
sp/alex suban
Vokalis grup musik jazz Shakatak, Jill Saward, membawakan sejumlah tembang dalam festival jazz internasional "Jack Jazz 06" di Istora Senayan, Jakarta, Senin (27/11/2006).
angan main-main kala menulis tentang musik jazz. Selain materinya yang 'berat', genre musik ini juga hanya digemari segmen masyarakat tertentu, terutama dari kelas menengah atas.
Itulah opini sebagian besar jurnalis dan penikmat musik yang ingin mencoba mencermati sekaligus mengapresiasi musik jazz. Kesan rumit, berat dan tersegmentasi membuat musik jazz sedikit dianaktirikan oleh masyarakat, termasuk para jurnalis sendiri.
Untuk mengatasi hal itu dan memberikan penjelasan mengenai jazz, Dji Sam Soe Premium sebagai sponsor dua festival jazz tahunan di Indonesia berinisiatif membuat sebuah workshop atau lokakarya mengenai jazz, Senin (29/10) di kafe Black Cat, Jakarta. Acara tersebut diadakan sebagai pemanasan menjelang gelaran rutin Jak Jazz yang bakal digelar 24-26 November mendatang.
Empat orang pembicara dihadirkan untuk memberi penjelasan dan pemahaman mengenai jazz. Maklum saja, seperti disebutkan tadi, tak sedikit orang yang memandang jazz sebagai musik khusus yang hanya disukai kalangan khusus pula. Padahal, nyatanya tak serumit itu.
Franki Raden, Ethnomusikolog dan Associate Professor di York University Toronto, Kanada, banyak memberikan informasi seputar sejarah dan informasi mengenai dunia musik jazz di luar negeri. Dari pengamatannya, di luar negeri, musik jazz tidak mati. Justru, musik tersebut tengah berkembang dengan pesat.
"Di Kanada saja, nyaris tiap kecamatannya punya festival jazz. Tahun 2005, Luluk Purwanto pernah tur keliling ke 75 festival di seluruh Kanada dengan busnya yang khas itu," tutur musisi senior ini.
Dalam berbagai festival tadi, jazz disajikan dengan kemasan santai, yang bisa dinikmati segala lapisan masyarakat. Sehingga, Franki berpendapat, dengan perkembangannya yang pesat, jazz memiliki peluang yang besar untuk menjadi musik mainstream di dunia.
"Apalagi, penggemar musik jazz itu sangat setia. Jika mereka suka jazz, sampai mati pun mereka akan menyukainya. Berbeda dengan penggemar musik pop atau rock yang bisa merasa jenuh," lanjutnya.
Perkembangan musik jazz juga dilihatnya terjadi di Indonesia. Buktinya, terdapat beberapa festival jazz yang digelar rutin tiap tahunnya. Selain itu, musisi jazz juga mulai merambah ke berbagai lokasi, dari kampus, mal hingga acara pernikahan.
Dikenal
"Bahkan, 4 November mendatang, Djaduk (Ferianto) bakal menggelar sebuah festival jazz di padepokannya di Yogyakarta sana. Jadi, jazz tak lagi menjadi monopoli masyarakat kota saja. Ia bertujuan agar jazz juga dikenal oleh segala lapisan masyarakat," jelas Franki.
Tingginya animo masyarakat akan musik jazz juga disampaikan oleh Dwiki Dharmawan. Pentolan grup musik Krakatau ini sudah kenyang dengan asam garam dunia musik jazz, terutama di panggung internasional. Dwiki dan Krakatau sudah tampil di berbagai panggung di berbagai negara dunia. Dan selalu mendapatkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat setempat, tanpa peduli perbedaan ras, warna kulit, bahasa, ataupun agama masing-masing.
Jika melihat ke belakang, musik jazz sebenarnya bukanlah genre musik elit seperti yang dideskripsikan oleh masyarakat Indonesia. Jazz justru lahir dari masyarakat Afrika yang memiliki status ekonomi menengah bawah.
"Mungkin karena jazz masuk dari pemerintah kolonial masa penjajahan dulu, akhirnya jazz dilihat sebagai musik elit yang hanya bisa dinikmati kalangan atas," tutur Frans Sartono, wartawan Kompas, yang juga menjadi salah satu pembicara.
Adalah improvisasi yang menjadi ciri khas jazz kala berada di atas pentas. Menurut Dwiki, inilah nilai lebih musik yang digelutinya itu. Jazz adalah genre musik yang paling terbuka terhadap segala bentuk improvisasi kala dipentaskan di atas panggung. Berbeda dengan musik pop atau rock misalnya, yang jika banyak mendapatkan improvisasi di atas pentas hingga lagunya berbeda dengan yang di kaset atau CD, akan menuai protes dari penonton.
"Musik jazz membebaskan kami untuk membuat komposisi di atas komposisi. Tadi, saya menggubah Paris Berantai seperti itu. Mungkin di tangan Riza Arshad atau lainnya, hasil akan berbeda lagi. Penonton musik jazz juga selalu menunggu kejutan tiap tampil. Miles Davis misalnya, 1.000 kali membawakan satu lagu di atas pentas, ia akan menampilkannya dengan 1.000 cara yang berbeda. Improvisasi adalah kuncinya. Beda dengan penonton musik lain yang justru protes kalau musik dibawakan berbeda dari yang ada di album," jelas Dwiki.
Baik Franki, Dwiki, Frans maupun Kushindarto, sama-sama berpendapat, jazz bukanlah jenis musik yang sangat sakral, sehingga harus dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dengan jenis musik lain. Hakikatnya, jazz tak beda dengan pop, rock, atau disko sekalipun. Faktor industri sajalah yang membuatnya terkesan eksklusif, bukan produk massal seperti pop atau rock. [D-10]