
Anak-anak dari pekerja Yakult Lady berada di tempat penitipan anak.
Jarum jam menunjukkan pukul 12.20 waktu Tokyo. Anak-anak yang duduk di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nisikashai masing-masing sudah duduk di kelasnya untuk makan siang bersama. Sebelum makan di meja masing-masing, para anak kelas tiga itu berbaris rapi untuk mendapatkan menu. Sedangkan, sejumlah siswa dengan berpakaian baju juru masak membagi-bagikan makanan ke masing-masing murid yang para siswa.
enu makan siang itu berupa nasi dan lauk pauk dan buah serta susu kotak 200 mililiter, yang dalam bahasa Jepang adalah "hizikigoham", "tohumasagoage", "nibitashi", "tougan nomisosiru" dan "nishi". Kebetulan siang itu SP turut makan siang bersama anak kelas 3, dan duduk satu meja dengan siswa bernama Tom, Rei, Tomoya dan Asami. Acara makan berlangsung akrab, sekalipun anak-anak belum lancar berbahasa Inggris.
Keempat anak tersebut dan anak-anak lainnya makan dengan lahap. Sebagian besar mereka menghabiskan makanan, meski ada beberapa siswa yang tidak menghabiskan. Setelah makan, para siswa mengembalikan peralatan makan ke tempatnya dan sisa makanan dikumpulkan menjadi satu.
Kebiasaan makan siang bagi murid SD dan SMP di Jepang sudah berlangsung lama. Kebiasaan ini memiliki banyak manfaat. Setidaknya anak-anak tidak makan atau jajan sembarang.
Di SD Nisikashai yang berada di luar kota Tokyo, tidak ditemukan warung, kantin maupun penjaja makanan di sekitar sekolah. Sungguh berbeda dengan di Indonesia, yang dengan mudah siswa SD, SMP maupun SMA jajan di kantin maupun di sekitar sekolah.
Program makan siang bersama itu juga dilengkapi dengan kehadiran ahli diet, Yoko Kobayashi (30), yang bertanggung jawab atas pengaturan menu para siswa. Menurut Kepala Sekolah SD Nisikashai Kimiko Yabe, anak-anak makan siang bersama Seni sampai Jumat (Sabtu merupakan hari libur). Makan siang memang diperlukan para siswa mengingat jam belajar dari pagi sampai sore (08.15 sampai 16.00).
Makan siang tidak membuat uang sekolah menjadi mahal. Setiap siswa, menurut Yabe, dikenakan biaya sekolah 2.300 yen, karena pemerintah Jepang menyubsidi biaya pendidikan. Soal menu, pihak sekolah berusaha agar menu yang dihidangkan disukai siswa. Untuk itu, sekolah pun memiliki juru masak dan dapur. Sementara bahan makanan yang diolah merupakan bahan segar yang didatangkan dari daerah di sekitar Tokyo.
"Makan siang bersama di sekolah merupakan kebijakan nasional, dan ada panduan kecukupan gizi. Tetapi hal itu tidak berlaku kaku, karena unsur lokal juga harus ada di dalam menu," lanjut Yabe.

foto-foto:sp/SP/Nancy Nainggolan
Para siswa SD Negeri Nisikashai makan siang bersama.
Gaya Hidup
Makan siang bersama tidak hanya bertujuan untuk menanamkan kesadaran pola makan sehat sejak dini pada anak-anak. Lebih dari itu, kebijakan ini merupakan upaya untuk mengurangi jumlah anak yang memiliki berat badan berlebih maupun yang obesitas.
Sekarang terjadi perubahan pola makan dari tradisional ke pola makan Barat yang kaya daging dan lemak. Uniknya, sekalipun sudah ada program makan bersama itu, namun obesitas masih menjadi masalah. Ini antara lain dikarenakan kurang olahraga.
Program makan siang bersama di sekolah tidak bisa dipisahkan dari program pemerintah Jepang berupa "Syokuiku".
Menurut Asisten Konselor pada Dietary Education Promotion Department Miho Kawano, "Syokuiku" bukan hanya mempromosikan makan siang di sekolah. Tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk bergaya hidup sehat, termasuk memperkenalkan dunia pertanian bagi anak-anak, juga menciptakan kelas masak untuk anak dan ibu, serta menyusun panduan pola makan untuk ibu hamil.
Kawano menyebut, penduduk Jepang saat ini mengalami perubahan pola makan seiring dengan perubahan gaya hidup, yang berdampak pada ketidakseimbangan nutrisi, peningkatan obesitas, dan hilangnya kultur makanan tradisional. Ini terbukti dari sejumlah survei tentang kebiasaan makan malam bersama keluarga, situasi makan siang, dan statistik penduduk Jepang yang obesitas maupun yang memiliki berat badan di bawah normal (kurus).
Misalnya, hanya 25,9 persen yang makan malam bersama keluarga (survei pada anak sekolah berusia 5 tahun sampai 18 tahun pada tahun 2004). Bahkan ada 7 persen anak yang hampir tidak pernah makan malam dengan keluarganya tahun 2004. Bandingkan dengan tahun 1976 ada 36,5 persen yang makan malam setiap hari dengan orangtua.
Persentase orang berusia 15 tahun ke atas yang tidak sarapan pagi paling tinggi pada kelompok usia dua puluhan baik perempuan (23,5 persen) dan laki-laki (33,1 persen) pada tahun 2005. Di kalangan siswa SD, persentase siswa yang tidak makan pagi ada 3,5 persen dan siswa SMP 5,25 persen.
Namun tren obesitas meningkat di kalangan laki-laki. Satu dari tiga laki-laki berusia 40 tahun sampai 60 tahun mengalami obesitas.
Jepang juga menghadapi masalah kekurusan. Proporsi perempuan yang kurus meningkat, satu dari lima perempuan berusia diantara 20 tahun sampai 30 tahun termasuk terlalu kurus. Di sisi lain, lebih dari 16,2 juta orang atau 1 persen dari total populasi sangat kuat diduga menderita diabetes mellitus (DM). Juga, satu dari dua laki-laki dan satu dari lima perempuan berusia 40 tahun sampai 74 tahun sangat kuat dicurigai mengalami sindrom metabolik.
Menghadapi berbagai masalah itu pemerintah Jepang mengedukasi masyarakat untuk bergaya hidup sehat melalui "Syokuiku". Upaya ini tidak sia-sia. Tahun 2005 sebanyak 99,2 persen SD di Jepang menerapkan makan siang dan SMP 85,6 persen.
Selain sekolah, ada 55,8 persen masyarakat yang aktif menerapkan program ini dalam kehidupan sehari-hari. Program ini tidak hanya dipopulerkan di kalangan anak sekolah, tetapi juga di tengah keluarga. [N-4]