
SP/Adi Marsiela
Kesibukan di kantor pos mengirim kartu ucapan Selamat Idul Fitri.
Sebelum telepon seluler (ponsel) dan teknologi seperti surat elektronik (e-mail) marak digunakan, kartu ucapan adalah media utama untuk saling mengucapkan selamat pada hari-hari khusus. Seperti hari raya yang sebentar lagi dijelang, Idul Fitri. Saat-saat menjelang Idul Fitri seperti ini, dulu orang berbondong-bondong membeli dan mengirim kartu ucapan melalui kantor pos.
amun, sejak ponsel dan e-mail tidak lagi menjadi barang mahal dan sudah sangat marak digunakan, lambat laun minat masyarakat terhadap kartu ucapan semakin berkurang. Hal ini dapat dilihat dari segi penjualan kartu tersebut. Imbasnya tidak hanya dirasakan di toko-toko buku berskala besar, tapi juga sampai kepada para penjual eceran maupun seniman pembuat kartu ucapan tersebut.
Sampai awal tahun 1990-an peminat kartu ucapan dengan berbagai corak dan untaian kata-kata itu memang sangat tinggi. Namun, seiring kemajuan teknologi yang semakin pesat, media silaturahmi ini tergeser dan jarang peminat. Begitulah yang dirasakan oleh para pedagang kartu dan seniman kartu ucapan di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Jika kita berjalan di sekitar Pasar Baru, tepatnya di dekat Gedung Kesenian Jakarta, terdapat Gedung Filateli yang terletak di Jalan Pos No 2, Jakarta Pusat. Di samping gedung itu berjajar lebih dari 4 kios yang sehari-harinya menjual pernak-pernik filateli. Namun, pada hari-hari khusus menjelang hari raya, seperti sekarang ini, mereka juga mencari rezeki dengan menjual kartu ucapan.
Minimnya minat masyarakat terhadap kartu ucapan saat ini, sangat dirasakan oleh mereka. Amin (59), salah satu penjual kartu ucapan di bilangan tersebut mengatakan masa kejayaan kartu ucapan sudah lewat. "Sekarang penjualan kartu ucapan tidak bisa diandalkan lagi. Setiap tahun pasti berkurang sekitar 60 persen," tuturnya kepada SP, Rabu (19/9).
Pria yang sudah berjualan di sekitar Pasar Baru sejak 1980 ini menambahkan, penurunan omzet kartu ucapan sudah dirasakan sejak ponsel mulai banyak dan masyarakat mulai beralih ke media canggih tersebut. Mengirim ucapan cukup menggunakan layanan Short Message Service (SMS) dan kini bahkan dengan Multimedia Message Service (MMS).
Sepinya peminat kartu ucapan juga dikeluhkan oleh Nano. Pelukis yang memiliki tempat praktek di seberang Gedung Kesenian Jakarta, Jalan Gedung Kesenian Jakarta No 1, Pasar Baru, Jakarta Pusat, tidak lagi menggeluti usaha itu. Pria berusia 45 tahun ini mengaku bahwa dirinya tidak lagi menggeluti usaha kartu ucapan sudah sejak lama. "Tepatnya saya tidak tahu kapan, tapi yang jelas sejak telepon genggam merebak di masyarakat. Sejak saat itu, peminat kartu ucapan sama sekali tidak ada," katanya.
Karena tidak lagi menggeluti usaha itu, Nano harus merelakan rupiah yang semestinya bisa diraup pada tiap menjelang hari raya. Masih menurut Nano, untung yang diraihnya dari usaha kartu ucapan lumayan besar. Dulu, dirinya bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 25.000 per harinya.
Kartu ucapan buatan Nano yang juga menerima pesanan lukisan dan karikatur itu tidak seperti kebanyakan yang kerap kita jumpai di toko buku. Kartu ucapan buatan tangannya lebih berkesan karena dilukis sesuai permintaan pemesan dan ditulis dengan kata-kata berdasarkan permintaan pemesan.
Kenangan akan suatu tempat, benda, atau sesuatu yang berkesan, bisa digambarkan Nano pada lembar kartu ucapan tersebut. Kartu tersebut juga dapat disimpan sebagai kenangan.
"Biasanya kalimat yang ditulis di kartu adalah kalimat-kalimat puitis, yang memiliki arti bagi pengirim dan penerima," tambahnya dengan mata menerawang seraya mengenang masa kejayaan itu.
Menurunnya minat masyarakat terhadap kartu ucapan juga diakui oleh Humas Wilayah Operasional Pos IV, Yudikris. "Pengiriman kartu ucapan setiap tahunnya memang selalu menurun. Rata-rata 20 persen tiap tahunnya," ungkapnya sambil menambahkan penurunannya memang tidak drastis, "Angka penurunannya memang lambat namun pasti tiap tahunnya."
Dalam percakapan dengan SP di kantornya di Jakarta Pusat, Rabu siang, dijelaskan oleh Yudikris, pada 2006, pengiriman kartu ucapan Lebaran hanya berkisar 200-300 ribu lembar saja. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya angkanya mencapai jutaan. Pengiriman kartu Lebaran yang mencapai angka jutaan untuk terakhir kalinya terjadi pada tahun 2002 yaitu mencapai 2,2 juta lembar.
