SUARA PEMBARUAN DAILY

Banyak Barang Pusaka Raib, Warga Solo Protes

SP/Fuska Sani Evani

Aksi kultural untuk mengungkapkan keprihatinan atas hilangnya benda-benda bernilai sejarah dilakukan oleh ratusan warga Solo yang didukung masyarakat Semarang dan Yogya pada Rabu (28/11). Pada aksi yang dimulai dari depan Museum Radya Pustaka Solo itu warga sengaja mengenakan atribut Jawa lengkap dengan pakaian ala pasukan Keraton Yogya.

[SOLO] Dengan mengenakan atribut Jawa, ratusan warga Solo, Semarang, dan Yogyakarta mengungkapkan keprihatinan atas hilangnya benda-benda bersejarah koleksi Museum Radya Pustaka Solo dengan aksi kultural.

Massa yang terdiri dari seniman, budayawan, dan masyarakat pemerhati budaya ini memulai aksinya di depan Museum Radya Pustaka Jl Slamet Riyadi, kemudian melakukan long march menuju halaman Balaikota Solo, Rabu (28/11).

Puluhan lelaki berbusana Bregada Musikan Pasiraman Cokrokusuman, replika prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta, memainkan drum band keraton, mengawal para pengunjuk rasa berbusana Jawa.

Aksi yang dimotori Lembaga Tamansari Sriwedari, Gerakan Moral Pancasila serta Paguyuban Tri Tunggal ini ini dilakukan dengan simpatik, termasuk menggelar orasi yang intinya meminta agar Pemerintah Kota Solo bersikap tegas terhadap pelaku pencurian benda-benda pusaka.

Poster-poster diusung sebagai visualisasi amarah rakyat, termasuk foto Mbah Hadi yang kini telah ditahan Poltabes Solo. Foto Mbah Hadi itu mereka beri komentar "Iki Jaman Edan. Yen Ora Edan Ora Keduman".

Sesampainya di halaman Balai Kota Solo, segenap peserta berjajar rapi. Musik campursari diperdengarkan sambil diselingi orasi-orasi, termasuk salah satunya datang dari perwakilan Warok Ponorogo yang memprotes Malaysia.

Aksi simpatik ini disambut secara simpatik pula oleh Wali Kota Solo Joko Widodo yang didampingi Direktur Museum Nasional, Intan Mardiana.

Kepada Joko Widodo, koordinator aksi, Mustaqien mengatakan, penjualan arca oleh pengelola museum sungguh merupakan tragedi bangsa. "Bangsa kita sedang terluka oleh pencurian budaya. Lagu Rasa Sayange, kini Reok dan sekarang malah sengaja dijual. Ini tragedi," katanya.

Seluruh komponen masyarakat Solo, meminta agar aparat kepolisian me-ngusut tuntas hilangnya beberapa benda bersejarah di Museum Radya Pustaka, bahkan menurutnya, tegel di museum itu sekarang bukan yang asli.

"Saya mendengar kalau tegelnya saja sudah dibongkar, maka kami minta Pak Wali untuk segera menginventarisasi seluruh aset museum itu," katanya lagi.

Resah

Mereka juga resah karena saat ini ada pihak yang siap merobohkan Benteng Vredeburg di Kota Solo. Mustaqien meminta agar wali kota tegas terhadap museum di Keraton Solo, sebab menurutnya semua benda yang ada di Keraton Solo juga milik masyarakat.

"Mbah-mbah kami dulu juga menyumbang untuk keraton. Segala bentuk pajak, kalau dulu upeti kepada Raja diwujudkan menjadi benda-benda pusaka itu, karena itu benda pusaka apa pun, bukan barang warisan, tetapi barang yang harus dilestarikan dan tidak boleh dimiliki pribadi," tegasnya.

Menanggapi uraian Mustaqien, Wali Kota Solo Joko Widodo mengatakan, sudah ada kesepakatan antara Pemkot Solo dengan Direktur Museum Nasional akan melakukan langkah penyelamatan terhadap peninggalan budaya, termasuk kemungkinan mengambil alih pengelolaan Museum Radya Pustaka yang saat ini dikelola sebuah yayasan swasta.

Kalaupun pengambilalihan tak bisa dilakukan, setidaknya Pemkot Solo bisa menempatkan personel untuk membantu pengelolaan, sekaligus melakukan pengawasan. [152]


Last modified: 28/11/07