SUARA PEMBARUAN DAILY

Musik Malaysia Monoton, Pasar Pun Jenuh

djwirya.com - Siti Nurhaliza

Musik Malaysia kurang bisa diterima masyarakatnya sendiri, lantaran kurang bervariasi dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Pasar lokal pun mengalami kejenuhan, dan akhirnya lebih memilih menikmati musik Indonesia yang banyak masuk ke Malaysia. Demikian dikatakan salah seorang pelaku industri musik Malaysia, Sandy Monteiro kepada SP, baru-baru ini.

Namun, kata Sandy, sebagai pelaku industri musik Malaysia, dirinya dapat memahami kekecewaan musisi Malaysia yang disampaikan lewat Persatuan Penyanyi dan Pencipta lagu Malaysia (Papita), kepada radio swasta di Malaysia, yang dinilai telah menganaktirikan musik Malaysia dan lebih menomorsatukan musik Indonesia untuk diputar di sana.

"Sebagai orang Malaysia saya dapat mengerti kekecewaan para musisi Malaysia kepada radio swasta Malaysia, karena lebih sering memutar lagu-lagu Indonesia daripada lagu Malaysia," katanya.

Sebaliknya, lanjut Sandy, dirinya pun tak setuju dengan desakan Papita kepada pemerintah kerajaan Malaysia agar peredaran lagu Indonesia di Malaysia dibatasi. Pasalnya, hal itu bukan merupakan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Bahkan jika aksi pemboikotan, pelarangan atau pun pembatasan terhadap musik Indonesia di Malaysia terlaksana, hanya akan memperburuk hubungan persaudaraan antar negara yang selama ini telah terjalin cukup baik.

"Jalan tengah dari masalah ini adalah, membiarkan lagu-lagu Indonesia tetap masuk ke Malaysia seperti biasanya tanpa pembatasan, dan radio swasta di Malaysia memberikan porsi yang sama pada lagu-lagu Malaysia dan Indonesia untuk diputar di sana. Semuanya 50:50 jadi seimbang," ungkapnya.

Sandy mengatakan, secara keseluruhan saat ini industri musik sedang mengalami penurunan, terlebih dengan adanya pembajakan. Namun musik Malaysia semakin terpuruk lantaran industri musik Malaysia kurang memahami keinginan pasar lokal yang bervariasi dan hanya fokus pada satu jenis musik yang saat itu tengah disukai masyarakat.

"Misalnya ketika lagu-lagu Siti Nurhaliza disukai pasar, semua industri musik Malaysia pun ikut-ikutan mengeluarkan lagu-lagu sejenis, jadi ada banyak Siti A, Siti B, Siti C dan Siti-Siti lainnya. Musik Malaysia dikuasai lagu-lagunya Siti. Lama-lama pasar pun menjadi jenuh karena tidak adanya keragaman itu," urainya.

Kehadiran lagu-lagu Indonesia di Malaysia, jelas Sandy, membawa angin segar bagi selera musik masyarakat Malaysia. Mereka pun menjadi gandrung dengan musik Indonesia yang bervariasi.

"Kondisi ini ditangkap oleh para pengusaha radio swasta. Mereka pun mau tidak mau lebih sering memutar lagu-lagu Indonesia daripada lagu-lagu Malaysia. Sebab dengan memutar lagu Indonesia, radio mereka jadi banyak yang dengar karena isinya sesuai dengan permintaan pasar," ujarnya.

Meningkatkan Karya

Dengan demikian, kata Sandy, seharusnya kondisi ini menyadarkan para musisi Malaysia untuk lebih meningkatkan karya-karya musik mereka sehingga dapat lebih bisa diterima oleh masyarakatnya sendiri.

"Justru mereka harusnya makin menyadari bahwa ternyata pasar sudah jenuh dengan musik Malaysia yang hanya berorientasi pada satu jenis musik (Siti Nurhaliza, Red). Sudah saatnya memberikan banyak pilihan musik pada pasar," jelasnya.

Pemerintah Kerajaan Malaysia, kata Sandy, sejauh ini belum mengeluarkan larangan atau memenuhi desakan Papita untuk membatasi peredaran lagu-lagu Indonesia di Malaysia. Hanya, yang membuat Pemerintah Kerajaan Malaysia menjadi gusar adalah penggunaan bahasa Indonesia oleh para DJ (Disk Jockey) di tempat-tempat hiburan di Malaysia kini semakin menjadi trend.

"Okelah kalau lagu Indonesia digemari masyarakat sehingga jadi sering diputar di radio-radio swasta. Namun kan bukan berarti demam musik Indonesia di kalangan masyarakat jadi membuat para operator radio atau pun DJ ikut-ikutan menggunakan bahasa Indonesia dalam siarannya. Hal ini saya tidak setuju, dan ini pula yang kini akan diatur oleh Pemerintah Kerajaan Malaysia. Janganlah karena tren kemudian identitas bangsa jadi dilupakan," tuturnya.

Sandy mengatakan, dalam waktu dekat kalangan industri musik Malaysia akan mempertemukan Papita dengan kalangan radio swasta Malaysia untuk membicarakan masalah ini. Diharapkan dengan adanya pertemuan tersebut masalah ini akan segera dapat diselesaikan dengan baik.

"Minggu ini saya pulang ke Malaysia, dan rencananya kami dari kalangan industri akan mengajak Papita bertemu bersama kalangan pengusaha radio swasta. Kami akan duduk bersama untuk membicarakan masalah ini dan mencari jalan tengahnya," ujarnya.

Sementara itu, produser dan pemilik label musik PT Musica Studio's, Indrawati Widjaja mengaku, dirinya belum mendengar adanya desakan pembatasan lagu Indonesia yang dilontarkan Papita. Hingga saat ini album penyanyi yang berada di bawah naungan PT Musica Studio's masih lancar beredar di Malaysia.

"Saya belum dengar kabar apa-apa dari Malaysia. Menurut saya selama larangan itu belum disampaikan ke kami secara langsung, berarti tidak ada apa-apa. Semuanya masih aman-aman saja," imbuhnya.

Hal senada dikatakan vokalis grup band Peterpan, Ariel. Dirinya mengaku belum mendengar adanya protes dari Papita terhadap radio swasta di Malaysia. Namun Ariel menyesalkan jika Papita mendesak diberlakukannya pembatasan terhadap musik Indonesia di Malaysia hanya karena merasa tersaingi.

"Kalau memang benar Papita mengeluarkan desakan seperti itu terhadap musik Indonesia tentu saja sangat disesalkan. Karena musik adalah bahasa universal tidak boleh ada yang melarang-larang karena itu menyangkut kebebasan masyarakat dalam mengapresiasi sebuah karya seni," jelasnya.

Sejah ini, menurut Ariel, hubungan antara Peterpan dengan beberapa musisi dari Malaysia cukup baik. Penampilan Peterpan pun di Malaysia selalu disambut dengan positif oleh media massa maupun masyarakat setempat. [Y-6]


Last modified: 28/9/07