[ISLAMABAD] Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pakistan memutuskan untuk menunda pelaksanaan pemilu selama satu bulan dari jadwal sebelumnya 8 Januari 2008. Penundaan dilakukan dengan pertimbangan situasi politik Pakistan yang masih panas.
Seorang pejabat senior KPU, Selasa (1/1), memastikan batas waktu penundaan pemilu itu. Menurut dia, pemilu mungkin baru bisa dilaksanakan pada minggu kedua Februari 2008. Namun, dia tidak mau menyebutkan tanggal pasti sebelum KPU mengumumkan jadwal resmi hari ini.
Kelompok oposisi menilai penundaan pemilu dari jadwal semula hanya akan menguntungkan koalisi partai penguasa yang mendukung Presiden Pervez Musharraf. Beberapa kalangan berpandangan kematian mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto akan mendongkrak dukungan terhadap partainya.
Pembunuhan Bhutto menimbulkan kerusuhan di sejumlah wilayah di Pakistan. Sejauh ini sudah 58 orang tewas dan perekonomian memburuk akibat kerusuhan tersebut. Kota di Provinsi Sindh yang menjadi basis massa pendukung Bhutto adalah yang terparah dilanda kerusuhan. Sebanyak 10 kantor KPU di wilayah itu dibakar oleh massa yang mengamuk.
"Dibutuhkan waktu setidaknya satu bulan untuk melaksanakan pemilu yang jujur dan adil setelah kerusakan yang terjadi di kantor kami di Provinsi Sindh," ujar seorang pejabat KPU.
Dia menjelaskan KPU siap untuk berbicara dengan partai-partai politik utama untuk membahas penundaan jadwal pemilu. Kendala lain yang dihadapi KPU adalah masalah ketersediaan logistik pemilu yang sebagian besar rusak karena kerusuhan.
Selain itu, banyak juga pemerintahan daerah yang meminta agar pemilu tidak dilaksanakan selama bulan Muharram, yakni pada 10 Januari hingga 8 Februari 2008. Pemerintah daerah tidak bisa menjamin keamanan selama bulan tersebut.
Desakan Oposisi
Berbeda dengan sikap pemerintah, kelompok oposisi justru mendesak agar pemilu dilaksanakan sesuai jadwal. Bahkan, pemimpin oposisi Nawaz Sharif mengancam akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran jika pemilu ditunda.
Sedangkan Partai Rakyat Pakistan (PPP) yang mendukung Bhutto menilai Presiden Musharraf sengaja menunda pemilu agar terjadi kemarahan publik dan kasus pembunuhan Bhutto terlupakan. "Pemilu pernah dilaksanakan di daerah-daerah konflik seperti Irak dan Afghanistan. Jadi, sulit untuk dipahami mengapa pemilu harus ditunda," ujar Sherry Rehman, juru bicara PPP.
Inggris dan Amerika Serikat (AS) juga berharap agar pemilu tidak ditunda. Namun, kedua negara tersebut mengindikasikan untuk menerima keputusan Pemerintah Pakistan jika pemilu harus ditunda. [AP/AFP/O-1]