Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia tidak melulu menimbulkan kerugian bagi sektor industri dalam negeri. Kenaikan harga minyak di lain pihak masih dalam posisi seimbang, yakni pemasukan dari harga jual minyak setara dengan pengeluaran untuk membeli minyak jadi.
Mari mengatakan harga produk ekspor berbahan baku minyak otomatis naik mengikuti harga minyak mentah dunia.
Sehingga, kemungkinan besar para pengusaha atau sebagian industri memandang kenaikan minyak dunia sebagai peluang.
"Saat ini belum bisa dipastikan apa dampak terburuk dari kenaikan minyak dunia. Pemerintah masih membahas dalam rapat koordinasi dengan Bappenas. Rencananya kami akan melibatkan para pengusaha, importir untuk membahas antisipasi kenaikan harga minyak, khususnya untuk sektor perdagangan dan industri," papar Mari, baru-baru ini.
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta kepada distributor, pabrikan, dan manufaktur tidak gegabah menaikkan harga produk. Sebab, kenaikan harga produk di tingkat industri bukan menjadi jalan keluar untuk menekan biaya produksi tinggi.
"Apabila industri menaikkan harga justru akan menimbulkan gejolak pasar. Pengusaha diharapkan sabar dengan situasi kenaikan harga minyak mentah dunia," papar Ketua Umum Aprindo Handaka Santosa.
Para pengusaha jangan panik dengan isu kenaikan harga minyak mentah, karena dampaknya akan menekan industri kecil atau pedagang ritel yang masih mengandalkan produk dari distributor.
Dikatakan, sampai saat ini dampak dari tingginya harga minyak mentah dunia belum dirasakan peritel. Distributor dan pabrikan masih menjual produk dengan harga lama.
Sementara itu, untuk industri tekstil nasional kenaikan harga minyak secara langsung membebani biaya produksi industri. Di satu sisi pasar menolak kenaikan harga produk, sementara di sisi lain pengusaha ditekan dengan kenaikan biaya distribusi dan produksi.
"Kalangan pelaku usaha pasti menjerit dengan kenaikan harga minyak dunia itu. Pengaruhnya sangat dilematis bagi pelaku usaha. Bila harga produk naik daya beli menurun, sementara pengeluaran industri terus meningkat," papar Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudradjat.
Khusus untuk industri tekstil, Ade mengatakan harga bahan baku serat poliester akan naik. Bahan baku yang berasal dari AS dan Taiwan itu diproduksi menggunakan minyak mentah, sehingga otomatis harga beli mengikuti kenaikan harga minyak dunia. Apalagi, sampai Maret 2007 industri tekstil masih mengimpor bahan baku sebanyak 270.750 ton.
Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto menilai, tingginya harga minyak mentah dunia dipastikan akan mempengaruhi kenaikan biaya produksi industri sebesar 5-17 persen.
Dikhawatirkan kenaikan harga minyak mentah mempengaruhi daya saing industri. Sebab pelaku usaha dipaksa terus menjaga kualitas dan kuantitas produk dengan biaya produksi semakin tinggi.
Menurutnya, saat ini pelaku usaha tidak bisa terlalu mengandalkan antisipasi dari pemerintah. Karena pada kenyataannya, kebijakan melalui subsidi minyak bagi industri kerap terbentur dengan masalah anggaran. Untuk itu, pelaku usaha memilih menaikkan harga yang disesuaikan dengan kebutuhan bahan baku dan biaya produksi. *