
[JAKARTA] Pemerintah harus lebih mencermati pergerakan harga minyak mentah dunia, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi untuk mengamankan APBN 2008 bila harga minyak menembus US$ 100 per barel atau bertahan di atas US$ 90 per barel. Salah mengambil langkah, APBN 2008 akan mengalami defisit hingga Rp 140 triliun.
Anggota Komisi VII DPR, yang membidangi masalah energi, Ramson Siagian menjelaskan, jika pemerintah telanjur menjanjikan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai tahun 2009, maka opsi lain yang mesti dilakukan adalah mengurangi volume konsumsi BBM bersubsidi, menaikkan penerimaan pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan deviden BUMN, serta memangkas belanja lembaga, kementerian, dan belanja lain-lain.
"Untuk APBN 2007, jika harga minyak tetap di atas US$ 90 per barel atau bahkan tembus US$ 100 per barel sampai akhir tahun, masih terkendali meskipun defisit akan meningkat cukup besar. Tetapi, pemerintah harus waspada jika pada 2008 rata-rata harga minyak juga US$ 90 per barel. Sebab, dampaknya akan memicu defisit sampai sekitar Rp 140 triliun, juga akan sangat mengguncang perekonomian nasional, terlebih lagi sektor riil," kata Ramson di Jakarta, Sabtu (10/11).
Ditambahkan, untuk tahun ini langkah yang masih memungkinkan dilakukan untuk menekan defisit, adalah meningkatkan PNBP, deviden BUMN, dan memangkas belanja.
Penerimaan negara dari penjualan minyak, dengan harga minyak hampir menembus US$ 100 per barel, tidak sebanding dengan peningkatan belanja untuk subsidi BBM. Sebab, volume yang ditetapkan dalam APBN 2007 mencapai 36,9 juta kiloliter (kl) atau setara dengan sekitar 700.000 barel minyak mentah per hari.
Sedangkan penerimaan bersih (neto) bagian pemerintah hanya sekitar 50 persen dari total produksi minyak nasional. Tahun 2007 produksi minyak nasional ditargetkan sebesar 950 barel per hari (bph), diturunkan dari target semula 1,05 juta bph.
Sementara itu, harga minyak mentah di pasar New York, Jumat (9/11) atau Sabtu dini hari WIB berada pada posisi US$ 96,32 per barel. Dengan demikian, selama sebulan terakhir, harga rata-rata minyak berada di atas level US$ 90 per barel.
Para analis di New York dan Tokyo memperkirakan, pada pekan mendatang harga minyak berada di kisaran US$ 95 hingga US$ 98 per barel. Jika ada peristiwa yang sangat luar biasa di pusat-pusat produksi minyak, seperti serangan AS terhadap Iran, harga akan menembus US$ 100 per barel.
Produksi Menurun
Secara terpisah, Deputi Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Dodi Hidayat mengungkapkan, produksi minyak Indonesia bukan sepenuhnya milik pemerintah RI, tetapi masih harus dibagi dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mengelola lapangan minyak. Skema bagi hasil sebesar 85 persen untuk pemerintah dan 15 persen untuk KKKS.
Namun, porsi 85:15 itu bukan hasil produksi kotor, tetapi produksi minyak bersih. Artinya nilai produksi masih dikurangi sejumlah pengeluaran seperti biaya eksploitasi, pajak, dan royalti. Sehingga secara neto, bagi hasil bisa menjadi 60:40.
Dodi menjelaskan, sampai Agustus 2007, produksi minyak nasional rata-rata sebesar 955.363 bph, terdiri dari 834.991 bph minyak mentah dan 120.327 bph kondensat. Menurut Dodi, rendahnya produksi minyak 2007 sehingga sulit mencapai target kisaran satu juta bph, karena ada sejumlah kendala di beberapa lapangan minyak.
Misalnya, di Lapangan Belanak di Kepulauan Riau milik ConocoPhillips, yang produksinya menurun hingga 50 persen atau sekitar 10.000-15.000 bph dari target. "Tetapi, Belanak kita harapkan kembali berproduksi normal pada akhir tahun," katanya.
Selain Lapangan Belanak, beberapa lapangan seperti Lapangan Poleng di Madura yang dikelola bersama Pertamina dan Kodeco, juga mengalami gangguan berupa kerusakan pipa, sehingga produksi menurun sekitar 8.000 bph. Beberapa lapangan yang semula diharapkan mulai berproduksi pada 2007, ternyata masih mengalami kendala sehingga walaupun sudah bisa dikembangkan, volume produksinya tidak seperti yang ditargetkan.
Sementara itu, tambahan produksi minyak yang cukup besar, setidaknya mencapai 150.000 bph, yakni dari Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu, Jawa Timur yang dikelola ExxonMobil dan Pertamina, memang ditargetkan baru dapat berproduksi pada 2008. Dalam paparan akhir tahun 2006, Kepala BP Migas Kardaya Warnika mengatakan tambahan produksi minyak tahun 2007 antara lain akan diperoleh dari Lapangan Ujung Pangkah, Lapangan Bakau, Lapangan Seturian, Lapangan Wakamuk, Lapangan Sisi Nubi, serta Lapangan Kaji Semoga Formasi Telisa dan Talang Akar yang ditargetkan mulai berproduksi sebelum akhir 2007. [H-13/CNBC.Com/M-6]