SUARA PEMBARUAN DAILY

Waduk Pacal di Bojonegoro Kritis

[BOJONEGORO] Akibat kemarau panjang di Bojonegoro, lebih dari 2.400 hektare sawah petani terancam kering dan puso. Bahkan, tabungan air yang terdapat di 70 embung di 10 kecamatan dan Waduk Pacal, semakin sedikit dan berada dalam kondisi kritis.

Menurut Koordinator Pengendalian Dana Pengamanan Balai Pengolahan SDA Wilayah Bengawan Solo, Mulyono, Senin (29/10), air waduk sudah tidak bisa dikeluarkan sehingga tidak bisa lagi mengaliri daerah pertanian karena kondisinya kering. Air yang tersisa hanya 25 meter kubik. Padahal, saat hujan waduk itu mampu menampung 21 juta meter kubik air.

"Kondisi ini juga akan berpengaruh pada ketahanan waduk. Sementara untuk pembasahan waduk, air di dalam waduk harus ter- sisa 500 meter kubik agar tidak rusak dan retak," katanya.

Keringnya waduk itu terjadi karena dipaksa mengaliri sawah yang terancam kering dan puso di Kecamatan Sukosewu, Kapas, Balen, Kepungbaru, Burno, dan Sumberjo.

Sementara itu, beberapa desa di Kecamatan Kedung Adem mengalami kekeringan, sehingga warga harus mengantre untuk mendapatkan air bersih. Darno (38), warga Kepoh Kidul, Kedung Adem, mengatakan sedikitnya 5 desa di kecamatan itu mengalami kekeringan.

Untuk mendapatkan air bersih, warga harus menempuh jarak 3-5 kilometer. Bantuan dari Dinas Sosial dinilai masih kurang karena tangki yang berisi 5.000 liter air bersih hanya datang satu kali seminggu dan hanya diberikan kepada desa yang mudah dijangkau mobil tangki.

"Warga sudah mulai mengantre air bersih di rumah warga yang memiliki sumur atau pompa air sejak subuh. Ada warga yang memberikannya secara gratis, ada juga yang menjual dengan harga Rp 1.200 per jeriken," katanya. [ES/A-16]


Last modified: 30/10/07