
[JAKARTA] Cuaca yang sering berubah-ubah merupakan sarana terbaik berkembangnya virus flu burung dalam tubuh unggas, sehingga penyebarannya bisa lebih cepat. Dikatakan, jika iklim terus berubah secara drastis, kemungkinan unggas akan mudah terkena penyakit seperti flu burung dan akan berpengaruh buruk bagi manusia, karena manusia dapat terjangkit virus yang mematikan ini.
Hal tersebut dikemukakan Ketua Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (FBPI), Bayu Krisnamurthi. Menurut Bayu, strategi terbaik mengatasi flu burung adalah mencegah. Salah satunya dengan mencuci tangan, karena di samping virus flu burung yang memiliki sifat rentan, virus tersebut sangat mudah dibunuh dengan menggunakan sabun, desinfektan, alkohol, dan air panas di atas 70 derajat.
Bayu menambahkan, virus flu burung dapat mengakibatkan kematian hingga 80 persen. Aspek preventif sebagai perilaku hidup bersih ini sebagai tindak lanjut dari flu burung yang masih terus menyebar di Indonesia dan khususnya di Bali. Selain belum adanya obat yang dapat membunuh virus mematikan ini, mencuci tangan merupakan salah satu langkah efektif mematikan virus yang dikenal rentan ini.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL), Departemen Kesehatan, I Nyoman Kandun juga mengajak masyarakat untuk mencegah penyebaran virus flu burung lebih meluas lagi dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun. Usaha sosialisasi ini dilakukan di kantor di Kementerian Departemen Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (27/8) guna mengantisipasi iklim yang juga terus berubah.
Data dari Pusat Komunikasi Publik, Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes per 22 Agustus 2007 sudah terdapat 189 kasus flu burung, dan 84 di antaranya meninggal dunia setelah P (28) asal Banjar Batu Gaing, Baraban, Kediri, Tabanan Bali meninggal (21/8) di RSU Sanglah, Denpasar, Bali. [MAR/M-15]