SUARA PEMBARUAN DAILY

Kreativitas dan Produktivitas

Oleh Rahardi Ramelan

Tiga hal yang saya anggap penting dari sambutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Trade Expo Indonesia ke-22 pada 23 Oktober 2007, yaitu penekanan masalah kreativitas, branding, dan persaingan global. Suatu pemikiran maju yang perlu mendapat perhatian lebih mendalam serta langkah-langkah konkret untuk dapat direalisasikan. Satu pekerjaan berat bagi anggota kabinet dan para eselon satunya, serta instansi- instansi lainnya.

Presiden sudah beberapa kali menekankan akan terjadinya ekonomi kreatif sebagai gelombang keempat. Sambil menelusuri stand-stand di pameran itu saya berusaha mencari jawaban dari beberapa pejabat mengenai ekonomi kreatif yang dimaksud oleh presiden. Saya tidak mendapatkan jawaban yang jelas, malah jadi bingung.

Menurut pandangan saya, saat ini para pakar membicarakan gelombang keempat yang akan terjadi setelah information economy atau information age yang sedang kita jalani saat ini. Ada yang menamakannnya sebagai creative economy dan ada juga yang menyebut conceptual age. Pada dasarnya adalah meningkatnya proses produktif dalam masyarakat sebagai hasil olah otak sebelah kanan.

Faktor budaya, lingkungan, keindahan, dan kenyamanan akan memberikan aksen yang kuat dalam kehidupan. Barang dan jasa pun akan sangat dipengaruhi oleh hasil olah otak sebelah kanan tersebut. Kita ketahui bahwa kreativitas dan inovasi merupakan ujung tombak dalam menghadapi persaingan global yang berkembang dinamis. Kreativitas dan inovasi dapat terjadi di semua lapisan masyarakat dan tidak bergantung pada tingkat pendidikan.

Prakondisi yang penting untuk mendukung proses kreativitas dan inovasi adalah tingginya tingkat kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat atau terhadap perubahan lingkungan. Daya inovasi adalah kemampuan individu atau masyarakat memanipulasi atau mengintervensi lingkungan menurut kepentingan individu atau masyarakat tersebut. Proses dari kreativitas menjadi inovasi biasanya dapat berjalan lebih sempurna dalam sebuah inkubator dan kita telah memiliki beragam inkubator yang tersebar di seluruh Nusantara.

Kemajuan dan keadaan inkubator kita sangat menyedihkan. Penyebab utamanya adalah terbatasnya dana berupa seed capital. Tidak ada atau terbatasnya dukungan bagi mereka yang mendirikan perusahaan baru dengan membawakan hasil kreativitas, inovasi, dan hasil litbang.

Terbatasnya jumlah perusahaan modal ventura yang berperan sebagai venture capitalist murni. Kesemua ini menyebabkan terhambatnya proses kreativitas, inovasi, dan kelahiran perusahaan baru.

"Brand" dan Desain

Branding dan promosi merupakan keharusan dalam dunia yang kompetitif. Dalam industri garmen dan kuliner sudah banyak brand dan merek milik anak bangsa yang mulai dominan di pasar dalam negeri. Khususnya dalam industri kuliner brand-brand tersebut didukung oleh sistem waralaba yang agresif.

Memang masih banyak brand berbau impor untuk dapat bersaing dan disesuaikan dengan selera konsumen. Beberapa perusahaan industri kuliner telah mulai ekspansi ke negara tetangga. Kita belum memanfaatkan industri kuliner sebagai promosi budaya mela-

lui pendirian restoran Indonesia di luar negeri. Sudah saatnya para ahli kuliner kita duduk bersama, menentukan menu-menu khas yang men-jadi keharusan sebuah restoran Indonesia di luar negeri.

Desain merupakan salah satu muara dari proses kreatif. Sejak 2001 di Departemen Perindustrian sudah dibentuk Pusat Desain Nasional (PDN). Kalau kita secara sungguh-sungguh bermaksud menggalakkan industri kreatif ini maka status dan keberadaan PDN harus direvitalisasi.

Juga tidak ketinggalan bahwa kita telah memiliki beberapa perusahaan konsultan branding yang mempunyai kemampuan sejajar dengan perusahaan ternama di dunia. Institusi pemerintah, BUMN, dan perusahaan nasional lainnya harus mempertimbangkan keberadaan mereka dan memanfaatkan jasanya.

Salah satu komponen penting dalam ekonomi menghadapi persaingan global adalah produktivitas. Kita harus mengakui bahwa produktivitas ekonomi kita rendah. Masalahnya sangat kompleks, bukan hanya masalah tenaga kerja, melainkan berbagai sistem yang terkait.

Upaya mengangkat produktivitas ini telah dilakukan dengan membentuk Lembaga Produktivitas Nasional melalui peraturan presiden pada 2005. Namun, disayangkan bahwa lembaga yang sudah sejak lama dibahas

untuk dapat mengangkat masalah produktivitas ini tampaknya telah melenceng dari cita-citanya, dan masih didominasi oleh permasalahan ketenagakerjaan serta dikhawatirkan terbelenggu oleh birokrasi. Beberapa tahun lalu Kadin telah berupaya membentuk National Productivity Center (NPC), yang tidak jelas perkembangannya. Kita memerlukan lembaga produktivitas yang independen dan dapat melihat masalahnya secara menyeluruh.

Keadaan sudah makin mendesak dan saatnya pemerintah segera merevitalisasi baik kebijakan maupun kelembagaan yang mendukung lahirnya perusahaan baru, meningkatkan kemampuan desain, dan meningkatkan produktivitas. Yang berarti juga akan mendukung kemajuan ekonomi kreatif untuk bersaing di pasar global.

Penulis adalah Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)


Last modified: 30/10/07