Tunggakan Listrik di Semarang Rp 9 Miliar
Selasa, 21 September 2010 | 15:14
SEMARANG Tunggakan pembayaran tagihan listrik pelanggan di PT PLN
(Persero) Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) Semarang, Jawa Tengah,
total mencapai hingga Rp 9 miliar lebih. Tagihan yang belum terbayar
tersebut didominasi masih dari pelanggan rumah tangga.
Manager PLN APJ Semarang, M Harmasto kepada pers, Selasa (21/9) di
Semarang, mengatakan, tingginya nilai tunggakan tagihan listrik belum
dibayar itu memang cukup tinggi, yaitu lebih besar dari target. Pada
tahun ini, pihaknya mentargetkan jumlah nilai tunggakan itu dapat turun
hingga menjadi Rp 5 miliar.
APJ Semarang melakukan distribusi energi listrik ke masyarakat hingga ke
wilayah Weleri, Kendal, Semarang Tengah, Barat, Timur serta Demak,
Tegowanu dan Purwodadi. Dengan jumlah total pelanggan mencapai hingga
1.030.000 sebagian besar pelanggan rumah tangga.‘’Bagaimanapun
pembayaran tagihan listrik yang menunggak sedikit banyak akan
berpengaruh pada operasional PLN, karena itu harus segera dibayarkan,’’
tegasnya.
Ideal
Dikatakan, pelanggan tetap akan dikenai sanksi apabila membayar di luar
batas akhir pembayaran. Tapi ironisnya, kadang jika petugas
memperingatkan kewajiban membayar tagihan, pelanggan justru memarahi
petugas.
Selain masalah tunggakan tagihan listrik, PLN juga mencatat masih
terjadinya losses atau tingkat kehilangan energi yang cukup tinggi. Saat
ini tingkat losses masih mencapai 7,51 persen diatas target yang
diharapkan, yakni 7,41 persen ‘’Idealnya kita mengharapkan bisa menurunkan sekitar 2,5 persen dari
tingkat losses saat ini, karena losses sendiri memang pasti terjadi baik
karena pemanasan maupun sambungan yang tak tertutup rapat,’’ujarnya.
Namun, masalah tunggakan dan tingkat losses ini sejuah ini tidak
mempengaruhi layanan PLN dalam hal pemasangan sambungan baru. Pasalnya,
tercatat dari daftar tunggu sambungan baru sebanyak 23.000 pada awal
tahun 2010, saat ini hanya tersisa 2.500 daftar tunggu yang belum
terpasang.
Assiten Manager Pemasaran dan Niaga, Puguh Prihantoko menambahkan,
kerugian akibat losses karena panas, sambungan liar, pencurian dan
lain-lain cukup besar. Yakni sebesar 7,51 persen dari total aset PLN
saat ini sekitar Rp2,3 triliun. [142]
Kirim Komentar Anda
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



