
Kaman Nainggolan
ekade ini ditandai oleh fenomena melejitnya harga bahan bakar fosil yang memaksa berbagai negara mencari sumber-sumber energi alternatif terbarukan, yaitu bioenergi. Jika tahun 2000 harga minyak mentah US$ 21 per barrel, saat ini mencapai US$ 80-an per barrel.
Meroketnya harga energi berdampak langsung pada harga produk pertanian melalui kenaikan biaya input semisal pupuk, dan biaya transportasi. Harga-harga pangan dan pakan cenderung meningkat dan menurunkan daya beli riil masyarakat miskin.
Maka jangan heran jika belakangan ini harga internasional minyak sawit mentah (CPO) dan minyak goreng meroket dan menyebabkan langkanya pasokan dalam negeri akibat ekspor yang booming. Harga jagung mencapai tingkat tertinggi dalam lebih satu dekade yang memukul petani unggas.
Biofuel cair seperti bioetanol dan biodiesel sekarang menyuplai sekitar 20 juta ton setara minyak atau sekitar 1 persen dari permintaan bahan bakar kendaraan transportasi global. Sementara itu sistem bioenergi berupa biomassa tradisional yang bersifat carbon-neutral seperti kayu bakar menyuplai lebih 90 persen konsumsi rumah tangga di banyak negara berkembang, khususnya di pedesaan.
Peluang pasar bagi biofuel cair yang diproduksi dari tanaman mengandung pati maupun minyak-minyakan luar biasa besarnya. Inilah yang memicu berbagai negara berpacu mengembangkan bioenergi yang umumnya berbasis bahan pangan.
Brasil misalnya, telah mengkonversi 50 persen produksi tebunya untuk menghasilkan etanol untuk keperluan domestik dan ekspor. Amerika Serikat memproduksi besar-besaran etanol sekitar 23 persen dari produksi jagung sesuai dengan Energy Policy Act 2005. Eropa menyubsidi minyak nabati untuk menghasilkan biodiesel dengan target 5,75 persen pangsa pasar biofuel dalam petroleum dan diesel tahun 2010. Diproyeksikan 1,5 juta ton biji-bijian dan 10 juta ton biji-bijian mengandung minyak menghasilkan bioenergi tahun 2012.
Indonesia menargetkan tahun 2010 biofuel menggantikan sekitar 10 persen dari konsumsi bahan bakar konvensional. Pengembangan biofuel juga diharapkan bisa memberikan tiga juta lapangan kerja bagi masyarakat sampai 2010, penghematan devisa negara sampai 10 miliar dolar AS serta pemanfaatan 5 juta hektare lahan kritis. Maka dalam jangka panjang akan terjadi kompetisi hebat dalam pemanfaatan lahan untuk produksi bioenergi dan pangan.
Dalam pada itu, peran energi bagi masyarakat miskin pedesaan sangat penting untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs). Hampir 1,6 miliar orang di dunia ini tidak punya akses listrik, dan 2,5 miliar orang menggunakan bioenergi tradisional seperti kayu bakar, arang, dan kotoran hewan untuk memasak.
Ekspansi yang sangat cepat sektor bioenergi dapat mempengaruhi ketahanan pangan tingkat rumah tangga dan tingkat nasional melalui empat dimensi yaitu ketersediaan, akses pangan, volatilitas harga, dan konsumsi. Selain itu harus dilihat juga dampak terhadap pendapatan produsen/petani.
Pasokan pangan yang cukup dapat terancam oleh produksi bioenergi jika lahan dan sumber daya produktif lainnya beralih dari budi daya tanaman pangan. Sekitar 14 juta hektare lahan sekarang ini digunakan untuk produksi biofuel cair, atau setara dengan 1 persen dari lahan dunia yang dapat dibudidayakan, dan ini dapat meningkat menjadi 2,5-3,8 persen tahun 2030.
