SUARA PEMBARUAN DAILY

Mantan Presiden Harus Bayar US$ 80 Juta

apJoseph Estrada

Mantan Presiden Filipina Joseph Estrada, Jumat (26/10), dibebaskan dari hukuman seumur hidup atas tuduhan menerima suap, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta menyalahgunakan kekuasaan. Pada September 2007, Estrada pernah meminta penyegelan dana sebesar US$ 87 juta dari cukai tembakau, lotere gelap, dan komisi hasil insider trading.

Estrada yang menang Pemilu 1998 dengan suara mayoritas, ditahan sejak 25 April 2001, setelah diberhentikan sebagai presiden pada Januari 2001. Dia dipenjarakan di rumah tinggal khusus setelah beberapa bulan ditahan di Veteran's Memorial Medical Center, dan kemudian di vilanya selama beberapa tahun.

Estrada kembali hidup bebas namun pengadilan tetap menagih dana sebesar US$ 80 juta yang diduga diambilnya dari bisnis properti serta menahan rekening banknya sebesar US$ 15,5 juta. Pembayaran dana US$ 80 juta adalah sebagai jaminan dan salah satu syarat pembebasannya.

Dia berjanji tidak akan kembali berpolitik, namun putranya Senator Jinggoy Estrada diharapkan menjadi penggantinya sebagai politisi. Estrada menolak tuduhan menerima suap dari Gubernur Luis Singson sebesar US$ 8-12 juta. Dia menghadapi pemakzulan pada 4 Desember 2000, setelah pleno parlemen yang dipimpin Manuel Villar menetapkan mosi tidak percaya pada akhir November 2000.

Estrada yang akrab dipanggil Erap (sahabat) menolak tinggal di pengasingan, seperti yang dilakukan Benazir Bhutto atau Nawaz Sharif setelah disingkirkan sebagai Perdana Menteri Pakistan. Menurut kesaksian enam teman wanitanya, Estrada pernah mengatakan, "Kalau saya pergi berarti saya takut menghadapi dakwaan. Karena itu, saya tetap tinggal di Filipina!"

Media Filipina dan Barat menjuluki pria itu sebagai peminum, pemain perempuan, berkroni, dan senang berfoya-foya, ibarat selebriti. Pada masa menjadi wakil presiden era pemerintahan Presiden Fidel Ramos, Estrada enggan ikut rapat, jarang bicara, dan lebih cepat meninggalkan ruang sidang.

Mantan bintang film itu juga dikenal sebagai pembela kaum miskin dan memiliki konstituen dari rakyat jelata yang selalu menyanjungnya. Ketika mantan Presiden Corazon Aquino mengerahkan 80.000 demonstran untuk menantangnya pada 2000, Erap justru mengerahkan 1 juta orang untuk menandingi demonstrasi Aquino.

Pandai Retorika

Tuduhan kalau Estrada bersalah lebih kuat sehingga ia harus ditahan sekitar 6,5 tahun. Presiden Estrada pandai beretorika yang memukau rakyatnya, meski kemudian tindakannya berbeda dengan apa yang dikatakannya.

Pada pidato pelantikannya 30 Juni 1998 Estrada mengatakan, "Tidak akan ada keluarga, sahabat, dan kroni dalam kepresidenan saya!" Lalu pada 1 Juli 1999, dia menebar pesona dengan menyatakan akan menolak suap dan korupsi. "Kita segera memasuki cahaya kejujuran pemerintahan di seluruh negeri. Ini impianku untuk meniadakan korupsi pemerintahan sebelum jabatan saya berakhir," tuturnya.

Retorika kembali diucapkan Estrada pada 29 Oktober 1999. Kutipan surat terbukanya pada 12 Juni 2000 menyebutkan, "Kronisme telah mati dalam arloji saya". Padahal, ketika itu dia dituduh memberikan peluang bisnis kepada kroni Marcos dan rekan dekatnya Conjuangco, raja bir San Miguel.

Estrada memang seorang aktor. Ketika popularitasnya menurun dan isu suap mulai menggema di seluruh Filipina, kaum pekerja serabutan yang memilihnya justru mulai mengecam. "Dia seorang aktor. Padahal yang kita butuh seorang presiden," ujar mereka. Profesor Walden Belo, ahli ilmu sosial terkemuka Filipina mengatakan, "Memilih Estrada adalah suatu kesalahan besar kita karena dia penghambat terbesar demokrasi di Filipina."

Estrada adalah contoh "hitam putih" seorang manusia. Sebagai aktor dia memukau kaum miskin dan banyak penggemar. Dia juga menorehkan noda hitam dalam politik Filipina modern.

Kardinal Jaime Sin dan para elite bisnis Filipina disebut-sebut berada di balik pencopotannya. Hanya ibunya, Mary Erjecito, yang membela pria bernama asli Jose Marcelo Erjecito. Joseph Estrada adalah nama panggungnya. "Angin kencang menerpa dan orang sudah tidak menyukaimu!" Erjecito mengingatkan anaknya.

Keputusan Presiden Gloria Macapagal Arroyo membuat Estrada lega dan bebas, meski banyak pihak, termasuk mantan Presiden Fidel Ramos dan jaksa penuntut Dennnis Villa-Ignazio, menolak pembebasan itu. Menurut mereka, keputusan Arroyo itu telah menyinggung keadilan mayoritas rakyat.

Dalam sejarah Asia, setidaknya ada empat pemimpin dunia yang diampuni atas tuduhan korupsi dan menyelewengkan kekuasaan. Mereka adalah PM Benazir Bhutto, Presiden Joseph Estrada, Presiden Chun Do-hwan, dan Roh Taewoo. Tapi, mereka diadili dulu sebelum diberi pengampunan. Pengampunan serupa pernah diusulkan bagi mantan Presiden Indonesia, HM Soeharto. [Aco Manafe]


Last modified: 30/10/07