SUARA PEMBARUAN DAILY

Korban Banjir di Pandeglang Menolak Direlokasi

[PANDEGLANG] Ratusan keluarga korban banjir yang bermukim di pinggir Sungai Cilemer, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, menolak direlokasi. Mereka memilih tetap tinggal di kawasan bantaran sungai itu, kendati kehidupan mereka selalu dihantui ancaman banjir setiap tahun ketika musim hujan tiba.

"Warga di sini sudah terbiasa dengan banjir, karena setiap tahun kampung kami menjadi langganan banjir. Kami tidak mungkin mau direlokasi kendati difasilitasi pemerintah. Apalagi kalau kami harus transmigrasi ke daerah lain. Kami lebih baik tetap tinggal di sini," kata Azijah (40), warga yang bermukim di bantaran Sungai Cilemer ketika ditemui di Desa Surianuen, Kecamatan Patia, Pandeglang, Selasa (1/1).

Hal senada diungkapkan Ateng (35), warga Desa Idaman Kecamatan Patia. Dia akan tetap tinggal di lokasi yang jaraknya hanya sekitar 10 meter dari bibir sungai tersebut.

"Kami tidak pernah merasa khawatir dengan banjir yang terjadi setiap tahun di desa kami. Ini merupakan hal yang biasa kami alami setiap tahun," katanya.

Ia mengaku, setiap kali terjadi banjir, rumahnya selalu terendam air lebih dari 1,5 meter. Bahkan akibat banjir yang terjadi beberapa hari lalu, Ateng belum bisa pulang ke rumahnya, dan dan masih mengungsi di rumah keluarganya yang luput dari banjir.

"Kami hanya meminta kepada pemerintah agar mengatasi persoalan banjir yang selalu terjadi setiap tahun tersebut dengan membuat sodetan pada sungai, agar air tidak meluap ketika terjadi hujan yang lebat," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Pandeglang H Erwan Kurtubi, di sela-sela mengunjungi korban banjir, Selasa (1/1) mengatakan, untuk mengatasi banjir di wilayah ini dengan melakukan pelurusan sungai Cilemer, yang kondisinya berkelok-kelok. Selanjutnya, dengan melakukan sodetan, untuk memecah konsentrasi air di Sungai Surianuen dan melakukan pengerukan di muara Sungai Cibungur.

Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah yang datang ke lokasi banjir mengatakan, pihaknya akan mengakomodasi aspirasi yang disampaikan.

"Kami akan berkoordinasi dengan Balai Besar Sungai Cidanau, Ciujung dan Cidurian untuk merevitalisasi sungai itu. Anggaran untuk mendesain sodetan sungai itu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) 2008," katanya.

Koordinasi

Terkait relokasi, Atut meminta agar instansi terkait di Provinsi Banten melakukan koordinasi dengan Kabupaten Pandeglang, jika memang itu harus dilakukan.

"Namun, saya mendengar langsung dari warga, sebagian besar mereka tidak mau dipindahkan. Saya hanya menyampaikan solusi agar mereka membangun rumah panggung yang tinggi untuk mengatasinya, bila mereka tak mau pindah atau transmigrasi," katanya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandenglang dan Korem Maulana Yusuf Serang, menyerahkan bantuan untuk korban.

Bantuan itu berupa 10 ton beras (lima ton dari Pemkab Pan- deglang dan lima ton dari Pemprov Banten), 450 dus mi instan (200 dus dari Pemrov Banten dan 250 dari Pemkab Pandeglang), bantuan sarden tujuh dus dari Pemkab Pandeglang, 12 macam obat-obatan dari Dinkes Proivinsi Banten untuk 1.000 jiwa, serta 20 dus biskuit untuk 4.800 balita. Bantuan juga disalurkan dari Korem Maulana Yusuf Serang, PMI dan sejumlah organisasi kemasya- rakatan.

Sementara itu, Wali Kota Padang, H Fauzi Bahar mengatakan, bencana alam, terutama banjir diperkirakan akan terus mengancam Kota Padang dalam beberapa waktu ke depan. Pemerintah Kota (Pemkot) akan melakukan berbagai tindakan pembenahan, sebagai langkah antisipasi. Sedikitnya, ada tiga hal yang sedang diupayakan pemkot untuk penanggulangan bencana banjir, yakni perbaikan bendungan yang telah rusak, persiapan personel serta peralatan evakuasi dan penyelamatan bencana, termasuk pemberantasan pembalakan liar.

Pemkot akan memperbaiki dua bendungan yang jebol akibat banjir tanggal 25 dan 26 Desember 2007, yakni Bendungan Gunung Nago di Kecamatan Pauh dan bendungan Batang Kandis di Kecamatan Koto Tangah.

"Fungsi kedua bendungan itu sangat vital bagi perekonomian warga, baik pertanian dan perikanan. Kita akan mempriori- taskan perbaikannya. Sekarang banyak petani dan peternak ikan yang merugi akibat jebolnya bendungan tersebut," katanya. [BO/149]


Last modified: 2/1/08