
[KARACHI] Mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto (54) mengaku tidak gentar menghadapi ancaman serangan terhadap dirinya, seperti ledakan bom di Karachi yang menewaskan 138 orang. Dia menegaskan siap untuk menghadapi segala risiko, termasuk nyawanya terenggut, untuk memperbaiki demokrasi di Pakistan.
"Kami percaya kalau hanya demokrasi yang bisa menyelamatkan Pakistan dari disintegrasi dan penguasaan kelompok-kelompok militan," ujar Benazir kepada wartawan di rumahnya, di Karachi, Jumat (19/10) malam.
Menurut Benazir, serangan bom teroris yang dilancarkan saat dia berpawai di Karachi bukan hanya ditujukan kepada dia. Serangan bom itu juga ditujukan untuk upaya-upaya penegakan demokrasi di Pakistan.
Ledakan bom yang terjadi pada Kamis (18/10) malam itu terjadi hanya lima meter dari mobil yang digunakan untuk mengarak Benazir. Wanita yang sudah dua kali menjadi perdana menteri itu selamat, karena saat itu sedang beristirahat di dalam mobil lapis baja.
Serangan terjadi saat ratusan ribu pendukung Benazir berkumpul di jalan-jalan Pakistan untuk menyambut kedatangannya. Benazir kembali ke Karachi setelah delapan tahun berada di pengasingan.
Benazir menegaskan dia tidak gentar menghadapi serangan yang nyaris merenggut nyawanya itu. Beberapa kelompok militan, seperti Taliban dan Al Qaeda memang telah mengeluarkan ancaman untuk melakukan serangan bom bunuh diri menyambut kedatangan Benazir.
"Saya siap untuk menanggung segala risiko. Tapi, saya tidak ingin menyerahkan negara kita yang besar ini kepada kelompok-kelompok militan," ujar Benazir.
Dia lantas berjanji akan tetap tinggal di Pakistan untuk ikut serta dalam pemilihan presiden pada Januari 2008. Benazir dan Presiden Pervez Musharraf saat ini dalam perundingan berbagi kekuasaan.
Selain Taliban dan Al Qaeda, Benazir juga menuding pendukung mantan pemimpin militer Pakistan Mohammed Zia ul-Haq berada di balik serangan bom itu. Pada 1977, Zia menggulingkan kekuasaan Zulfiqar Ali Benazir, ayah Benazir Bhutto. Dua tahun kemudian, Zia menjatuhkan hukuman gantung kepada Ali Benazir.
Kecaman Dunia
Sementara itu, sejumlah pemimpin dunia mengecam serangan bom yang menjadikan Benazir sebagai sasaran. Amerika Serikat (AS) bahkan menawarkan bantuan untuk menyelidiki ledakan itu.
"AS mengecam serangan teroris di Pakistan yang telah merenggut nyawa warga tak berdosa. Para ekstremis tidak lagi boleh berada di Pakistan untuk mengganggu proses demokrasi di sana," ujar juru bicara keamanan nasional Gedung Putih, Gordon Johndroe.
Washington selama ini mendukung upaya-upaya militer Pakistan untuk memerangi teroris dan kelompok militan lain. AS juga mendukung rencana kesepakatan bagi ke- kuasaan antara Musharraf dan Benazir.
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown berjanji akan mendukung Islamabad untuk mengungkap pelaku peledakan itu. Inggris juga menyediakan sambungan telepon khusus bagi warga Pakistan yang ada di Inggris untuk bisa menghubungi keluarga mereka yang khawatir atas situasi di sana.
Australia merasa yakin kalau pelaku di balik serangan bom itu adalah kelompok teroris Al Qaeda.
Tiongkok, salah satu sekutu dekat Pakistan, mengimbau Islamabad untuk mengutamakan stabilitas sosial yang terguncang akibat ledakan bom itu. Sekutu Pakistan lainnya, Turki, mendesak komunitas internasional untuk bekerja sama lebih erat dalam perang melawan terorisme.
Kecaman juga datang dari India yang kerap menuding Pakistan mendukung kelompok teroris di Kashmir. "Hantu-hantu teroris itu telah memperkuat hubungan negara- negara yang sepakat untuk melawannya," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri India Navtej Sarna. [AP/AFP/O-1]