![]()
AFP/Tony Karumba
Seorang pria mengajak anaknya melarikan diri saat terjadi kerusuhan di Mathare, Nairobi, Kenya, Selasa (1/1). Pemilihan presiden Kenya telah menimbulkan kerusuhan yang menewaskan lebih 300 orang.
[NAIROBI] Presiden Kenya Mwai Kibaki (76 tahun), Selasa (1/1), mendesak agar para pemimpin partai politik di Kenya untuk segera bertemu. Desakan disampaikan menyusul meletupnya kerusuhan etnis di Kenya yang menewaskan sedikitnya 300 orang.
Kibaki, yang baru saja memenangkan pemilu pekan lalu, juga meminta rakyat Kenya agar tetap tenang. Sebaliknya, penolakan tetap diperlihatkan oleh Raila Odinga, kandidat presiden dari kubu oposisi yang tersingkir dalam pemilu.
Odinga menyatakan bersedia untuk berdialog hanya apabila Presiden Kibaki mengakui bahwa pemilu Kenya diwarnai kecurangan. "Pembantaian harus dihentikan," tegas Odinga, Selasa.
Ia juga bersumpah akan mengerahkan demonstrasi besar-besaran di Nairobi pada Kamis (3/1). Dalam demonstrasi tersebut, Odinga berencana mengangkat diri sendiri sebagai "presiden rakyat Kenya".
Sedikitnya 35 anak-anak dan orang dewasa yang menyelamatkan diri ke sebuah gereja akhirnya tewas terbakar hidup-hidup akibat kerusuhan brutal di Kenya, kemarin. Kerusuhan tersebut merupakan puncak kekerasan pemilu yang mengancam akan menyulut konflik suku besar-besaran di Kenya.
Pembantaian mengerikan di dekat Kota Eldoret, barat Kenya, merenggut nyawa lebih dari 300 orang sejak pemilihan presiden digelar pada Kamis (27/12). Dalam pemilu tersebut, Mwai Kibaki menang tipis di tengah menyeruaknya tuduhan-tuduhan manipulasi suara yang dilontarkan Raila Odinga. Kekerasan tersebut adalah yang terburuk di Kenya sejak kudeta gagal pada 1982.
Konflik Etnis
Kibaki berasal dari suku terbesar di Kenya, yakni Kikuyu. Sedangkan Odinga berasal dari Luo, suku besar ke-2 di negara tersebut. Kekerasan yang terjadi pascapemilihan presiden tak urung mengarah ke konflik etnis.
Saling balas membunuh dan serangan bersenjata dilancarkan oleh masing-masing etnis. Para korban kebakaran termasuk di antaranya adalah beberapa orang dari 400 orang yang terpaksa mengungsi ke gereja.
Menurut sejumlah korban yang selamat dan polisi, mereka berupaya menyelamatkan diri dari bentrokan antara suku yang semakin memanas. Disebutkan, kerumunan orang yang mengamuk itu menyiram Kenya Assemblies of God Church dengan bensin sebelum akhirnya membakar gereja itu.
"Sedikitnya 35 orang terbakar hidup-hidup hingga tewas di dalam gereja, termasuk perempuan dan anak-anak," kata Sekjen Palang Merah Kenya, Abbass Gulled. Mayat-mayat ditemukan bercampur-baur di antara lembaran-lembaran besi dan bangku-bangku kayu gereja yang separuh terbakar.
Pada Selasa (1/1), pemantau Uni Eropa mengatakan pemilu Kenya "kurang memenuhi" standar internasional. Mereka mendesak agar pemeriksaan independen digelar terhadap hasil-hasil pemilu. Desakan tersebut tak urung semakin meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Kibaki.
Para utusan Eropa serta Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Kenya sebagai badan milik pemerintah sebenarnya telah mendesak agar pengumuman hasil pemilu ditunda hingga penyelidikan atas tuduhan kecurangan pemilu rampung. Tetapi, hasil pemilu tetap saja diumumkan. Ketua Komisi Pemilihan Umum Kenya mengatakan pengumuman hasil pilpres terpaksa dilakukan di bawah tekanan Partai Kesatuan Nasional (PNU) yang berkuasa.
Konflik pada Selasa menewaskan lebih dari 110 orang. Krisis tersebut dikhawatirkan bakal menjerumuskan Kenya, sebagai salah satu negara demokrasi yang relatif stabil di Afrika, ke jurang krisis yang tidak terprediksikan sebelumnya. Mengacu jumlah korban yang berhasil dihimpun AFP, sudah sebanyak 301 warga Kenya tewas akibat kekerasan berlatar belakang politik yang terjadi sejak pilpres pada 27 Desember 2007. [AFP/Rtr/E-9]