[JAKARTA] Departemen Perindustrian (deperin) terlalu optimistis dalam menetapkan sasaran pertumbuhan industri sebesar 7,43 persen pada 2008. Kenyataannya, selama pemerintahan Yuhoyono-Kalla pertumbuhan industri tidak pernah melebihi angka 6,5 persen. Ditambah lagi, tiga industri yang banyak menyerap tenaga kerja justru pertumbuhannya menurun 0,1 persen sampai 0,9 persen di 2007.
Tiga industri tersebut yakni, industri tektil, barang kulit dan alas kaki menurun 0,9 persen, industri barang kayu dan hasil hutan menurun 0,28 persen, serta industri pupuk, kimia dan barang dari karet menurun 0,1 persen. Pada 2008, Deperin justru optimis menargetkan pertumbuhan tiga industri tersebut meningkat 1-2 persen.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Gadah Mada (UGM) Mudrajat Kuncoro, kepada SP Senin (31/12) mengatakan, Deperin terlalu muluk-muluk menetapkan sasaran target pertumbuhan. Apalagi, pada kenyataannya pertumbuhan industri selalu di bawah target yang ditentukan pada awal tahun.
"Buktinya tahun ini industri bertumbuh jauh di bawah target. Awal tahun 2007 diprediksi bertumbuh sampai 7,9 persen. Tetapi realitanya hanya 6,31 persen. Kemungkinan tahun 2008 juga tidak akan jauh dari 6,5 persen," ujar Mudrajat.
Dalam menenukan target pertumbuhan, pemerintah diharapkan mempertimbangkan faktor pendukung baik ekstrenal dan internal. Dari sisi eksternal banyaknya bencana alam yang mempengaruhi jalur distribusi berpengaruh besar pada industri. Sementara di dunia internasional, harga minyak mentah dunia belum bisa kompromi ke level US$ 80 per barel.
Sementara di sisi internal, pasokan bahan baku yang sangat minim sehingga tetap mengandalkan impor. Ditambah dengan kenaikan BBM industri yang meningkatkan biaya produksi.
Mudrajat mengemukakan bergantungnya Indonesia pada bahan baku dan produk impor menjadi momok yang harus diperhatikan. Untuk itu pengembangan industri hilir yakni bahan baku segera direalisasikan, khususnya untuk industri tekstil dan pertanian (Agro industri).
"Impor tertinggi ada pada industri tekstil sebesar 90 persen dan industri pengolahan susu masih 30-60 persen. Hal itu mempengaruhi biaya produksi yang semakin tinggi," katanya.
Secara terpisah, Dirjen Industri Agro Kimia (IAK) Departemen Perindustrian Benny Wahyudi, mengemukakan penurunan pertumbuhan industri pupuk dan kayu dikarenakan kurangnya bahan baku dan sumber energi gas. Kedepannya, pemerintah akan melakukan kerja sama antar daerah penghasil bahan baku dengan sentra industri rotan. Rencananya pemerintah akan membatasi ekspor bahan baku rotan untuk mengamankan pasokan dalam negeri.
Sementara untuk industri tekstil, barang kulit dan alas kaki diperkirakan bertumbuh sampai 3,50 persen dari sebelumnya 1,50 persen. Sekjen Deperin Agus Tjahajana mengatakan program peremajaan mesin tekstil akan menjadi pemicu pertumbuhan industri. Sebab, awal tahun 2008 nanti mesin-mesin baru mulai diberikan pada industri TPT. [EAS/M-6]