
Kalau ditanya siapa pria yang beruntung selama menjalani studi, maka jawabannya adalah Prof Adrianus Mooy. Pria kelahiran Pulau Rote, NTT, 10 April 1936 itu, selama menjalani studi sejak sekolah rakyat hingga program doktor di University of Wisconsin, Amerika Serikat, mengaku selalu beruntung karena mendapat kemudahan dalam proses belajarnya.
easiswa di mata anak mantan guru ini, merupakan fasilitas yang mendorong orang untuk maju. Bagi mantan Gubernur Bank Indonesia ini, beasiswa merupakan sebuah fasilitas yang komprehensif antara uang dan sekolah secara fisik. Fasilitas itu, ia menambahkan, bisa tersedia karena sekolah secara fisik mendekat kepada kita, atau bisa secara fisik jauh tapi bisa dijangkau karena disediakan dalam bentuk uang.
Ketika Adrianus kecil menyelesaikan sekolah rakyat (sekarang sekolah dasar, Red) tiga tahun, ia tidak serta-merta mendapatkan uang sebagai beasiswa. Ia ternyata mendapatkan kesempatan untuk meneruskan sekolah ke tingkat lebih lanjut, karena sejarak 20 kilometer dari kampungnya di tahun 1944 oleh Jepang didirikan kelas IV sekolah rakyat.
Tekad mantan Dubes RI untuk Uni Eropa ini sudah bulat untuk menimba ilmu di sekolah tersebut, meski harus tinggal dengan keluarga lain dan hanya pulang kampung pada hari Sabtu selepas sekolah. Hal itu diakuinya sebagai suatu beasiswa yang diperolehnya, karena fasilitas yang mendekatkan diri kepadanya. Sampai kelas lima, Jepang kalah perang, dan di Kota Ba'a, Pulau Rote yang jauhnya 35 km dari kampungnya itu didirikan ALS (Algemeene Laagere School) yang berbahasa Belanda.
Adrianus yang kala itu baru menyelesaikan kelas lima, harus turun kelas menjadi kelas tiga. Namun, karena dinilai mampu, kemudian melompat ke kelas 5. Belum duduk di kelas enam, melihat kesempatan dibukanya SMP di Kupang pada tahun 1948, yang waktu itu dinamakan SM/MS (Sekolah Menengah/Middelbaare School), ia pun meminta ikut ujian, dan lulus.
Kesempatan-kesempatan yang diperolehnya itu merupakan kesaksian hidupnya atas berkat Tuhan yang diberikan kepadanya. Jadi setiap berkat yang diterima menurut ayah dari tiga anak itu harus dikembalikan dengan memberikan yang terbaik. "Give your best and another window of opportunity will open up for you!"
Beruntung
Kesempatan melanjutkan studi terbuka lagi baginya karena di Kota Kupang pada tahun 1951 juga dibuka SMA C. "Saya anggap setiap kesempatan yang saya peroleh ini sebagai suatu fasilitas yang mirip seperti mendapatkan beasiswa. Cuma, sekolahnya yang datang. Jadi, saya tidak diberi uang untuk sekolah jauh-jauh, akan tetapi sekolahnya yang datang," ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu.
Ketika duduk di bangku SMA itulah Adrianus remaja mulai berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa UGM yang mengajar di sekolah tempat ia belajar, melalui program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM). Di antara mahasiswa yang menjadi pengajar tersebut terdapat mantan Rektor UGM, almarhum Prof Koesnadi Hadjasoemantri sebagai gurunya.
Selepas SMA, mantan Wakil Sekjen PBB untuk Asia dan Pasifik itu, yang merupakan siswa lulusan terbaik, mendapat kesempatan untuk kuliah di tanah Jawa. Adrianus memilih UGM antara lain karena telah menjalin hubungan dengan mahasiswa UGM yang mengajarnya di SMA.
Tiba di tanah Jawa, ia pun sibuk mengurus beasiswa dan mulai kuliah dengan tinggal di pemondokan, dan kemudian tinggal di asrama UGM Notoprajan. Semuanya berjalan mulus. Ia lulus BSc tepat waktu, tahun 1958, di Fakultas Ekonomi jurusan Ekonomi Perusahaan.
