SUARA PEMBARUAN DAILY

Pemadaman Listrik Masih Ancam Jawa-Bali

[JAKARTA]Pemadaman listrik secara bergilir di wilayah Jawa-Bali diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2008. Pasalnya, pasokan listrik untuk wilayah ini mengalami defisit yang cukup besar karena tidak adanya tambahan pembangkit baru berkapasitas besar, sementara kebutuhan listrik meningkat pesat. Sejak November 2007, beban puncak di sistem Jawa-Bali sudah meningkat sekitar 600 MW.

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Eddie Widiono di Jakarta, Selasa (1/1) mengatakan untuk mengantisipasi pemadaman, PLN terpaksa kembali menaikkan pemakaian bahan bakar minyak untuk beberapa pembangkit, karena pasokan listrik dari pembangkit batu bara dan gas dikhawatirkan masih mengalami gangguan.

Namun, guna menekan biaya operasional, PLN akan lebih banyak menggunakan minyak bakar (marine fuel oil/MFO) yang harganya jauh lebih murah ketimbang minyak solar.
Menurut Eddie, keandalan pasokan listrik di sistem Jawa-Bali sebenarnya sangat bergantung pada operasional pembangkit-pembangkit batu bara dan gas berkapasitas besar. "Tetapi, sepertinya tahun 2008 pasokan batu bara dan gas di beberapa pembangkit masih mengalami gangguan, terutama untuk gas," katanya.


Dipercepat

Tahun 2008, lanjut Eddie, sistem Jawa-Bali hanya akan mendapat tambahan pasokan sekitar 60 MW dari beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Unit 4 di Jawa Barat, yang baru diresmikan beberapa waktu lalu.

Sedangkan, sejumlah pembangkit besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang, PLTGU Tanjung Priok dan PLTGU Muara Tawar yang berada di wilayah Jawa bagian barat diperkirakan akan kesulitan bahan bakar, mengingat pasokan gas belum bisa sesuai kebutuhan.

Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B dan PLTU Cilacap yang diharapkan dapat menopang kebutuhan listrik di wilayah Jawa bagian tengah, sering tidak bisa beroperasi optimal karena pasokan batu bara dari Kalimantan juga masih sering terganggu akibat cuaca buruk.

Menurut Eddie, semula dalam perencanaan, tahun 2008 PLN menargetkan pemakaian BBM pembangkit sekitar 7,65 juta kiloliter (KL), lebih rendah dari kuota Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008 yang ditetapkan sebesar 9,1 juta KL. Namun, dengan kondisi pasokan gas dan batu bara yang masih mengkhawatirkan, PLN memperkirakan kebutuhan BBM 2008 akan berkisar 10,6 juta KL, lebih besar dari kebutuhan tahun 2007 yang mencapai 10,2 juta KL.

"Kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada mahalnya BBM industri telah membuat industri mengalihkan pemakaian listrik ke PLN. Akibatnya, pemakaian BBM PLN juga membengkak," kata Eddie. [H-13]


Last modified: 2/1/08