
[TAIPEI] Presiden Taiwan Chen Shui-bian menginginkan sebuah perdamaian tanpa syarat dengan Tiongkok. Presiden Chen juga menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri perseteruan yang telah berlangsung selama beberapa dekade dengan Tiongkok.
Saat berpidato pada malam tahun baru, Selasa (1/1), Chen mengingatkan bahwa tidak akan ada sebuah pakta yang bisa ditandatangani jika Tiongkok masih menerapkan kebijakan "satu China". Tiongkok masih memandang Taiwan sebagai bagian dari teritorial mereka.
Pemerintahan Taiwan dan Tiongkok terpisah sejak perang sipil berakhir pada 1949. Sejak itu, hubungan keduanya terus mengalami ketegangan. Militer masing-masing pihak berada dalam status siaga.
"Dengan sepenuh hati kami menyambut baik setiap tawaran yang dapat mewujudkan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," ujar Presiden Chen. Dia mengaku telah diminta oleh beberapa pihak untuk bekerja sama dengan Tiongkok membangun sebuah kawasan militer bersama.
"Bagaimana pun, normalisasi hubungan antara Taiwan dan Tiongkok tidak dapat dilanjutkan jika ada prasyarat yang harus dipenuhi," ujar Chen yang memimpin Partai Progresif Demokratik.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Chen juga mengatakan kalau Tiongkok saat ini memiliki 1.328 misil balistik yang diarahkan ke Taiwan. Jumlah itu lebih besar tiga kali dibandingkan yang diduga selama ini dan dikhawatirkan akan mengancam stabilitas Selat Taiwan.
Menurut Chen, jumlah misil balistik itu meningkat tajam dibandingkan pada 2000 lalu yang berjumlah 200 unit. Ketika itu Chen baru saja menduduki jabatannya sebagai Presiden Taiwan.
Dikatakan, Tiongkok saat ini telah menerapkan tiga rencana untuk bisa menguasai Taiwan. Rencana itu adalah menyiapkan militer di Selat Taiwan pada 2007, memperbesar skala kekuatan militer pada 2010, dan menguasai Taiwan sepenuhnya pada 2015.
Saat ini Chen sudah menjalankan dua kali masa kepemimpinannya di Taiwan. Dia tidak dapat lagi mencalonkan diri pada pemilihan umum Maret 2008 dan secara resmi tidak lagi menduduki jabatannya pada Mei mendatang. [AP/Rtr/AMT/O-1]