan air yang masuk ke Kota Bojonegoro ini merupakan yang pertamakalinya sejak 25 tahun terakhir. Genangan air di dalam kota terjadi terakhir kalinya pada tahun 1985.
Pembangun tanggul sepanjang 15 kilometer (km) mengelilingi kota Bojonegoro, selama ini cukup ampuh menahan tekanan air Bengawan Solo. Tetapi tekanan air dengan debit sekitar 4.600 m3 per detik sejak Sabtu (29/12), menjebolkan pintu-pintu tanggul. Debit air naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 1992 sekitar 2.880 m3 per detik.
Malam pergantian tahun dalam suasana gelap gulita, tanpa aliran listrik. Lebih dari 100 gardu trafo milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Jatim di Bojonegoro terendam air. Tidak ada listrik, tidak ada layanan air bersih, demikian pula dengan saluran telekomunikasi, baik telepon Telkom maupun sejumlah telepon seluler.
Untuk mengalirkan listrik ke rumah-rumah penduduk, PLN Distribusi Jatim menunggu air benar-benar surut. Setelah itu baru dilakukan perbaikan terhadap semua instalasi PLN.
Sukiman pedagang terompet asal Lamongan mengaku mengeluarkan modal Rp 1,4 juta. Dagangannya tak banyak disentuh pembeli. "Tahun lalu ludes, sekarang warga melihat dan mampir saja wegah (enggan), apalagi membeli. Warga kota masih prihatin dengan banjir, jadi lebih mendahulukan keselamatan jiwa anggota keluarganya," kata Sukiman yang datang seminggu sebelum banjir.
Meski dalam suasana prihatin, namun sejumlah pemuda di beberapa sudut kota yang genangan airnya tidak terlalu tinggi, antusias dangdutan sambil berjoget memeriahkan tahun baru.
Tanpa Terompet
Keprihatinan tertimpa musibah banjir membuat warga Bojonegoro terpaksa melewati pergantian tahun di tempat pengungsian. Tidak ada kemeriahan. Tanpa suara terompet di jalan-jalan kota. Pengungsi memilih istirahat di kantong-kantong pengungsian. Mereka kelelahan setelah berjuang menyelamatkan diri dan hartanya. Warga kota mengungsi di masjid, perkantoran yang memiliki bangunan bertingkat, juga di rumah warga yang bertingkat.
Siti Kholilah (47), warga Kota Bojonegoro, di pengungsian kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Bojonegoro mengatakan, biasanya tahun baru keluarga di Bojonegoro merayakannya dengan cara yang berbeda. Siti mengaku memilih merayakan dengan acara panggang-memanggang.
"Biasanya kami sekeluarga manggang sate atau jagung lalu anak-anak mudanya melekan (begadang) sampai pagi di ujung-ujung gang. Anak-anak membunyikan terompet dan jalan-jalan di Bojonegoro biasanya macet. Tapi malam tahun baru ini tidak seperti itu, kita semua sedang prihatin," kata Siti.
Siti mengaku sudah lelah mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Dia mengungsi lima kali dalam tiga hari sejak Sabtu (29/12) petang sampai Senin (31/12). Air selalu menghampiri meskipun Siti sudah pindah tempat. Setelah di tempat pengungsiannya yang ke- lima di Kantor PMI, Siti merasa tenang.
Sejumlah jalan di Kota Bojonegoro masih ada yang tergenang hingga dada orang dewasa. Jalan yang masih tergenang di antaranya Jalan Diponegoro, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Rajawali, dan Panglima Sudirman.
Banjir tahunan akibat curah hujan tinggi biasanya menerjang desa-desa di bantaran Bengawan Solo yang tersebar di 11 kecamatan, misalnya yang paling parah di sejumlah kecamatan antara lain Bourno, Kapas, Trucuk, Padangan, dan Kalitidu.
Warga Kota Bojonegoro biasanya mengumpulkan sumbangan untuk warga desa. Tetapi genangan air di akhir tahun yang tidak pernah terjadi selama seperempat abad, membuat warga kota menjadi korban.
Untuk menguras air dari dalam kota Bojonegoro, akan di-optimalkan tiga pompa air di Bangunredjo, Ledhok, dan Karang Pacar. Tetapi menguras air dalam kota, sangat tergantung penurunan permukaan air Bengawan Solo sepanjang 100 km yang mengalir di Kabupaten Bojonegoro.
Penurunan pemukaan air Bengawan Solo, sangat tergantung dari kiriman air dari Waduk Gajah Mungkur, serta hujan di daerah hulu. Sampai Rabu (1/1) ketinggian air Bengawan Solo sekitar 16,25 pischal atau di atas normal 14 pischal. [Edi Soetedjo]