Untuk mengatasi hal itu, pihak PT Pos Indonesia telah menyediakan pula Prisma. Ini adalah singkatan dari Prangko Identitas Milik Anda. Berbeda dengan prangko biasanya, pada Prisma, orang dapat mencetak foto diri atau logo instansi dan perusahaannya. Bila Prisma itu kemudian ditempel pada amplop kartu ucapan, tentu akan lebih menarik baik bagi pengirim maupun penerimanya.
Cara itu memang agak membantu meningkatnya kembali pengiriman kartu ucapan. Namun tetap saja, dibandingkan sebelum ponsel dan e-mail marak digunakan, penggunaan dan pengiriman kartu ucapan sudah semakin tidak populer. Apalagi, dibandingkan SMS dan e-mail yang dalam seketika dapat sampai pada si penerima, maka mengirim kartu ucapan melalui kantor pos, membutuhkan waktu beberapa hari bahkan mungkin seminggu lebih, baru sampai ke tangan si penerima.

Penjualan Menurun
Sementara itu, sepinya peminat kartu Lebaran juga terlihat di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Di salah satu toko buku terbesar di sana, hanya tampak Parlan (30), yang sibuk mencari kartu ucapan selamat hari raya Idul Fitri. Parlan, merupakan salah satu dari segelintir orang yang masih menggunakan kartu ucapan untuk memberikan ucapan selamat di hari raya. Saat diwawancarai di tempat itu, Senin (17/9), ia mengatakan, "Memberikan kartu ucapan sudah menjadi tradisi keluarga kami. Saya akan mengirimkan sebagian kartu kepada keluarga dan kerabat di kampung."
Sejumlah toko buku besar di Jakarta memang masih tetap menjual kartu ucapan itu. Seperti pantauan SP di toko buku Gramedia, di bilangan Blok M. Toko buku ini menjual berbagai jenis kartu ucapan selamat hari raya Idul Fitri, mulai dari yang berukuran kecil hingga yang besar dengan berbagai corak dan harga yang variatif.
Suhardi, staf bagian pembelian di toko buku Gramedia, mengakui adanya penurunan dalam penjualan kartu ucapan. Hal ini, disebabkan karena sarana komunikasi yang semakin canggih, membuat orang beralih memberikan ucapan dari media kartu ucapan ke telepon selular atau SMS yang lebih mudah, cepat dan murah.
Ia menambahkan, target penjualan tidak kepada perorangan lagi. "Sasaran kami saat ini adalah perusahaan atau instansi-instansi yang membeli dalam partai besar, bukan lagi perorangan," ujarnya sambil menambahkan, sekarang supplier kartu ucapan yang ada berkurang sekitar 60 persen. Semula 10 supplier sekarang tinggal empat.
Hal serupa juga terjadi di toko buku Gunung Agung di Blok M. Penjualannya juga menurun sekitar 15 persen tiap tahunnya. R Muchlas, Supervisor Stationery toko tersebut mengatakan, "Penjualan kartu ucapan kita menurun setiap tahun. Dari 5 supplier tinggal 3 kini."
Muchlas menambahkan, walaupun mengalami penurunan setiap tahunnya, kartu ucapan selalu ada di tiap hari raya. "Setiap tahunnya kami selalu menyediakan kartu ucapan. Karena, kartu ucapan sudah menjadi bagian dari konsep kami dalam penjualan setiap hari raya," katanya.
Masa jaya kartu ucapan ini telah habis. Awal tahun 1990-an, pengguna kartu ucapan sangat banyak. Hal ini diakui oleh produsen kartu ucapan Harvest. Penurunan penjualan sangat drastis, mulai dari penjualan ke toko-toko buku, sampai pedagang eceran. Dari tahun ke tahun penjualan kartu ucapan selalu me- nurun.
Lia, marketing Harvest mengatakan, dahulu kartu ucapan merupakan produk utama dari Harvest yang juga menyediakan alat-alat kelengkapan sekolah seperti: tas, map, folder, dan lainnya. Namun kini, kartu ucapan bukan lagi produk yang diandalkan. Penurunan penjualan ini, diakibatkan pengguna kartu tersebut kian hari semakin berkurang.
Ia juga mengakui, kalau target penjualan sekarang tidak lagi tertuju pada perorangan. Namun, kepada perusahaan yang notabanenya masih memerlukan kartu ucapan tersebut, untuk memberikan ucapan kepada karyawan ataupun rekan bisnis mereka.
Begitulah, roda zaman terus berputar. Kartu ucapan yang pernah amat populer, bahkan sampai membuat orang merasa ada yang kurang bila belum mengirim kartu ucapan saat menjelang hari raya, kini sudah nyaris terlupakan. Orang lebih senang mengirim ucapan menggunakan SMS, MMS, atau bahkan menelepon langsung.
Walaupun demikian, untuk sebagian orang, kartu ucapan tetap merupakan pilihan utama. Selain lebih personal karena kata-kata ucapannya dapat ditambah dengan tulisan tangan si pengirim, bagi penerima juga merasa lebih berkesan karena adanya usaha khusus yang dilakukan pengirim daripada hanya sekadar menekan-nekan jari pada tombol telepon seluler atau mengirim e-mail saja.
Kalau Anda, manakah yang Anda pilih? [ULM/B-8]