Bagi sebagian orang Indonesia, masa mudik Lebaran menjadi seni tersendiri yang mesti dilakoni tiap tahun. Betul, seni menghadapi sejumlah kendala angkutan Lebaran yang seragam tiap tahunnya, mulai dari susahnya mencari tiket perjalanan, harga tiket yang melambung, repotnya menghadapi calo, kepadatan penumpang, kemacetan, armada yang jumlahnya minim, keandalan armada yang sering bermasalah, keterlambatan.
![]()
AFP/Yuli SEPERI
Warga mudik menggunakan kapal laut dari Batam ke Pulau Jawa.
elum lagi prasarana dan sarana yang tidak nyaman, ditambah ancaman cuaca buruk seperti banjir dan tanah longsor. Makanya tepat sekali ketika syair lagu lama Meriam Bellina di-"pleset"-kan menjadi, "Mulanya biasa saja, lama kelamaan kebiasaan." Benar, awalnya ruwet, tetapi karena bertahun-tahun permasalahannya selalu serupa, akhirnya terbiasa.
Bisa dibilang, pemudik tidak diberi pilihan, mereka harus tetap mudik, soal nyaman, urusan belakangan. Banyak pemudik sudah hafal, kapan mereka musti beli tiket, calo seperti apa yang dipilih, jam berapa musti ke terminal menunggu bus bantuan, kapan di titik mana harus mengeluarkan uang "salam tempel" ke kondektur. Juga di lokasi mana harus banting setir mengambil jalur alternatif, hingga di mana musti merenggangkan otot untuk bersiap-siap menghadapi kemacetan panjang di lokasi-lokasi yang dikenal rawan macet.
Memang, bertahun-tahun rakyat sulit mendapatkan angkutan Lebaran yang nyaman. Jangankan nyaman, keselamatan angkutan Lebaran pun diragukan, karena seringkali terjadi kecelakaan yang merengut korban jiwa akibat tidak andalnya SDM, sarana dan prasarana. Pemerintah dan operator angkutan terbukti tidak mampu memenuhi hak dasar konsumen dalam menikmati angkutan yang nyaman dan aman. "Hak-hak dasar konsumen sudah dilanggar. Bahkan kecelakaan dengan korban jiwa tetap tinggi, seharusnya masyarakat bisa menggugat pemerintah dan operator karena melanggar hak-hak konsumen yang dilindungi undang-undang," papar pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Soedaryatmo kepada SP, pekan lalu.
Dirjen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Iskandar Abubakar yang juga Koordinator Pelaksana Tingkat Nasional Angkutan Lebaran mengakui, sarana dan prasarana transportasi tidak didesain untuk menampung konsentrasi permintaan yang sangat tinggi seperti pada periode Lebaran. "Sehingga menimbulkan percaloan, menurunnya kualitas pelayanan dan potensi gangguan keselamatan, baik moda jalan, penyeberangan kereta api (KA), laut, maupun udara," tutur Iskandar.
Dia memperkirakan total penumpang angkutan umum pada masa Lebaran tahun ini sebanyak 14,85 juta penumpang. Angka itu naik lima persen ketimbang tahun lalu yang sebanyak 14,04 juta penumpang. Kenaikan penumpang tertinggi terjadi pada model angkutan (moda) udara yakni dari 1,49 juta pada 2006, tahun ini diperkirakan 1,71 juta penumpang. Sedangkan penurunan penumpang diperkirakan terjadi pada moda KA semula 2,63 juta menjadi 2,62 juta orang.
Sementara penumpang angkutan darat diperkirakan 9,98 juta atau naik 6,04 persen dari tahun lalu. Untuk moda angkutan laut jumlah, penumpang diperkirakan 534.984 orang atau naik lima persen dari tahun lalu.
Sepeda Motor
Permasalahan angkutan Lebaran tahun ini menurut Iskandar, memang tidak jauh beda dengan tahun lalu. Sejumlah permasalahan itu seperti, belum maksimalnya perbaikan di ruas jalan pantai utara, jalur lintas timur di Sumatera. Kemudian, penggunaan sepeda motor yang masih tinggi. Diperkirakan tahun ini bakal mencapai 2,43 juta kendaraan. Tahun lalu hanya 1,85 juta sepeda motor.
