SUARA PEMBARUAN DAILY

Hidupkan Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah

Dok SP - HAR Tilaar

Terpecahnya cermin keindonesiaan, juga diperparah dengan sistem pendidikan nasional yang hanya mengedepankan pendidikan pragmatis di sekolah, sehingga mudah tergerus oleh arus globalisasi dan komersialisasi pendidikan. Gagalnya sistem pendidikan nasional melahirkan pemimpin, negarawan serta tokoh teladan di tengah masyarakat juga mengharuskan perlunya upaya pengembangan kepribadian dalam pendidikan nasional.

Demikian benang merah yang mengemuka dalam seminar nasional bertajuk Transdisciplinarity dalam Dunia Pendidikan; Meretas Cermin Keindonesiaan melalui 'Transdisciplinarity' Ilmu Pengetahuan" di Universitas Negeri Jakarta, Senin (29/10).

Sejumlah tokoh seperti Prof Dr Conny Semiawan, Dr Mudji Sutrisno, Dr Cut Kamaril Wardani, Prof Dr Toety Heraty Noerhadi, Prof Dr HAR Tilaar, Prof Dr Anis Baswedan, dan Prof Dr Imam Prasodjo, tampil berbicara dalam seminar ini.

Mereka mencermati pula, saat ini sangat terasa pendidikan nasional semakin menjauhkan nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti luhur yang membuat pendidikan semakin terjebak dalam lingkaran krisis multidimensional bangsa ini. Karena itu, pendidikan budi pekerti harus dihidupkan kembali di sekolah.

Ketua Majelis Luhur Taman Siswa, Ki Tyasno Sudarto menandaskan menjaga keharmonisan tiga pilar pusat pendidikan, proses pendidikan bisa melahirkan suatu pengembangan kepribadian yang tidak mudah goyah oleh nilai-nilai negatif dampak globalisasi. Sistem pendidikan nasional sebaiknya tidak hanya mengatur pendidikan di sekolah, tetapi juga mengatur keharmonisan tiga pilar besar pendidikan, yaitu pola sistem pengasuhan pada peserta didik, penekanan sistem keteladanan oleh pendidik dan tenaga pendidik, serta proses pendidikan pada keluarga dan masyarakat.

Semua Komponen

Sedangkan Prof Dr HAR Tilaar menegaskan mencermati fenomena bangsa yang sedang dilanda krisis dan mulai menghirup udara demokrasi, reformasi di bidang pendidikan harus melibatkan semua komponen pendukungnya baik siswa, guru, sekolah, maupun manajemen pengelolanya. Sebab itu siswa, guru, sekolah, birokrat, orangtua, dan seluruh lapisan masyarakat harus bahu membahu bekerja keras untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan, sehingga menghasilkan SDM yang berpengetahuan, terampil, sehat jasmani dan rohani, kreatif, inovatif, dan berbudi pekerti. Untuk itu lembaga pendidikan menempati posisi strategis, sebab baik buruknya bangsa ini tercermin dari hasil pendidikan sebelumnya.

"Kiranya sangat tepat dan ideal bila mulai sekarang dimasukkan mata pelajaran budi pekerti yang bertujuan untuk menciptakan moral pelajar yang lebih baik. Mengenai pelajaran budi pekerti ini, dulu pernah ada, dan masih membekas dalam diri pelajar yang pernah mengalaminya.

Sedangkan Sosiolog UI, Imam Prasodjo menegaskan saat ini yang perlu dipikirkan bersama adalah mekanisme kontrol bagaimana yang efektif untuk diterapkan pada saat ini. Maraknya tawuran pelajar yang brutal, keras dan anarkis tak luput dari lepasnya fungsi kontrol sekolah terhadap budi pekerti siswanya.

Dikatakan, pentingnya pendidikan budi pekerti terhadap anak didik kita juga didasarkan pada pentingnya iman, akhlak dan moral. ''Hal ini penting sekali dalam kehidupan anak-anak didik kita terutama yang berkaitan dengan agama, setiap agama pasti mendidik agar anak-anak kita selalu bermoral baik dalam segala hal,'' ujarnya. [E-5]


Last modified: 29/10/07