![]()
AP/Sergey Ponomarev
Seorang aktivis Partai Rusia Bersatu membagikan kertas promosi yang bergambar Presiden Vladimir Putin di St Petersburg, Rusia, Rabu (28/11).
[MOSKWA] Para aktivis hak asasi manusia (HAM), Rabu (28/11), menuding pemerintah Rusia menekan calon pemilih agar memberikan suara kepada Partai Rusia Bersatu yang didukung Kremlin dalam pemilu parlemen Minggu (2/12). Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin berjanji akan melaksanakan pemilu yang jujur. Putin mengatakan Rusia sangat berkomitmen terhadap demokrasi dan HAM.
"Kami mengetahui nilai demokrasi sejati. Dan, kami tertarik menyelenggarakan pemilu yang terbuka, jujur, dan transparan. Saya memastikan seperti inilah pemilu akan berlangsung," kata Putin dalam pidato di depan puluhan duta besar di sebuah resepsi di aula Kremlin.
"Kami telah melakukan segala upaya untuk menjauhkan Rusia dari kekacauan di dalam negeri," kata Putin. Ia menegaskan, Rusia tidak akan membiarkan proses demokrasi yang sedang berlangsung tersebut dikoreksi dari luar.
Putin membantah tudingan ia menarik mundur demokrasi di Rusia. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Putin menuding Barat, khususnya Amerika Serikat (AS), berupaya memberlakukan konsep demokrasi ala Barat dan AS ke Rusia. Ia juga menuding musuh Moskwa pada zaman Perang Dingin kini menjadi ancaman keamanan dunia serta kebangkitan kembali Rusia.
Banyak Pelanggaran
Meski dijanjikan berjalan jujur, kalangan oposisi berpendapat kampanye-kampanye pemilu yang dilancarkan Kremlin diwarnai banyak pelanggaran. Para aktivis juga mengatakan, tekanan dilakukan terhadap para calon pemilih sehingga pemilu yang bebas dan adil diyakini tidak akan terwujud.
Sejumlah kelompok pemantau dan pengawas pemilu mengatakan para pejabat pemerintah terus berupaya memastikan perolehan suara besar dan kemenangan telak bakal diraih oleh Partai Rusia Bersatu.
Putin berkali-kali mengatakan kemenangan besar Rusia Bersatu akan memberikan "otoritas moral" kepada dia untuk tetap memegang kuat pemerintahan serta parlemen secara akuntabel, setelah ia tidak lagi menjadi Presiden Rusia pada Mei 2008.
Putin mencalonkan diri sebagai anggota parlemen Rusia dengan menggunakan Partai Rusia Bersatu sebagai kendaraan politiknya. Kemenangan pemilu parlementer diharapkan Putin dapat memberi peluang bagi dia untuk tetap mempertahankan pengaruh di pemerintahan.
Saat berkampanye, Putin beberapa kali melancarkan kecaman terhadap Barat dan AS. Kepada para duta besar, kemarin, Putin mengatakan Rusia tidak akan menolerir campur tangan asing dalam urusan dalam negeri.
Amnesti Internasional menuding, ada sejumlah upaya pemerintah Rusia untuk membatasi kebebasan berserikat, berkumpul, serta mengeluarkan pendapat terhadap para jurnalis, aktivis HAM, dan oposisi dalam beberapa bulan terakhir. Amnesti Internasional berpendapat pengekangan kebebasan semacam itu akan menyulitkan, atau bahkan menyebabkan kemustahilan, bagi warga Rusia dalam mengekspresikan perbedaan pendapat mereka.
Alexander Kynev, dari Foundation on Information Policy, mengatakan sejumlah kandidat anggota parlemen telah ditekan agar membatalkan pencalonan. [AP/E-9]