Di sisi lain, sektor bioenergi menawarkan peluang kerja dan pertumbuhan ekonomi pedesaan. Karena 70 persen masyarakat miskin ada di pedesaan, secara umum dampaknya akan positif untuk akses pangan.
Sebaliknya, masyarakat urban yang net-konsumen akan dirugikan. Oleh karena itu, kenaikan harga pertanian akibat produksi bioenergi akan berdampak pada aksesibilitas pangan bagi sebagian masyarakat, setidaknya dalam jangka pendek. Situasi seperti ini mestilah berujung pada penyesuaian upah pekerja urban, yang pada saat ini diwarnai oleh cheap wage policy.
Ekspansi penggunaan komoditas pertanian untuk produksi biofuel, jika tidak dilakukan dengan arif, akan menurunkan pasokan pangan dan meningkatkan volatilitas harga pangan dan pakan, kenaikan harga secara kontinu, dan risiko lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat mengganggu stabilitas ketahanan pangan, khususnya untuk konsumen dengan pendapatan rendah.
Strategi ke Depan
Strategi pengembangan bioenergi ke depan haruslah sinergi dengan peningkatan ketahanan pangan dan penurunan kemiskinan dalam MDGs. Strategi yang membebaskan manusia dari kemiskinan dan kelaparan, yang sekaligus menimbulkan kebangkitan (renaisanse) pertanian dan memasok energi ke negara-negara miskin.
Kebijakan yang tepat adalah pasar bioenergi yang multimiliar dolar per tahun itu diproduksi oleh petani dan tenaga kerja pedesaan yang merupakan 70 persen masyarakat miskin (labor intensive). Strategi bioenergi masa depan harus mendorong produsen skala kecil, UKM yang biasanya mempraktikkan sistem biodiversitas, dan bukan monokultur skala besar yang dipraktikkan oleh industri besar.
Kekhawatiran berbagai kalangan adalah para investor besar berlomba-lomba untuk memproduksi bioenergi skala besar yang capital intensive yang mengancam kualitas lingkungan. Mereka tentu akan memilih lokasi yang infrastrukturnya sudah bagus seperti di Jawa untuk meminimalkan biaya.
Sistem bioenergi skala kecil berpotensi menyediakan energi dengan biaya murah, khususnya di daerah terpencil, meningkatkan peluang kerja dan pertumbuhan ekonomi dan menurunkan risiko kesehatan yang berkaitan dengan mengumpulkan kayu bakar dan asap.
Sejauh ini debat soal biofuel didominasi penggunaannya dalam bidang transportasi yang notabene hanya 1 persen dari total produksi energi global. Penggunaan di bidang inilah yang menjadi fokus perhatian negara-negara industri guna menurunkan emisi karbondioksida global. Padahal 10 persen energi dipasok oleh bioenergi tradisional: kayu, arang, dan sebagainya di negara-negara berkembang. Oleh sebab itu kita harus mendorong pengembangan bioenergi berbasis pedesaan, utamanya luar Jawa guna memanfaatkan lahan-lahan tidur, dan sebisanya berbahan baku nonpangan seperti jarak pagar (jath- ropa).
Bagi Indonesia, inilah peluang terbaik yang harus kita manfaatkan. Saatnya kita berdayakan para petani dan buruh tani melalui kebijakan yang pro-poor. Saatnya bangsa ini menjalankan reforma agraria agar petani kita tidak lagi gurem. Investasi pedesaan dengan pengembangan infrastruktur, teknologi yang resource based guna memanfaatkan keunggulan komparatif kita, kelembagaan, kredit, dan akses pasar bahan baku.
Jika itu terjadi maka tidak akan ada kontroversi antara bioenergi dengan ketahanan pangan, dan kemiskinan tidak lagi bersama kita. Bioenergy becomes pro-poor!
Penulis adalah Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian/Sekretaris Dewan Ketahanan Pangan, dan Dosen Pascasarjana di beberapa Perguruan Tinggi