SUARA PEMBARUAN DAILY

SUARA PEMBACA

Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku

Kecewa dengan Shell

Saya menggunakan bahan bakar Shell hampir 3 bulan, dengan harapan bisa puas dengan pelayanannya, juga kualitas bahan bakar yang teruji serta meteran yang akurat. Jika sebelumnya saya menggunakan bahan bakar Pertamina saya kecewa dengan meteran yang berubah-berubah serta pelayanan yang kurang memuaskan. Ternyata dengan Shell akhirnya sama saja. Entah ini karena "oknum" pelayan Shell atau meteran yang tidak akurat.

Tangal 29 Oktober 2007 pukul 7:34, No prin 1348, saya mengisi bahan bakar di Shell Daan Mogot 147, Pump No 05. Saya menggunakan Motor Yamaha Scorpio, saya tinggal di Pdk Ungu Bekasi, dan berkerja di Tangerang. Ada 3 Shell yang saya lewati dalam perjalanan. Shell Jl Raya Bekasi (Cakung), Shell Kyai Tapa (Roxy ) dan Shell Daan Mogot 147.

Biasanya saya mengisi di Shell Cakung, tapi karena indikator meteran tangki motor masih menunjukkan di 'F' alias Full, saya memutuskan untuk mengisi di Shell berikutnya. Tapi apa yang terjadi. Jika Selama ini saya mengisi di Shell Cakung atau Shell Kyai Tapa, Full tangki rata-rata Rp30.000 - Rp 35.000 dengan indikator meteran tangki kira-kira di titik merah atau di huruf E, tapi kali ini saya harus membayar Rp 37.000, padahal indikator meteran tangki di tengah-tengah, yaitu di antara huruf F dan E. Saya kaget, karena saya menyiapkan uang kira-kira Rp 25.000, karena taksiran saya hanya sebesar itu, ternyata Rp 37.000. Saya Kecewa. Bukan karena uang tapi kepercayaan saya terhadap Shell. Entah karena meteran Shell atau oknum pelayan Shell yang "lihai" (pada saat meteran akan berjalan, saya sedang mengambil dompet).

Mungkin saya harus kembali mengisi bahan bakar di Pertamina dengan Pertamax seperti dulu? Walaupun SPBU Pertamina "kadang" curang di meteran, juga pelayanannya kurang memuaskan. Saya mengingatkan masyarakat agar tetap lebih teliti.

Ivan

Yamaha Scorpio Club Bekasi,119 Jl Arrahmah Pondok Ungu Bekasi

Kepemimpinan Yudhoyono di Mata AS

Di saat beberapa survei mengindikasikan penurunan citra Susilo Bambang Yudhoyono di mata publik, Presiden justru menerima US ASEAN Leadership Award dari US ASEAN Business Council (25/10). Penghargaan yang diserahkan pada acara Gala Dinner dengan pengusaha AS di Jakarta ini didasarkan pada keberhasilannya dalam membangun Indonesia. Menurut Presiden US ASEAN Business Council, Matthew Daley, meskipun Indonesia dilanda berbagai krisis, Presiden Yudhoyono dinilai berhasil mengembangkan Indonesia baik secara internal (nasional) maupun kerja sama antarnegara di segala bidang.

Tampaknya Yudhoyono menyadari betul bahwa sukses gagalnya sebuah pemerintahan tidak ditentukan oleh dirinya. Wajar apabila Presiden menganggap penghargaan tersebut untuk seluruh bangsa Indonesia. Menurutnya, mengubah sebuah negara bukanlah pekerjaan satu orang saja, namun membutuhkan kerjasama seluruh komponen bangsa sebagai satu kesatuan.

Penghargaan tersebut memiliki dua makna. Satu sisi sangat menguntungkan Indonesia karena bisa menjadi ajang promosi kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara di Asia Pasifik. Di sisi lain, penghargaan tersebut menjadi beban sekaligus tanggung jawab bagi pemerintah dan seluruh warga untuk bersama-sama bergiat memajukan Indonesia.

Kebersamaan ini menjadi penting di tengah menguatnya egoisme dan individualisme akibat hasrat kekuasaan politik yang menggejala akhir-akhir ini. Masing-masing merasa paling benar dan menyalahkan yang lain. Nafsu kekuasaan telah mencerai-beraikan agenda bersama untuk membangun negeri ini. Dengan kata lain, hasrat kekuasaan telah menyebabkan masyarakat terkorbankan. Apabila gejala ini dibiarkan akan muncul apatisme politik dari masyarakat yang menjadi sumbu bagi anarkisme.

Karena itu, kebersamaan harus menjadi landasan utama bagi seluruh gerak negeri ini, tak terkecuali politik kekuasaan. Politik kekuasaan harus dijadikan sekadar suplemen bagi kepentingan rakyat, bukan tujuan utama untuk memenuhi hasrat dan kepentingan kelompok apalagi kepentingan pribadi (vested interest). Dan ini tentu menjadi agenda kita semua.

Maulana Raja Aisyana

Graha Pancoran Mas Pancoran Mas, Depok


Last modified: 30/10/07