Sebelumnya Dephub sudah mengimbau agar pemudik tidak menggunakan sepeda motor. Sebab moda transportasi itu bukan didesain untuk perjalanan jauh. Bahkan berdasarkan data yang ada, kecelakaan kedua tertinggi selama angkutan Lebaran tahun lalu dialami pengendara sepeda motor setelah mobil penumpang. Dari satu juta sepeda motor, 20 kendaraan mengalami celaka. Sedangkan mobil penumpang, dari 1 juta mobil, 126 kendaraan mengalami kecelakaan. Persoalannya, sepeda motor dipilih karena pemudik ingin menghindari kemacetan, sulitnya mendapatkan angkutan, dan tingginya harga tiket angkutan.
Iskandar melanjutkan, permasalahan lain adalah banyaknya perlintasan sebidang antara jalan dan KA di jalur selatan Pulau Jawa berpotensi menimbulkan antrean panjang kendaraan. Belum lagi potensi kemacetan di sejumlah titik akibat adanya pasar tumpah di Pantura, seperti di Sukamandi, Ciasem, Patrol Kandanghaur, Tegal Gubug, Karang Ampel, dan Kertasemaya.
Juga ada sejumlah titik longsor seperti di wilayah Ciamis, Bumiayu-Jatibarang, juga di Wangon. lalu rawan longsor jalur KA seperti di daerah Gubug, Jambon, lintas Prupuk-Limbangan, Notog-Kebasan, daerah Banjar, dan Tambak. Sedangkan perlintasan KA rawan banjir seperti lintas Batang-Kuripan, Kaliwungu-Mangkang, Kawungwetan-Kangkung, Soka-Kebumen, Terisi-Jatibarang, dan Sindang Laut-Ciledug.
Kemudian kendala untuk angkutan laut yakni curah hujan yang tinggi dan ombak besar. Sedangkan di udara, kendala asap tebal akibat kebakaran hutan diperkirakan masih menjadi persoalan angkutan Lebaran tahun ini. Selain itu, Dephub juga mencatat, luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo sebagai permasalahan angkutan Lebaran. Sebab lumpur itu mengganggu lalu lintas Surabaya sekitarnya dan yang menuju Bali.
Berdasarkan data yang dihimpun SP, masalah lain yang bakal dihadapi adalah persoalan dengan kapasitas angkut. Sebab armada tahun ini, seperti moda KA, kapal laut, dan udara, jumlahnya turun. Armada KA tahun ini sebanyak 222 KA, padahal tahun lalu sebanyak 225 unit. Se- orang sumber menyebutkan, turunnya jumlah armada KA itu akibat adanya program scrap gerbong tua KA sebanyak 55 gerbong. Sementara penambahan gerbong baru KA ekonomi hanya 30 unit dan rehabilitasi sebanyak 22 unit.
Kemudian untuk angkutan laut tahun ini dikerahkan 528 kapal, sementara tahun lalu 598 kapal. Hal ini disebabkan tidak beroperasikannya armada tua dengan alasan keselamatan. Sedangkan armada angkutan udara dikerahkan 211 pesawat, sementara tahun lalu sebanyak 226 pesawat. Padahal, jumlah penumpang moda udara tahun ini diperkirakan naik 14,8 persen dari tahun lalu. Tetapi menurut Iskandar, hal itu tidak mengkhawatirkan sebab banyak maskapai penerbangan menggunakan pesawat berbadan besar, sehingga kapasitas tahun ini lebih besar dari tahun lalu meskipun jumlah armada turun. Anggota Komisi V DPR yang membidangi Perhubungan, Sabri Saiman mengatakan, tugas pemerintah sebagai regulator menyiapkan sarana dan prasarana. Persoalannya kembali ke masyarakat apakah mereka berdisiplin atau tidak menggunakan sarana dan prasarana itu. Persoalan yang mengemuka saat ini adalah pemilihan sepeda motor sebagai sarana mudik. "Itu karena keterbatasan kemampuan masyarakat kecil, padahal sepeda motor bukan sarana transportasi jarak jauh. Ini yang harus diantisipasi serius," ujarnya.
Sabri menyoroti tidak selesainya sejumlah prasarana untuk angkutan mudik. Menurut dia, telah terjadi salah kaprah dalam memperbaiki infrastruktur. "Pembangunan hanya difokuskan untuk angkutan Lebaran, padahal seharusnya dilakukan secara rutin, bukan hanya untuk Lebaran," ujar Sabri.

