[JAKARTA] Pemerintah mengoreksi pertumbuhan ekonomi 2008 sebesar 0,5-1 persen. Asumsi semula, di 2008 ekonomi ditargetkan tumbuh 6,8 persen namun karena ada resiko makro di tahun depan sehingga asumsi pertumbuhan ekonomi 6,4-6,7 persen.
Agar ekonomi tumbuh 6,4-6,7 persen maka harus ada kebijakan yang signifikan dari pemerintah terutama untuk mengurangi dampak kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap industri dan daya beli masyarakat.
"Jadi langkah pemerintah jangan hanya mengamankan anggaran saja tapi juga bagaimana meminimalisir dampak ke industri dan masyarakat," kata ekonom asal Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Fadhil Hassan, kepada SP, Rabu (28/11) .
Ia mengatakan, langkah fiskal perlu diberikan ke industri. Fadhil juga menegaskan agar pemerintah melakukan penghematan anggaran besar-besaran. Menurutnya, rencana pemerintah untuk menaikkan gaji pejabat negara di 2008 sebaiknya ditunda dulu mengingat anggaran tersebut dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi.
"Mengenai sembilan langkah itu, saya rasa sudah cukup dari sisi pengamanan anggaran tapi belum cukup untuk ekonomi secara keseluruhan," kata Fadhil.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di tempat terpisah, Selasa (27/11) malam, mengatakan pihaknya masih tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi 2008 sebesar 6,8 persen masih bisa tercapai walau jika menghitung risiko makro maka pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi sehingga berada di kisaran 6,4-6,7 persen.
"Kalau ditambah dengan resiko makronya, pertumbuhan ekonomi 2008 bisa di atas pertumbuhan ekonomi tahun 2007 yang 6,3 persen itu, tapi mungkin akan ada sedikit risiko dari target 6,8 persen. Jadi, perkiraan kita adalah 6,4 persen-6,7 persen pertumbuhan ekonomi 2008,'' kata Sri Mulyani.
Menurutnya, optimisme pencapaian pertumbuhan ekonomi 6,8 persen disebabkan pemerintah tetap mempertahankan program-program yang mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga memproyeksikan akan ada perubahan asumsi makro lainnya, diantaranya inflasi akan menambah 100 basis poin jadi 1 digit yakni 6 plus minus 1 yang menyebabkan suku bunga naik menjadi 8,5 persen. Sedangkan, nilai tukar rupiah 2008 akan mengalami depresiasi Rp100 dari Rp 9.100 menjadi 9.200.
Dalam kajian pemerintah jika harga minyak masih bertengger di level US$ 100 per barel hingga pertengahan 2008, maka pengeluaran pemerintah mencapai angka fantastis yang belum pernah terjadi selama ini yaitu bisa menembus Rp 1.0006 triliun yang disebabkan peningkatan subsidi energi baik subsidi bahan bakar minyak maupun subsidi listrik. [L-10]