SUARA PEMBARUAN DAILY

Harga Baja Tidak Naik sampai 2008

[JAKARTA] Industri baja nasional tidak akan menaikkan harga jual baja sampai pada tahun 2008. Harga jual baja lembaran panas (Hot Strip Mill/HSM) masih berada diatas kisaran harga US$ 400 sampai US$ 700 per tonnya. Dipastikan kenaikan harga minyak mentah dunia serta rencana kenaikan harga gas alam oleh PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) tidak akan memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan industri baja.

Demikian dipaparkan Drektur Utama PT Karakatau Steel (PT KS) Daenulhay dan Direktur Keuangan sekaligus Direktur Pemasaran PT KS Fazwar Bujang, kepada SP, pada tinjauan lapangan pabrik PT KS, di Cilegon, Jawa Barat, Senin (29/10).

Bahan baku utama yang digunakan industri baja sampai saat ini masih mengandalkan bijih besi dan gas. Dikatakan Daenulhay, selama ini PT KS mengandalkan gas dari PT Pertamina. Sayangnya PT Pertamina tidak bisa memenuhi kenutuhan gas PT KS. Untuk itu PT KS melakukan kontrak dengan PT PGN sampai tahun 2013 mendatang.

"Dengan Pertamina kami PT KS melakukan long trem supplay agreement sampai 2011, sementara dengan PT PGN sampai 2013. Jadi, dalam jangka waktu pendek industri baja tidak akan kesulitan dengan bahan baku gas dan harga baja," papar Daenulhay.

Terkait dengan kenaikan harga gas alam sekitar 50 persen, Fazwar Bujang menegaskan PT KS tidak akan mengalami lonjakan harga mendadak.

Kenaikan harga gas sudah terencana dari PT PGN dan Pertamina. PT KS mendapatkan kenaikan dua persen harga gas per tahun dari PT Pertamina, sementara PT PGN sebesar tiga persen per tahun.

PT KS membutuhkan bahan baku gas sebesar 80 MMCFD (juta kaki kubik per hari). Kemungkinan masalah bahan baku gas akan timbul setelah masa kontrak dengan PT PGN berakhir. Untuk itu, PT KS meyiapkan antisipasi melalu konversi bahan bakar gas dengan batu bara. Dari segi efisiensi harga, pemakaian batu bara jauh lebih murah dibandingkan gas dan bahan bakar minyak (BBM).

Sementara itu khusus untuk bahan baku bijih besi, kebanyakan masih diimpor dari Brazil. Rencananya tahun 2008 mendatang impor bijih besi mulai dikurangi. Sebab, PT KS memutuskan untuk menggunakan bijih besi lokal dari Kalimantan Selatan.

"Pada 2008 mendatang pabrik rotary filled di Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai dibangun. Industri baja akan memaksimalkan pemakaian bijih besi lokal, sehingga biaya distribusi impor bisa dihemat," ujar Fazwar.

Biaya Transportasi

Direktur SDM dan Umum PT KS Syahrir Syah Pohan, mengatakan dampak terbesar yang akan dirasakan oleh industri baja terkait dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yakni biaya transportasi. Ongkos pengiriman bijih besi dari Amerika Selatan meningkat sampai 54 persen per tonnya, atau tiga kali lebih besar dari tahun lalu. Diharapkan dengan pembagunan rotary filled di Kalsel, biaya transportasi bisa lebih murah.

"Dari segi jarak Kalsel lebih dekat dengan Cilegon daripada dari Amerika Selatan. Apabila nantinya Kalsel tidak bisa memenuhi kebutuhan bijih besi industri baja, maka industri akan mengimpor bijih besi dari Australia," papar Pohan.

Konsumsi baja per orang sebesar 30 kilogram per kapita, dengan catatan demand nasional (60 juta) dibagi dengan jumlah masyarakat (220 juta). Sementara itu dari segi produksi baja per tahunnya, Indonesia masih jauh berada di belakang Tiongkok dan Vitenam. Produksi baja nasional diperkirakan sebesar empat juta ton per tahun. [EAS/M-6]


Last modified: 30/10/07