Mudik Gratis
Tentang mudik ini, beberapa perusahaan beberapa tahun belakangan ini menggelar mudik gratis. Mudik gratis itu terutama, ada yang dikhususkan bagi karyawannya atau bagi penjual produk perusahaan tersebut seperti digelar Indofood untuk penjual mie rebus menggunakan Indomie dan penjual jamu yang difasilitasi PT Sidomuncul. Hal sama tiga tahun belakangan ini dilakukan oleh operator seluler PT Telkomsel.
"Telkomsel ingin membantu para pelanggan dan komunitas pedagang terutama frontliner yang selama ini setia membatu kami untuk melaksanakan ritual mudik. Kebiasaan dari mereka (terutama komunitas pedagang) kan selalu last minute untuk mudik dan biasanya last minute itu susah mendapatkan transportasi. Kita (Telkomsel) ingin hadir di saat mereka membutuhkan pertolongan itu," kata VP Marketing & CRM Telkomsel, Hendri Mulya Sjam kepada SP.
Tentang mudik gratis yang disiapkan sejumlah perusahaan ternyata belum dapat melayani para pemudik secara keseluruhan. Seperti Rasino (25), pekerja di sebuah rumah produksi mengaku tidak mengetahui adanya fasilitas mudik gratis. Selama ini, pria asal Cilacap Jawa Tengah itu selalu mudik dengan menggunakan kendaraan umum yaitu bus. Bedanya tahun ini, Rasino mudik dengan membawa istri dan putranya yang baru berusia sembilan bulan.
"Kami setiap Lebaran selalu mudik. Hanya saja kali ini kami membawa bayi. Sedikit lebih repot, tapi nggak apalah yang penting kami dapat berkumpul bersama keluarga," ucapnya kepada SP di Jakarta, Jumat (21/9) siang.
Rasino mengaku mengetahui tentang adanya fasilitas mudik gratis. Hanya saja, dirinya belum pernah merasakan kenikmatan dari layanan tersebut. "Saya belum pernah ikut mudik gratis, nggak tahu caranya. Kalau ada mau dong mbak," ujarnya.
Sutradara program acara religi di Lativi itu khawatir jadwal pemberangkatan mudik gratis itu tidak sesuai dengan rencana kepulangan mereka sekeluarga. Sebab dengan jadwal kejar tayang yang padat dirinya baru bisa memboyong keluarganya mudik tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri. Itu pun kalau tidak ada perubahan. "Saya takut kalau jadwal pemberangkatan terlalu mepet atau tidak dapat diubah. Sama aja boong dong," ujarnya lagi.
Pendapat yang sama juga diungkapkan Suryamin (24), pedagang sate asal Tegal, yang setiap tahun bersama sang suami bersama keluarga besarnya pulang kampung. "Kami sih biasanya naik mobil carteran, soalnya kami membawa keluarga besar. Kalau mudik gratis belum pernah, takut waktunya tidak pas. Soalnya menjelang Lebaran dagangan biasanya masih ramai. Lagi pula kasihan pelanggan kami karena biasanya saat itu pembantunya sudah pada pulang," ucap Suryamin yang membuka warung dagangan di perumahan Griya Asri, Depok Tengah, Jawa Barat.
Beda lagi dengan Ratmi (36) pedagang jamu asal Wonogi- ri yang ikut mudik gratis yang dibuat perusahaan jamu. "Alhamdullilah kami dapat mudik gratis tanpa harus untel-untelan (berdesakan). Upah kerja keras satu tahun terbalas sudah," ucapnya.
Bagi Ratmi ini untuk keempat kalinya dia ikut mudik gratis bersama keluarga tanpa perlu susah payah mencari tiket. Untuk mengikuti program ini penjual jamu keliling di wilayah Depok Timur itu sudah mendaftar sejak tiga bulan lalu. Menurut dia teman-temannya dari Wonogiri, Sukoharjo, Banjarnegara dan Solo juga ikut mudik gratis.
"Pokoknya sekarang jualan ajah dulu. Pulang nanti tinggal bawa anak dan barang. Kan enak tenan," ucapnya menirukan salah satu iklan produk jamu yang memberi fasilitas mudik gratis itu. [DN/Y-4/W-10]