![]()
AFP/Aamir QURESHI
Presiden Pakistan Pervez Musharraf (kiri) berjalan bersama pemimpin militer baru Jenderal Ashfaq Kiyani (kedua dari kanan) dalam upacara pelepasannya dari militer di Rawalpindi, Rabu (28/11)
[RAWALPINDI] Setelah menanggalkan jabatan militernya, Presiden Pakistan Pervez Musharraf dilantik sebagai presiden sipil hari ini. Kemarin terjadi sebuah pemandangan langka. Rakyat Pakistan terperanjat ketika melihat Musharraf yang dikenal keras dan tegas meneteskan air mata saat melepas jabatannya.
Musharraf menyerahkan jabatan pemimpin militer kepada Jenderal Ashfaq Kiyani.
Pengunduran diri Musharraf dari militer mendapat sambutan baik dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan pemimpin oposisi Benazir Bhutto. Meski demikian, mereka masih menunggu langkah Musharraf selanjutnya, termasuk mencabut status darurat.
Dalam upacara penyerahan jabatan militer itu, Musharraf mengenakan seragam berwarna khaki lengkap dengan medali-medali yang pernah diraihnya. Pada kesempatan itu dia memuji kemajuan militer Pakistan selama ini.
"Setelah memakai seragam selama 46 tahun, saya mengucapkan selamat tinggal kepada militer. Militer adalah hidup saya, kesenangan saya. Saya mencintainya," ujar Musharraf.
Sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu, pria berusia 64 tahun mengusap matanya yang ditutupi kaca mata. Setelah itu dia menyeka hidungnya dengan sapu tangan. Tak lama kemudian terdengar lagu perpisahan Auld Lang Syne di stadion yang terletak di markas militer, Rawalpindi.
Musharraf yang merebut kekuasaan lewat kudeta 1999 memuji militer sebagai penyelamat Pakistan. Dia juga mengungkapkan keyakinannya kalau Jenderal Kiyani akan memimpin tentara dengan baik.
Beberapa kalangan menilai tanpa militer Musharraf akan kesulitan untuk mempertahankan kekuasaannya. Sejak ia memberlakukan status darurat pada 3 November, banyak tekanan terhadap dirinya untuk memulihkan demokrasi di Pakistan.
Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice memuji langkah Musharraf melepas jabatan militernya tetapi menuntutnya mencabut status darurat. "Keputusan itu harus dilanjutkan dengan mengakhiri status darurat sehingga pemilu dapat dilaksanakan dengan jujur dan adil," ujarnya.
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan tindakan Musharraf merupakan bagian dari proses yang sangat penting. Dia juga mendesak Musharraf untuk menjamin pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil.
Di Karachi, Benazir Bhutto mengatakan memang Musharraf telah memenuhi salah satu dari tuntutannya. "Tapi, kami tidak akan terburu-buru untuk menerima dia sebagai presiden sipil," ujar Bhutto. Kelompok oposisi masih menganggap kemenangan Musharraf dalam pemilihan presiden pada 6 Oktober lalu, tidak sah. [AFP/O-1]