![]()
SP/YC Kurniantoro
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) didampingi sejumlah menteri terkait dan Direktur Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah (kedua dari kanan) dan Gubernur DKI Fauzi Bowo (kanan), menekan tombol tanda dibukanya perdagangan saham di BEI, Jakarta, Rabu (2/1). Indeks Harga Saham Gabungan dibuka pada 2.742,111.
[JAKARTA] Kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak mampu mendorong pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak ke teritori positif. Kondisi ini berbeda dengan perdagangan pada 2 Januari 2007 lalu yang naik tipis 4,910 poin (0,27 persen) ke level 1.810,433. Pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu, 2 Januari 2008, indeks langsung turun 3,715 poin ke level 2.742,111.
Penurunan indeks ini mengikuti penutupan perdagangan akhir tahun di bursa global seperti Wall Street dan pembukaan perdagangan awal tahun di bursa regional.
Dalam sambutan singkatnya Yudhoyono mengatakan, industri pasar modal mampu memberi kontribusi bagi pertumbuhan perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Presiden Yudhoyono juga meminta pelaku pasar modal meningkatkan komitmen, dedikasi dan kerja keras untuk kepentingan bangsa.
"Bersama pemerintah mari kita tingkatkan komitmen, dedikasi dan kerja keras untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara," kata Presiden.
Hadir dalam kesempatan itu di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil. Presiden juga meresmikan logo baru BEI yaitu IDX (Indonesia Stock Exchange).
Yudhoyono meminta seluruh pelaku pasar modal bersama pemerintah meningkatkan komitmen, dedikasi dan kerja keras untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Dengan begitu, kontribusi pasar modal semakin meningkat untuk pertumbuhan ekonomi nasional.
Dia mengatakan, prestasi yang dicapai bursa saham di Indonesia mencerminkan banyak hal yang jelas arah pembangunan ekonomi pasca krisis sudah pada arah yang benar dan fundamental ekonomi semakin baik karena bisa meredam gejolak krisis perumahan di Amerika Serikat serta harga minyak dunia.
"Menunjukkan makin tahan dan resiliensi dalam menghadapi gejolak," katanya.
Dinamika Perekonomian
Menurut Presiden, dinamika perekonomian global dan perekonomian nasional sudah terkait. Ia memaparkan banyak yang meramalkan akan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi global atau resesi. Tapi, ada juga pengamat ekonomi yang memprediksi kondisi tersebut tidak seburuk itu. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan dari 5,2 persen menjadi 4,8 persen.
"Harus tahu faktor-faktor ekonomi yang akan mempengaruhi ekonomi nasional, volatilitas pasar minyak, bayang-bayang inflasi energi dan pangan," kata Presiden.
Perlambatan ekonomi dunia yang diprediksi melambat, ujarnya, dapat diantisipasi dengan cara semua pihak tidak cemas apalagi prospek ekonomi Indonesia 2008 tetap positif dan dampak dari krisis perumahan AS hampir tidak banyak mempengaruhi ekonomi Indonesia.
"Pengaruh harga minyak, jangan lupa Indonesia juga negara produsen minyak yang membuat pengaruh harga minyak juga ada baiknya bagi pendapatan kita," katanya.
Presiden tetap optimistis ekspor Indonesia tetap meningkat karena produk pertanian dan tambang masih bagus. Termasuk investasi karena investasi di 2007 sangat baik. Meski tidak perlu mengkhawatirkan kondisi ekonomi dunia itu, tapi memang perlu diantisipasi.
Prestasi yang dicapai BEI, katanya, menggambarkan telah ada perbaikan baik makro ekonomi dan sektor riil. Banyak yang katakan sektor riil tidak tumbuh, katanya, itu tidak benar. Pasalnya, jika ekonomi nasional tumbuh 6,3 persen maka selalu ada korelasinya dengan sektor riil. Prestasi pasar modal menunjukkan stabilitas politik, kestabilan masyarakat, dan kondisi tanah air karena terkait kepercayaan investor di pasar modal.
Menurutnya, di 2008 ekonomi dunia yang diprediksi melambat harus dipikirkan adanya peluang Indonesia di tingkat dunia karena pertama peluang di ekonomi dan usaha, kedua di 2008-2010 pembangunan infrastruktur yang akan menggerakkan ekonomi lain. Ketiga, makro ekonomi stabil maka sektor perbankan akan semakin baik apalagi suku bunga terus turun. "Jadi jangan sia-siakan peluang itu," katanya.
Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, IHSG mencatat kinerja baiknya di 2007. Diukur dari sisi transaksi hari terakhir di 2006 maka hingga 27 Desember 2007 lalu IHSG BEI sudah tumbuh 52 persen. Angka tersebut merupakan persentase pertumbuhan indeks tertinggi di kawasan Asia di luar Tiongkok dan nomor tiga di Asia Pasifik, di luar Shanghai dan Shenzen. Nilai kapital yang mencerminkan total aset dan perusahaan yang listing di BEI juga pernah mencapai Rp 2.000 triliun pada 11 Desember 2007 sebelum akhirnya ditutup pada angka Rp 1.982,7 triliun pada 27 Desember lalu.
"Hal itu menunjukkan telah terjadi peningkatan kapitalisasi pasar lebih dari 57 persen pada 2007 lalu," katanya.
Pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar tersebut juga cukup signifikan terhadap kontribusi pasar modal bagi total produk domestik bruto nasional yang tadinya hanya 37,4 persen di 2006 saat ini nilai kapitalisasi pasar tersebut sudah mencapai 67 persen dari PDB.
Nilai transaksi saham tahunan juga meningkat lebih dari 130 persen dari Rp 445 triliun di 2006 menjadi Rp1.043 triliun di 2007. Hal ini sejalan dengan meningkatnya nilai rata-rata transaksi saham harian di bursa dari hanya sekitar Rp 1,85 triliun di 2006 telah menjadi Rp 4,2 triliun per hari di 2007.
Pencapaian lain, kata Menkeu, adalah mulai pulihnya kepercayaan para pemodal bagi industri reksa dana nasional, meski pun belum menembus rekor nilai aktiva tertinggi di 2004 sebesar Rp 104 triliun namun pertumbuhan selama dua tahun terakhir ini sangat konsisten dan jelas merupakan signal yang kuat akan semakin terjaga pertumbuhannya di 2008 ini. [L-10/B-15]