Kesempatan mendapatkan beasiswa datang menghampirinya lagi. Tahun 1958, Ford Foundation menawarkan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa UGM untuk melanjutkan studi S2 di University of Wisconsin Amerika Serikat. Setahun sebelumnya mahasiswa UI juga ditawari beasiswa untuk melanjutkan studi di University of California, Berkeley.
Adrianus Mooy memang selalu beruntung. Beasiswa yang ditawarkan untuk program S2 itu diraihnya, meski waktu itu baru meraih gelar sarjana muda. Karena Fakultas Ekonomi tempatnya kuliah sudah menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan di Amerika Serikat, yaitu dengan sistem satuan kredit semester, ia pun mulus mengikuti ujian bersama mahasiswa yang telah lulus S1 untuk mendapatkan kesempatan belajar di universitas tersebut pada tahun 1959.
Kerja sama terjalin antara University of Wisconsin dan UGM. UGM mengirimkan mahasiswanya belajar di universitas tersebut, dan University of Wisconsin mengirimkan profesornya untuk mengajar di UGM. Dengan demikian, mahasiswa yang tidak mendapat kesempatan belajar ke Amerika Serikat, dapat juga mengikuti pendidikan dengan disiplin yang sama.
Beri yang Terbaik
Keberuntungan kembali diraih Adrianus, untuk belajar di negara adikuasa itu. Berbekal beasiswa sekitar 260 dolar AS serta tunjangan pakaian dingin dan tunjangan bepergian musim panas, ia pun giat belajar dan selalu memberikan yang terbaik.
Kesempatan emas lainnya pun menghampirinya. Ia ditawari profesor yang mengajarnya untuk sekaligus mengambil program studi untuk meraih gelar master of science dan doktor di bidang ekonomi (PhD) secara paralel selama dua tahun belajar, walau beban kuliahnya berat. Pada 1961 ia berhasil untuk mengikuti tes Preliminary Examination dan lulus.
Peluang emas itu pun dilakoni tentu saja dengan sangat ketat dan berdisiplin tinggi. Sekali lagi, keyakinan atas peluang-peluang yang diraih berkat giving your best pun dinikmati. Gelar MSc di bidang ekonomi/keuangan diraihnya dalam waktu 12 bulan dan gelar PhD di bidang ekonomi/ekonometri diraihnya pada Agustus 1965.
Seusai studi, tak ada hambatan bagi Adrianus untuk mendapatkan pekerjaan. Ford Foundation yang memberikan beasiswa meneleponnya untuk bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (Leknas) di Jakarta, yang merupakan bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selain itu, ia juga mengajar di UGM, Yogyakarta. Akan tetapi, karena menetap di Jakarta, maka pria yang sempat merindukan dirinya menjadi seorang insinyur atau pilot itu pun diminta mengajar di UI. Adrianus melakoninya dari tahun 1966 hingga 1993.
Ditanya keuntungan menjadi mahasiswa penerima beasiswa, senior advisor/mentor Universitas Pelita Harapan ini mengakui bahwa beasiswa mempengaruhi etos belajar seorang mahasiswa. Beasiswa menurutnya juga bukan merupakan sebuah hadiah, sehingga perlu ada yang memonitor.
Lalu, siapa sajakah yang layak mendapat beasiswa? Adrianus mengusulkan, sebaiknya ada semacam performance evaluation bagi penerima beasiswa. Juga perlu diperhatikan kondisi ekonomi penerima beasiswa.
"Bagi yang kondisi ekonominya lemah tetapi performance-nya tinggi, seharusnya diberikan fasilitas ekstra dibanding dengan yang berasal dari keluarga yang ekonominya baik. Terutama perlu diperhatikan calon mahasiswa dari kawasan Indonesia bagian timur yang segi kualitasnya bagus," ia menegaskan.
Jadi, apa pun pilihannya, terpenting menurut Adrianus Mooy adalah give your best! [Farida Denura]