SUARA PEMBARUAN DAILY

Karate Berat Ulangi Sukses

[NAKHON RATCHASIMA] Tim karate Indonesia tampaknya berat untuk mengulang sukses yakni menjadi juara umum seperti pada SEA Games XXIV.
Jika di SEA Games Filipina (2005), karate mampu mengumpulkan lima medali emas, target empat emas di SEA Games XXIV yang kini dibidik bakal lebih berat.

Pasalnya, nomor-nomor yang diincar untuk perolehan emas, baik di kumite (tanding) maupun kata (jurus) banyak yang tak tercapai, seperti pada pertandingan Rabu (12/12), setidaknya ada empat target emas yang dibidik gagal diraih, masing-masing dari kata perorangan putra, kata beregu putri, kumite putra -60 kg, dan putri -53 kg. Hanya satu target emas yang berhasil dicapai, yakni kata beregu putra oleh trio Azwar, Fidelis dan Faizal.

"Seharusnya di nomor kata perorangan putra, kita bisa meraih emas. Penampilan atlet kita, Denies Sani Ibrahim lebih baik daripada karateka Malaysia, Ku Jin Keat. Namun wasit sama sekali tak memberi angka buat Denis. Rupa-rupanya predikat runner-up Asia yang disandang Jin Keat berpengaruh pada penilaian," keluh ketua bidang pembinaan dan prestasi Karate-do Indonesia (Forki), Madju Daryanto.

Pada hari kedua pertandingan Kamis (13/12), dua target emas yang dibidik dari kelas -75 kg oleh karateka Cristo Mondulu dan Hendro Salim (75 kg) tak tercapai. Beruntung Azwar Ali yang tampil di kelas 70 kg mampu meraih emas. Cristo hanya mampu meraih perak dikalahkan karateka Malaysia, Mahendran dengan skor 1-0. Sementara Hendro hanya meraih perunggu.

Kalah satu angka dari lawan di final jelas menyakitkan. Tetapi kenyataannya itulah yang terjadi. Banyak karateka kita termasuk Cristo yang hanya kalah tipis dari lawan. Sebelumnya Donny Darmawan andalan di kelas -65 kg juga kalah tipis 2-3 pada pertandingan final dari karateka Malaysia, Lim Yoke Wai. Kebanyakan penyebabnya karena kurang berani dalam menyerang, dan hanya bersikap antisipasi.

Cristo misalnya selama tiga menit pertandingan final, menunggu serangan lawan untuk melakukan serangan balik saat pertahanan lawan terbuka.

Ternyata lawan juga melakukan hal yang sama. Strategi yang dijalankan pelatih Willem Mantiri terbilang riskan, yaitu menghabiskan waktu tiga menit hanya bergerak-gerak memutari arena dengan menunggu lawan menyerang.

Tak ada angka yang dihasilkan selama waktu berjalan. Akibatnya, kedua karateka kemudian menjalani babak perpanjangan waktu satu menit yang menggunakan sistem sudden death. Karateka pertama yang berhasil masuk pukulan atau tendangannya akan menjadi pemenang. Malapetaka datang saat lawan berinisiatif menyerang dan Cristo terlambat memukul masuk.

Kini karateka tinggal mengandalkan di emas di nomor beregu putra dan putri. Jika di lapangan karateka Indonesia lebih bersikap pasif, dan membuang waktu, jelas merugikan. Target empat emas yang kini dibidik pengurus karate agak berat dapat dicapai. [L-9]


Last modified: 14/12/07