SUARA PEMBARUAN DAILY

Kapan Nasib Nelayan Berubah

Kapan ya..., nasib akan berubah. Bulan lalu gelombang pasang menghancurkan perahu, sekarang datang lagi ujian. Cuaca tidak bersahabat dan tingginya harga bahan bakar. Lalu setelah ini, apalagi ujian yang akan datang," gumam Gusrianto, nelayan di Purus Padang sembari menghisap sebatang rokok yang terselip di dua jarinya sembari menatap laut lepas dengan tatapan kosong, seakan hanyut dengan deburan ombak yang menggelegar.

Gusrianto merupakan bagian kecil dari gambaran nelayan yang berada di sepanjang Pantai Purus dan Pasie Nan Tigo Padang. Memang, dari dulu sampai sekarang, kehidupan para nelayan Kota Padang tak jauh dari masalah. Seakan garis kemiskinan telah menjadi takdir para nelayan di kawasan ini.

Sementara itu, di kawasan Pasie Nan Tigo, hal yang sama juga terasa. Siang, sekitar pukul 12.30 WIB di pantai Pasie Laweh, Kelurahan Pasie Nan Tigo, kelihatan lebih ramai daripada biasanya. "Beginilah kondisi kami. Kalau ombak besar, kami tidak bisa melaut. Apalagi saya sedang sakit, sehingga sudah lima bulan saya tidak melaut," kata Ismail, nelayan Pasie Nan Tigo kepada SP baru-baru ini.

Bapak tiga anak dan dua cucu ini mengatakan, kehidupan masyarakat di sekitar pantai selalu berada di bawah kemiskinan. Rumah Ismail yang ukuran rumah 4x7 meter, beratapkan rumbia, beralas semen kasar dan berdinding papan menegaskan gambaran kehidupan mereka. Kendati demikian, Ismail mengaku tetap mensyukuri nikmat yang diberikan.

"Saya hanya berharap, pemerintah benar-benar memikirkan nasib nelayan dengan mencarikan solusi untuk mengangkat kesejahteraan kami. Bantu kami dengan alat-alat pendukung untuk melaut. Selama ini kan bantuan hanya bersifat konsumtif, ke depannya bantuan dapat berupa alat yang produktif," katanya.

Hal yang sama juga dikatakan Mawi. Menurut lelaki paruh baya ini, mahalnya bahan bakar juga ditengarai menjadi pemicu merosotnya pendapatan para nelayan di Pasie Nan Tigo. Untuk mengurangi tingginya biaya operasional, sekarang ini nelayan terpaksa mencampur bensin dengan minyak tanah dan pelumas.

"Kami terpaksa mencampurnya dengan oli Mesran, sebanyak sepuluh liter setiap akan melaut, yang hanya sampai di sekitar Pulau Sawo (sekitar dua kilometer dari bibir pantai Pasie Nan Tigo). Pokoknya sekitar Rp 200.000-lah setiap melaut," katanya.

Di Kelurahan Pasie Nan Tigo ini, tercatat sekitar 634 warga miskin dari 10.192 jiwa yang bermukim. Sementara itu, sebanyak 133 anak mengalami putus sekolah. "Inilah nasib kami. Jadi, pemerintah tolong pikirkan hal ini," katanya.

Menurun Drastis

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Padang, Eyviet Nazmar mengaku telah terjadi penurunan produksi ikan di laut secara drastis. Penurunan mencapai 60 persen. Inilah yang menyebabkan penangkapan dan pendapatan nelayan turut menurun. Pemanasan global menjadi hantu. Saat ini produksi ikan di laut hanya 40 persen dari produksi sebelumnya," katanya.

Tidak hanya ikan biasa, tetapi ikan berkualitas ekspor seperti tuna pun turun. Saat ini tuna lebih banyak beredar di kepulauan Thailand. Sebenarnya, jumlah ikan itu secara riil tidak berkurang, hanya saja bermigrasi ke perairan lain yang tidak terlalu panas. Indonesia merupakan daerah tropis yang memiliki panas tinggi, sehingga jumlah ikan di laut Indonesia berkurang.

Mencermati kondisi tersebut, nelayan mesti dilengkapi teknologi untuk menangkap ikan agar jarak tangkap lebih jauh. "Jika tetap memakai perahu dayung, tentunya jarak tangkap dekat, sedangkan ikan sudah mulai berkurang. Untuk itu mereka mesti memiliki mesin agar dapat berlayar lebih jauh di tempat-tempat yang cukup banyak ikan," katanya.

Tahun lalu DKP, telah memberikan bantuan kepada nelayan 215 long tail (mesin, Red) kepada 8 kelompok nelayan. Pengembalian bantuan itu cukup bagus, sehingga sekarang telah menjadi 230 longtail. Berdasarkan pengetahuan nelayan, jumlah tangkapan ikan mereka meningkat karena jarak tangkap yang jauh ditambah bantuan rumpon untuk menarik ikan berkumpul. "Tahun ini, kita menambah bantuan 130 long tail lagi. Saat ini sedang proses tender," katanya.

Sebanyak 80 unit long tail berasal dari dana Anggaran Pen- dapatan dan Belanja Daerah (APBD), sedangkan sisanya bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemberian bantuan long tail akan diupayakan tuntas 2008, sehingga 2009 tidak ada lagi nelayan yang menggunakan perahu dayung. Jumlah nelayan Kota Padang yang belum mendapatkan bantuan long tail mencapai sekitar 300 nelayan.

Selain bantuan long tail, nelayan juga akan mendapatkan bantuan rumpon kembali. "Kita menyediakan 290 rumpon yang dibagi atas rumpon bagan, payau, dan rumpon long tail," katanya.

Penggunaan rumpon untuk menangkap ikan tersebut sangat dirasakan nelayan. Terbukti, ada sebagian nelayan yang membuat rumpon sendiri. Rumpon dari daun kelapa dan daun pohon pinang dinilai efektif, karena menyerupai habitat alami yang disenangi ikan untuk singgah dan berkumpul. Ikan menyangka, daun kelapa dan pohon pinang adalah akar-akar pohon tempat mereka berkumpul. [SP/Boy Surya Hamta]


Last modified: 28/8/07