SUARA PEMBARUAN DAILY

Cerita Masyarakat Minang Dibukukan Emral Djamal

[PADANG] Cerita masyarakat Minangkabau, ternyata masih banyak yang belum terdokumentasikan melalui buku-buku dan tulisan. Realitas ini dipandang sangat merugikan, karena dalam jangka panjang maka sejarah dan cerita Minangkabau itu bisa hilang ditelan zaman.

Persoalan itu makin bertambah, minimnya penulis yang mau membukukan karya-karya tersebut. Alhasil, cerita masyarakat Minang akan ikut terkubur bersama orang-orang yang masih mengingatnya.

"Kaba Pusako Minangkabau, Bongsu Pinang Sibaribuik (BPS), sebuah buku Karya Emral Djamal Dt Rajo Mudo ini, asli dari Kaba Pusako Minangkabau. Dalam buku ini diceritakan tentang ketertindasan yang dialami oleh Bongsu, karena sistem adat dan aturan pemerintah kala itu," kata Ketua Dewan Pengurus Harian Dewan Kesenian Padang, Darman Moenir, kepada SP, di sela-sela acara peluncuran buku BPS, di Ruang Diskusi Chairil Anwar, Taman Budaya Sumatra Barat, baru- baru ini.

Dijelaskan, latar yang menjadi jalan cerita BPS, terjadi dalam kurun waktu Perang Paderi dan masa penjajahan di Ranah Minang. Dalam cerita digambarkan, Bongsu keluar dari masalah yang menghimpitnya.

"Bagi generasi sekarang, setidaknya bisa menjadi inspirasi untuk memiliki semangat untuk maju. Kisah perjuangan hak-hak Bongsu yang terampas, kekuatan dan harga dirinya, bisa menjadi spirit untuk keluar dari masalah yang ada," katanya.

Sementara itu, Staf Pengajar dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) Padang, Dra. Zuryati, M.Hum. yang menjadi pembicara tunggal alam peluncuran buku tersebut mengatakan, berbagai cerita rakyat Minangkabau tersebar dalam bentuk kaba (kabar) dari mulut ke mulut saja. Ia sering didendangkan dalam lagu, ataupun dalam kesenian anak nagari berupa randai.

"Cerita seperti Kaba Cindua Mato, Kaba Anggun Nan Tongga, Kaba Rancak di Labuah, Kaba Sabai Nan Aluih dan masih banyak lagi, sangat terkenal dan menjadi akrab di telinga masyarakat. Ia lestari, karena diceritakan turun temurun dengan cara lisan," katanya.

Menurut Zuryati, Kaba BPS merupakan hasil kerja keras, dan tidak banyak orang yang dapat dan terpanggil untuk melakukannya. BPS diperoleh dari menggali, mengkaji dan menginventarisasi nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau masa lalu. Usaha untuk buku ini tidak mudah, karena merupakan sebuah susunan ulang yang dirajut dan disulam kembali dari berbagai ilustrasi kisah-kisah yang terputus.

Darman menambahkan, buku BPS berhasil dicetak berkat adanya bantuan dana yang besar dari Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Dr Rais Yatim. Buku BPS tersebut, sekarang telah beredar di pasaran dengan harga Rp 80.000/ eksemplar. Buku BPS yang ditulis dalam bahasa Minang itu menggunakan dialek Pesisir Selatan. Selain itu, juga ada dialek Bahasa Minang dari nagari-nagari lainnya di Sumbar. [BO/U-5]


Last modified: 2/1/08