emenangan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu'mang dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi bahan analisis menarik bagi kalangan politisi. Sebab, pasangan tersebut adalah kader Partai Golkar yang tersisih dalam konvensi.
Mereka maju ke pilkada dengan mengendarai Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Damai Sejahtera (PDS) dan mampu menggeser kekuatan pasangan Amin Syam dan Mansyur Ramly yang diusung Partai Golkar dan didukung sejumlah partai lain.
Selama ini Sulsel dikenal sebagai ladang subur berlambang Pohon Beringin yakni Partai Golkar, Amin Syam yang juga Gubernur Sulsel adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai tersebut. Lebih istimewa lagi, daerah ini adalah tanah kelahiran Jusuf Kalla, Wakil Presiden, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai tersebut. Dengan berbagai kelebihan itu, kader Golkar percaya Amin tidak akan kalah.
Kalangan politisi Golkar di Sulsel sama sekali tidak pernah membayangkan partai berlambang beringan itu akan "layu" di ladangnya. Meskipun penghitungan cepat
pilkada sudah dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dengan menunjuk Syahrul sebagai pemenang, namun pusat pengolahan data di Dewan Pimpinan Daerah ( DPD) Partai Golkar, tetap saja mengklaim Amin menang dan terus memberikan "angin surga" buat Amin dengan menyodorkan angka-angka sementara versi rekapitulasi Golkar.
Tak Mau Kalah
Semangat tidak mau kalah itu memang pantas, sebab Amin diusung Partai Golkar dan didukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD). Jika melihat catatan Pemilu Legislatif 2004, Partai Golkar memperoleh suara terbesar di Sulsel 1.644.653 suara (43,8 persen), sedangkan partai pendukung yakni PKS 304.450 suara, Partai Demokrat 99.107, PKPI 57.736 suara, PKB 65.761 suara, PBSD 14.983 suara. Total suara legislatif untuk par-tai pengusung dan pendukung 2.148.526 suara (57,15 persen).
Dengan jumlah suara legislatif itu, Amin diprediksi akan menang. Namun, dalam Pilkada Sulsel 5 November, Amin Syam dan Mansyur Ramly, adik ipar Jusuf Kalla, hanya meraih 1.404.910 suara atau 38,76 persen.
Sedangkan partai pengusung Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu'mang dalam Pemilu Legislatif 2004, yaitu PAN memperoleh 269.044 suara, PDK 275.793 suara, PDI-P
167.550, PDS 71.445 atau total suara legislatif 765.432 (20,42 persen). Dalam Pilkada Sulsel, Syahrul dan Agus memperoleh 1.432.572 suara atau 39,53 persen dari sekitar 3,6 juta suara sah.
Ternyata, prediksi kemenangan Amin meleset, Syahrul (wakil gubernur Sulsel) mampu menggeser perolehan suara Amin Syam (gubernur Sulsel) dengan selisih perolehan suara 27.662 atau sekitar 0,77 persen.
Sedangkan pasangan Azis Qahhar Mudzakkar-Mubyl Handaling diusung oleh Koalisi Keumatan yaitu Partai PPP dan PBB dan koalisi partai Kebangsaan yang terdiri dari Partai Merdeka, PSI, PNBK, PPD, PIB, PPNUI, total suara Pemilu Legislatif 663.008. Dalam Pilkada Sulsel, pasangan tersebut meraih 786.792 suara atau 21,71 persen.
Salah satu yang membuat keunggulan pasangan Syahrul adalah tim mereka sangat cerdas untuk memilih isu kampanye yang menarik perhatian publik. Dalam visinya yang disampaikan ke rakyat, Syahrul berjanji akan menjadikan Sulsel sebagai provinsi sepuluh terbaik dalam pelayanan hak dasar rakyat dan menciptakan pemerintahan yang profesional.
Bagian yang esensial dari hak dasar rakyat adalah pendidikan dan kesehatan gratis, hal itu dijadikan isu sentral kampanye Syahrul dan ia mengklaim diri sebagai pemimpin semua suku, agama dan golongan. Syahrul mendapat simpati yang begitu luas, ia mampu merebut hati rakyat untuk memilihnya secara nurani sebagai sosok tokoh harapan, tanpa melihat partai yang mengusungnya.
Kemenangan Syahrul dapat menjadi barometer tumbuhnya demokrasi rakyat di Sulsel. Sebab, beberapa dekade partai yang sangat berkuasa dengan kaki tangan yang ada di birokrasi mampu menguasai arena politik rakyat. Tapi tidak dalam pilkada saat ini, mereka menanggalkan fanatisme terhadap satu partai dan lebih memilih figur, tanpa melihat kendaraan politik yang ditumpanginya.
Golkar yang sekuat apa pun yang ditopang dengan suprastruktur yang kuat, tidak berdaya dengan kehendak rakyat yang lebih mau mendahulukan kompetensi yang mencakup keahlian dari figur dan isu yang diemban.
Rakyat mau menghadirkan hak mereka yang mendasar dan itu harus dijadikan fenomena oleh kalangan pejabat saat ini. Siapa saja yang mau menyentuh hak mereka, itulah pilihannya. [SP/M Kiblat Said]