SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA I

Mengakrabi Bencana dan Musibah

Seakan-akan sudah menjadi ritual bagi Indonesia saat mengakhiri tahun dan memasuki tahun baru selalu dihadapkan pada bencana dan musibah. Keduanya seakan membingkai perjalanan waktu bangsa ini selama setahun, dan di dalam bingkai itu, terserak sejumlah peristiwa serupa yang menyeruakkan kegetiran di lubuk hati kita.

Tengok saja menjelang akhir 2006, tepatnya 28 Desember 2006, kapal Tri Star I tenggelam di Selat Bangka yang menyebabkan korban tewas. Dua hari kemudian, giliran kapal Senopati Nusantara tenggelam di lepas pantai Jepara, Jawa Tengah, yang juga merenggut korban jiwa. Tak lama kemudian, tepatnya 1 Januari 2007, pesawat terbang milik maskapai Adam Air jatuh di perairan Sulawesi Barat dalam penerbangan dari Surabaya menuju Manado. Sembilan puluh enam penumpang dan awak pesawat itu hingga belum ditemukan. Hanya kotak hitam yang berhasil diangkat, itu pun lepas beberapa bulan setelah kecelakaan.

Mengakhiri tahun ini, bencana dan musibah juga menguras air mata keluarga korban. Berturut-turut bencana alam banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang menewaskan puluhan warga.

Lantas pada 30 Desember 2007, pesawat patroli maritim Nomad milik TNI Angkatan Laut mengalami kerusakan mesin dan jatuh di perairan Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Lagi-lagi musibah itu merenggut korban jiwa, awak dan penumpang.

Di antara awal dan pengujung 2007, kita juga mendengar, membaca, dan menyaksikan betapa musibah dan bencana datang silih berganti, tiada henti. Dari kecelakaan transportasi, banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga gelombang pasang. Tak sedikit pula nyawa melayang.

Menapaki awal 2008 kita pun bertanya-tanya, musibah dan bencana apa lagi yang bakal terjadi di negeri ini? Masihkah rentetan tragedi itu menghampiri kita di Indonesia? Itu sebuah permenungan yang cukup logis. Itu juga sekaligus menandakan bahwa masyarakat kita kini cukup akrab dengan bencana dan musibah. Keduanya memang bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia di dunia. Namun, dengan frekuensi yang begitu sering, ditambah skala kerusakan yang begitu besar sehingga banyak korban jiwa, tentu hal itu sesuatu yang luar biasa.

Kita harus menyadari bahwa bencana dan musibah membawa dampak kerugian yang begitu besar. Tak hanya kerugian materi, tetapi juga nyawa manusia. Segala hal yang telah dicapai musnah dalam sekejap. Semua jerih payah dan tetesan keringat bertahun-tahun tersapu dalam hitungan menit, bahkan detik. Pun kemajuan yang telah diperoleh dinihilkan tanpa ampun. Semuanya itu membawa manusia, terutama para korban, seolah kembali ke titik nol.

Bencana dan musibah memang tak bisa dielakkan. Tetapi sering kali keduanya datang karena sengaja didatangkan oleh manusia. Banjir dan tanah longsor, misalnya, tak akan terjadi apabila hutan dan pepohonan di lereng gunung dan bukit tak ditebang secara serakah.

Demikian pula musibah kecelakaan, tak akan terjadi, bila manusia cermat memelihara sarana transportasi dan menyiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Langkah itu ditambah waspada dan bijak mengantisipasi keadaan cuaca selama perjalanan.

Sejauh ini kita melihat upaya pencegahan itu kurang mendapat perhatian serius, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Kita telanjur terlena oleh sikap menggampangkan segala sesuatu tanpa mau memperhitungkan kemungkinan dampaknya di kemudian hari. Selama kita tidak mengubah perilaku demikian selama itu pula kita akan terus akrab dengan bencana dan musibah.


Last modified: 2/1/08