SUARA PEMBARUAN DAILY

Presiden Yudhoyono "Curhat" di FKPPI

JARANG sebenarnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato di suatu acara atau forum tanpa menggunakan teks. Tahun lalu, berkunjung ke kampung halamannya sendiri, di Pacitan, teks yang disiapkan juga dibacakan walau diselingi pidato tanpa teks.

Demikian juga ketika berpidato di pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI/Polri (FKPPI), Senin (29/10), di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor. Presiden berpidato tanpa teks sekitar satu jam. Boleh dibilang Presiden at home di forum ini, mengingat dirinya juga anggota FKPPI.

Suatu hal yang diakuinya sendiri. "Meski saya tidak pakai jaket FKPPI, saya FKPPI tulen," katanya. Diceritakannya, ayahnya adalah perwira TNI, dirinya juga TNI selama lebih dari 30 tahun. Istrinya, Kristiani Herrawati pun FKPPI sebagai putri Jenderal Sarwo Edi Wibowo (almarhum). Dengan begitu kedua putranya adalah FKPPI juga dan jika sudah dikarunai cucu, cucunya pun FKPPI.

Tidak mengherankan, dalam pidatonya, Presiden Yudhoyono tak segan mengeluarkan banyak unek-uneknya. Curhat Presiden Yudhoyono mulai dari polemik calon presiden (capres) 2009 sampai kepemimpinannya yang dianggap tidak tegas dan tidak berani.

Soal capres misalnya, Presiden mengaku, sehari sebelum hadir di acara FKPPI memperoleh jaket seragam. "Saya coba di depan cermin, rasanya lebih muda lima tahun. Semula akan saya pakai tapi mendekati 2009 ini saya khawatir kalau pakai jaket FKPPI dikira menantang perang," katanya.

Ketika menyebut masa kepemimpinannya tinggal dua tahun dan salah satu peserta pembukaan berteriak, "dua kali, pak", maksudnya maju lagi di Pilpres 2009, Presiden Yudhoyono meminta FKPPI tidak berbicara dukungan. "Saya bebaskan saudara-saudara untuk menyatakan pilihan, silakan saja," kata Presiden.

Maksudnya, FKPPI tidak perlu terikat untuk mendukung satu kandidat atau satu parpol tertentu. Terasa benar Presiden Yudhoyono menolak membicarakan Pilpres 2009 secara langsung. "Ini negara demokrasi, yang penting bagi FKPPI adalah bantu rakyat di daerah, terutama di daerah bencana, tetapi benderanya cukup satu saja, jangan banyak-banyak," katanya menyindir banyaknya organisasi masyarakat atau partai politik yang membantu korban, namun bendera organisasi tersebut melebihi bantuannya.

Tentang kepemimpinannya, Presiden Yudhoyono juga mengakui mitos ketika dirinya menjadi presiden, bencana datang silih berganti. Bahkan seperti musim bencana. "Sampai ada orang bilang, ini tabrakan gara-gara SBY jadi presiden, gunung meletus gara-gara SBY jadi presiden," katanya.

Padahal, kata Presiden, Gunung Kelud misalnya, memang siklusnya jatuh pada saat ini sehingga dia sama sekali tidak mempercayai mitos tersebut.

Diceritakannya juga soal kunjungan kerja ke Kediri, Jawa Timur, dengan agenda bertemu pengungsi Gunung Kelud. Ribuan pesan singkat (SMS) dan telepon diterimanya agar tidak datang ke Kediri. Mitos yang beredar menyebutkan, Presiden Indonesia yang berkunjung ke Kediri, dipastikan akan jatuh. Seperti Presiden Soekarno, BJ Habibie, dan KH Abdurrahman Wahid. Dalam catatan SP, masyarakat mempercayai hal itu. Tidak mengherankan Presiden Soeharto tidak pernah berkunjung ke Kediri selama 32 tahun kekuasaannya.

Namun Presiden Yudhoyono menyatakan tidak mempercayainya. Sebagai orang Jawa dan beragama Islam, katanya, dirinya salat terlebih dahulu, yang diyakininya sebagai penolak mitos. "Tidak mungkin saya berhipotesa tentang kekuasaan sementara rakyat saya di Blitar dan Kediri mengalami ancaman letusan Gunung Kelud," kata dia.

Lebih dari itu, Presiden Yudhoyono menyadari tidak adanya kepemimpinan yang langgeng dalam kekuasaan. Dalam menjalankan pemerintahan, Presiden Yudhoyono menyatakan berpegang pada sikap yang rasional. Begitu juga ketika dikritik, bahkan caci maki yang tidak rasional, Presiden menyatakan tidak emosional menanggapinya.

Termasuk anggapan dirinya tidak berani menghadapi konflik dengan negara lain soal kedaulatan dan keutuhan NKRI. "Saya jenderal, 30 tahun mengabdi di TNI, tidak mungkin mengingkari sumpah saya kepada UUD 45, tidak mungkin kita lepaskan sejengkal pun tanah kita, kedaulatan kita," katanya.

Presiden Yudhoyono pun mengaku sedih dengan tudingan tidak berani berperang untuk urusan kedaulatan. Menurut Presiden Yudhoyono, darah yang mengalir di dirinya adalah darah pejuang. Karena itu tidak perlu diragukan nasionalisme dan patriotismenya. Perang adalah jalan terakhir jika segala jalan lain sudah buntu.

Diingatkannya, sebagai pejuang, harus selalu ada semangat membangun, membawa negeri ini ke arah lebih baik dan meraih keadilan dan kemakmuran serta menang dalam persaingan global. Begitu juga FKPPI, kata Presiden Yudhoyono, harus banyak bekerja. Bukan no action talk only tetapi action first talk later.

[SP/YW Nugroho]


Last modified: 30/10/07